SEJARAH DESAIN KURSI MODERN

Disarikan dari Buku MODERN CHAIRS karya Charlotte Fiell (1993)

Oleh Deny Willy Junaidy

Budaya duduk (sitting culture) dengan menggunakan fasilitas duduk (seating facility) seperti kursi mengandung berbagai peristiwa penting dalam peradaban manusia. Kursi memiliki makna yang lebih kompleks dibandingkan meja atau jenis perabot furnitur lainnya, hal ini disebabkan hubungan interaksi manusia dengan kursi secara fisikal, psikologis dan simbolik.

Dalam konteks desain kursi modern, transformasi desain dari era ke era merepresentasikan berbagai semangat zaman (zeitgeist) atas perubahan sosial-ekonomi dunia, revolusi ilmu, teknologi, simbol status dan kekuasaan, serta lahirnya gerakan maupun ideologi berkesenian (Art & Craft Movement, Memphis, De Stijl).

Modernisme mengajarkan manusia tentang konsep teritorialisasi privat dan
publik, dan kursi kemudian ditempatkan sebagai bagian dari teritorialisasi
tersebut. Tipologi, fungsi, dan langgam kursi adalah upaya memastikan suksesnya peran kursi sebagai artifak terhadap manusia, lingkungan (interior), dan isu.

Dalam buku ‘Modern Chairs’, Dr. Cristopher Dresser (1873) mendefinisikan kursi sbb : “A chair is a stool with a back-rest, and a stool is a board elevated from the ground by support.” Artinya, kursi merupakan fasilitas duduk dengan sandaran dan topangan ketinggian’. Sayangnya, definisi tersebut menjadi terlalu sederhana ketika melihat konsep-konsep yang terkandung dalam desain-desain kursi modern. Perkembangan seni, sains dan teknologi, disertai dengan tumbuhnya berbagai gerakan ideologi berpengaruh langsung terhadap kursi pada khususnya, dan bahkan disebut-sebut menjadi generasi baru seni yang terindustrialisasi. Berikut kita bahas beberapa kursi-kursi modern yang monumental.

KURSI THONET
Di era modernisme, kursi Thonet, merupakan gebrakan dalam industri furnitur. Teknik pelekukkan kayu solid (steam bending) pada tahun 1836 menjadi titik awal sejarah industrialisasi furnitur bersamaan dengan gerakan revolusi industri di belahan dunia lain. Adalah Michael Thonet, desainer furnitur kelahiran Austria yang mempatenkan teknik tersebut.
Setelah ia memperoleh hak paten dalam teknik pelekukan kayu, Ia menekankan preseden baru dalam konteks evolusi kursi modern, yakni eliminasi corak, penekanan material alami, kenyamanan, serta keindahan.

Ditandai oleh William Smith Williams, dalam judul ceramah kuliahnya tahun 1849 berjudul ‘Importance of the Study of Design’ yang berisi tentang adaptasi benda dengan kebutuhannya sebagai bentuk gejala lahirnya modernisme yang terus bergulir sejalan dengan aspirasi modernisme arsitektur ‘Less is more’, ‘Simplicity is beauty’, ‘Form follow function‘ serta ‘Reason is the first principle of all human work’. Konsep terwakilkan oleh karya-karya para modernis seperti Mies van der Rohe, Le Corbusier, Frank Lloyd Wright, dan tokoh sealiran lainnya.

Thonet, sebagai pemilik industri manufaktur furnitur ‘Gebruder Thonet’ menjadi ikon yang mewakili lahirnya produksi massal pertama di bidang manufaktur furnitur. Kursi Thonet Model No. 14 telah diproduksi sebanyak 40 juta unit antara tahun 1859 sampai 1914. Dengan sistematika proses fabrikasi yang serupa dengan era saat ini, dengan mempekerjakan tidak kurang dari 25.000 pegawai di 60 pabrik tersebar di jajaran Eropa.

IMG_0640-2.JPG
Kursi Thonet Model No. 14

Era berikutnya manufaktur furnitur semakin mengembangkan alat yang meniru pola kerja tangan. Kinerja pertukangan semakin bergeser menjadi kurang berarti. Sistem industrialisasi sangat efektif untuk memenuhi tuntutan kuantitas sedikit demi sedikit memupuk sentimen terhadap industrialisasi itu sendiri. Sentimen tersebut merupakan ideologi kebersamaan bagi para seniman dan ahli pertukangan yakni semangat Art and Craft Movement dipelopori oleh John Ruskin dan william Morris. Gerakan ini menghangat sebagai bentuk resistensi terhadap revolusi industri, sebuah semangat yang menitikberatkan manifestasi kriawan dan seniman agar lebih dihargai serta sebagai kontrol terhadap laju industrialisasi.

ERA ART AND CRAFT MOVEMENT
Art and Craft Movement sangat berpengaruh bagi beberapa sekolah seni dan desain selanjutnya. Glasgow School of Art di Inggris merupakan bagian sejarah gerakan ini, tokoh seperti Charles Rennie Mackintosh dengan karyanya Side Chair memberikan inspirasi besar bagi hidupnya gaya abstrak geometrik. Cita rasa abstrak geometrik ala Mackintosh masih mungkin diperoleh pada sentra furnitur tradisional di Semarang, Indonesia dengan sebutan gaya Semarangan.

IMG_0642.JPG
‘Side Chair’ karya Rennie Mackintosh

IMG_0641-0.JPG
‘Kursi Semarangan’ bergaya abstrak geometrik

‘SITZMASCHINE’ YANG MENGEJEK ART NOUVEAU
Sitzmaschine Model No. 670 seolah memperolok gaya Art Nouveau
Modernisme terus berusaha menegaskan eksistensinya, Josef Hoffman dalam karyanya Sitzmaschine Model No. 670 seolah memperolok gaya Art Nouveau dengan penampilan yang agak canggih pada eranya (canggih, karena dilengkapi dengan slot reclining sandaran). Diperkuat lagi dengan pernyataan sikap dari grup arsitek dan desainer modernis ‘The Deutsche Werkbund’ yang mengajukan redefinisi terhadap produk industri dalam sebuah wujud kesatuan seniman, industrialis, kriawan dalam menjunjung tinggi nilai yang lebih bermakna dalam desain. Salah seorang anggotanya, Adolf Loos menulis sebuah karya provokatif berjudul ‘Ornament und Verbrechen’ yang berarti penggunaan ornamen secara berlebihan merupakan kehinaan dan kejahatan. Selanjutnya terbit lagi, ‘Form ohne Ornament’ satu gambaran tentang industrialisasi berbasis hanya pada fungsi.

IMG_0643.JPG
Sitzmaschine Model No. 670 karya Josef Hoffman

Perkembangan industrialisasi dan manufaktur furnitur layak berterimakasih pada perkembangan gerakan-gerakan ideologis yang subur kala itu. Modernisme industrialisasi belum sama sekali menemui jati dirinya sebelum konsep unggul serta makna sejati dari modernisme itu sendiri dibangkitkan oleh ‘Red and Blue Chair’ karya. maestro Gerrit Rietveld. Kursi tersebut memberikan catatan utama terhadap faham modernisme. Kursi Retvield bukan meramaikan selebrasi material baru atau teknik konstruksi baru, melainkan menegaskan sebuah konsekuensi modernisme. Ia mempertanyakan perlunya kebiasaan jaring dan pelapis, meminimumkan bahan dan material, serta menggunakan potongan-potongan kayu dengan ukuran selayaknya serta sambungan yang ringkas sebagai jawaban sekaligus sindiran terhadap modernisme dan industrialisasi yang tetap berpijak pada teknik kria konvensional. Artinya, kesederhanaan dalam konstruksi memudahkan produk tersebut untuk diproduksi secara massal dalam skala besar. Tampak visualnya yang ringan juga mensyaratkan bahwa sebuah kursi tidak perlu berpenampilan berat, baik secara material maupun visual yang sering diasosiasikan dengan biaya tinggi. Begitu pula dengan beberapa pilihan warna primer, semua aspek-aspek tadi merupakan kesimpulan terhadap makna rasionalisasi desain. Walau bentuk kursi yang cenderung avant-garde tersebut tidak sedap dipandang, namun ia ada sebagai kompas modernisme. Sehingga para publik di era tersebut beranggapan, inilah definisi seni baru setelah kubisme, abstrakisme dan dadaisme.

IMG_0644.JPG
‘Red and Blue Chair’ karya Gerrit Rietveld

ERA TEKNOLOGI COR BESI, CUSHION DAN UPHOLSTER
Tradisi perdebatan di era tersebut semakin menuju hirukpikuk ideologis dari pada teknis. ‘Red and blue chair’ kemudian dipamerkan di Bauhaus—sekolah desain terkemuka—pada tahun 1923 dan menjadi ikon nyata visi utopia dari De-Stijl movement, bahkan mendapat cap sebagai kursi pertama yang berekspresi ideologi modern secara radikal. De-Stijl sebagai gerakan puritan seni dan desain, berobsesi mempurifikasi ide tentang seni dan desain dengan hanya menggandeng kubisme abstrak, neo-plastisisme yang dalam citranya berusaha mencari makna honesty dan beauty hingga membawa harmoni dan pencerahan bagi manusia.

Perkembangan selanjutnya terlihat mengalami percepatan, Sekolah seni dan desain Bauhaus diwakili oleh Mies dan Marcel Breuer mengusung Barcelona chair dan Wassily chair, yang juga jadi bahan olok-olokan. Dimana Bauhaus yang merujuk terhadap konsep machine-made ternyata melalui kursi Wassily chair konsistensi tersebut gugur karena proses produksi erat dengan pertukangan (hand-made). Hal ini menjadi sebuah kesimpulan bersama bahwa produksi masinal/fabrikasi yang sebenar-benarnya baru layak apabila mekanisasi-standarisasi telah cukup difahami.

IMG_0645.JPG
Wassily Club Chair no. B3 1925, karya Marcel Breuer

Pada eksibisi Weissenhof, di Jerman, Mart Stam memamerkan pengembangan produk yang pernah sebelumnya ia lemparkan sebagai sebuah gagasan saja, yakni kursi dengan sistem cantilever, sebuah sistem duduk menggantung. Dalam pameran yang sama Mies mengekor dengan idea yang lebih baik, Model No. MR10, dengan material baja tubular. Seterusnya dikuti oleh Cesca karya Breuer, yang memperlihatkan varian dari satu ide yang sama terhadap cantilevered chair. Ide-ide yang lahir melalui sekolah Bauhaus mengarah pada gaya internasional, para dewa-dewa modernisme asal Baushaus tersebut akhirnya bermigrasi ke Amerika dan menularkan faham mereka pada arsitek generasi selanjutnya.

IMG_0646.JPG
Barcelona Chair karya Mies van der Rohe

IMG_0647.JPG
Weissenhorf no. MR. 10 Karya Mies van der Rohe

Sang arsitek legendaris, Le Corbusier berkolaborasi dengan beberapa desainer Perancis, juga turut mencuri perhatian dengan karyanya Gran Confort. Popularitas kursi yang satu ini akrab kita temui dalam film-film produksi Hollywood.

IMG_0695.JPG
Gran Confort no. LC3 1928 Karya Le Corbusier

KURSI-KURSI NEGERI SKANDINAVIA
Lalu kemana para desainer asal negeri Skandinavia yang di era kini dikenal dengan kesempurnaan detail dan finishingnya? Diwakili oleh Alvar Aalto, Bruno Mathsson, Eliel Saarinen, mereka terspesialisasi dalam ciri kayu alami dan bentuk organiknya. Mereka kuat dengan kemampuan mengolah kelenturan kayu, seperti pada Paimio chair. Eliel Saarinen kemudian beremigrasi ke Amerika dan berkesempatan untuk memimpin Cranbrook Academy of Arts, sebuah pendidikan desain unggulan pertama di Amerika kala itu.

IMG_0648.JPG
Paimio Chair no. 41 1931/1932 karya Alvar Aalto

Perang Dunia ke-II memberikan dampak besar bagi industri furnitur, khususnya di Amerika. Peningkatan mutu riset di bidang industri pesawat terbang meningkat secara dramatis dan kemudian terkait dengan industri. Desain dan para manufaktur mendapat kesempatan untuk ikut menerapkan berbagai macam teknologi hasil riset PD ke –II kala itu.

Ilmu interdisipliner benama Ergonomi karya Kaare Klint (1917) yang diperuntukkan bagi militer Amerika dahulu masih prematur, kini berkembang menjadi Human Factor Engineering. Oleh Eames bersaudara konsep-konsep ergonomi tersebut mulai dipraktekkan dan diadopsi, bahkan untuk beberapa produk tertentu dengan teknik pelekukkan 3 dimensional dikonsumsi untuk Angkatan Laut Amerika.

Ketika PD ke-II usai, laju pertumbuhan ekonomi Amerika semakin meningkat sehingga berakibat pada meningkatnya permintaan pasar terhadap furnitur domestik. Ini memberikan kesempatan bagi sebagian arsitek dan desainer untuk memperkaya kemampuannya dengan bereksperimen dalam karya-karya selanjutnya. Seperti Herman Miller and Knoll International, yang sukses hingga mampu memproduksi furnitur modern berkualitas berbiaya murah yang revolusioner.

ERA TEKNOLOGI PLASTIK DAN ERGONOMIC-CONCERN
Ditahun 1950 ditunjang serta dipengaruhi pengaruh Skandinavia terhadap modernisme dan ergonomi serta perkembangan teknologi khususnya industri plastik, Kursi menjadi kompak dalam desain. Dan tidak seperti gelombang modernisme sebelumnya yang mengusung pendekatan terhadap geometrik formalisme maka era 1950 desainer bersukacita dengan kemungkinan mengeksplorasi kontur organik antropometri manusia sebagai pengguna. Seiring dengan pengaruh modernisme Skandinavia, pertumbuhan ergonomi, dan kemajuan teknologi maka bentuk furnitur mulai memasuki era baru yang signifikan yaitu ditandai dengan penelitian intensif Eero Sarinen dan Charles Eames yang berhasil mengembangkan kursi berbahan fibreglass-reinforced plastic. Material yang menunjang bentuk organic sesulit apapun seperti pada Dining Armchair Rod (DAR).

IMG_0649.JPG
Dining Armchair Rod (DAR) karya Charles and Ray Eames

Kemudian dilanjutkan dengan penelitian potensi bahan foam rubber untuk lapisan furnitur oleh desainer Italy, Marco Zanuso yang dianggap sebagai kepercayaan diri baru terhadap ekspresi kursi kala itu. Gubahan masa kursi juga menyerupai karya seni patung adaptif terhadap lekuk tubuh manusia mencirikan titik tanda interior modern.

IMG_0650.JPG
Antropus Chair Karya Marco Zanuso

Riset akseleratif ini memunculkan nama-nama diantaranya adalah Cassina dan Zanotta. Perburuan terhadap kebaharuan definisi duduk memberikan hasil yakni teknik injeksi plastik (injection-moulded plastics) seperti Polypropylene dan ABS, yang langsung diterapkan pertamakali pada produksi furnitur yang merupakan contoh sinergi riset teknologi dan seni di era modern. Ditandai oleh produk kursi karya Marco Zanuso dan Joe Colombo yang berkonsentrasi terhadap material baru plastik sebagai wujud desain kursi modern. Contoh yang amat menarik dapat dilihat juga melalui karya Verner Panton berjudul Stacking Chair dengan sistem kantilever.

IMG_0653.JPG
Stacking Chair karya Verner Panton

ERA POP DAN DURABLE PRODUCTS
Tuntutan-tuntutan selanjutnya pasca Perang Dunia ke-II adalah pemenuhan skala besar produk murah yang dapat di daur ulang (low-cost durable products) untuk kebutuhan sebesar-besarnya. Strategi pemasaran diarahkan menuju pada mutu, efisiensi biaya, universalitas desain. Akibatnya makna ruang dalam arsitektur interior menjadi mengecil karena tujuan multi fungsi atau universalitas desain, dimana fungsi kursi untuk ruang makan, kursi kerja dan ruang santai diperankan oleh tipe kursi yang serupa.

Di era 60-an ketika budaya pop menjadi trend, praktis berefek pula bagi ideologi dan faham baru dalam dunia industri furnitur. Status sebuah kursi diwadahi oleh para avant-garde, dipersepsi serupa menjadi produk sekali pakai/berumur pendek sebagai tekanan gejala konsumerisme yang berfaham bahwa konsumsi tinggi dapat meningkatkan produktivitas dan juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Oleh sebagian tokoh modernisme hal tersebut merupakan short-lived gimmick, bahwa furnitur diasosiasikan sebagai benda pakai permanen dan mahal hingga menjadi perdebatan mereka.

Seterusnya, furnitur tidak lagi dipandang searah sebagai kebutuhan dasar, melainkan juga sebagai pesan dan life-style yang senantiasa cenderung berubah dengan cepat. Sehingga seperti diwakili oleh Peter Murdoch dan Peter Raacke menyikapi kenyataan tersebut dengan melahirkan generasi baru furnitur berbahan cardboard/kardus.

Dan pola kepraktisan lainnya menjadi buah dari semangat konsumerisme ini, contoh lainnya sistem flat-pack dan knock-down yang hingga saat ini punya nilai yang amat strategis terhadap potensi pasarnya dengan merujuk produk-produk asal fabrikan IKEA, Swedia.

Dipicu oleh maraknya suplemen-suplemen majalah berwarna era 60-an, ketegangan booming media yang menyimpangsiurkan segala hal merupakan bentuk kebebasan media yang menjadi-jadi. media promosi seperti iklan yang meluas di Eropa dan Amerika telah menggiring konsumen mengkonsumsi apa yang mereka sukai bukan sesuatu yang mereka butuhkan. Sehingga budaya mengkonsumsi produk-produk furnitur populer yang murah berumur pendek menjadi dominan. Hal ini dianggap sebagai budaya manipulatif media. Kecemasan kolektif dirasakan oleh para industrialis, mereka bereaksi terhadap hal ini guna menentang kemapanan konsumsi budaya pop tesebut. Mereka sadar, diperlukan riset dan pengembangan (R&D) yang beritikad merombak tatanan ini, hingga mulailah bermunculan pabrik-pabrik ide (concept factories) yang dibiayai oleh para industrialis untuk meneliti dan mengembangkan identitas ‘pola duduk baru’ bagi konsumen.

IMG_0651-0.JPG
Child’s Chair karya Peter Murdoch

IMG_0652.JPG
Papp Chair karya Peter Raacke

ERA RASIONALISASI DAN ESTETIKA-MESIN
Krisis minyak dipertengahan tahun 70-an memukul balik popularitas budaya pop konsumerisme. Resesi global tahun 1970 kembali memberi kesempatan kepada para desainer beserta industri untuk memproduksi karya yang sesuai dengan realita ekonomi. Pasar produk kursi berbelok lagi menjadi produk-produk rasional yang memandang kursi sebagai perlengkapan duduk bukan lagi sekedar gaya ataupun trend. Gambaran dari rasionalisme gerakan modern ini ditampilkan melalui kursi karya Rodney Kinsman, Omkstakchair yang disebut-sebut sebagai ekspresi Machine Aesthetic.

IMG_0654.JPG
Omkstak Chair karya Rodney Kinsman

ERA POST-MODERNISME
Namun, tampaknya aspirasi baru mulai terpicu dengan tumbuhnya beberapa grup-grup desain asal Italy yang mengusung ide aspirasi Utopia. Satu sinyalemen lahirnya posmodernisme, grup tersebut merujuk kepada kreativitas spontanitas dan pluralisme filosofis, dimana karya dipandang dengan tanpa basa-basi. Mereka memobilisasi grup anti desain. Studio Alchimia dipimpin Alessandro Mendini me-redesain beberapa karya desainer furnitur sebelumnya dengan mengimbuhkan dekorasi atau ornamen untuk mencirikan matinya era desain modern produk tersebut memang out of context dalam hakikat komersial sehingga lebih merupakan ikon yang memperolok berakhirnya masa modern, pada tahun 1981, studio desain Memphis mempromosikan paradigma anti desain menjadi lebih hangat. Gaya yang sering disebut Memphis ini adalah kursi Mickey Meets Sheraton Chairs.

IMG_0655.JPG
Proust’s Armchair karya Alesandro Mendini

ERA GREEN DESIGN
Di pertengahan 1980, pluralisme desain diperkaya dengan karya-karya desainer muda yang menyertakan kesan-kesan atau kiasan dalam produk mereka seperti karya-karya Ron Arad, Tom Gibson serta Danny lane. Desainer-desainer muda tersebut berkreasi secara independen tanpa melibatkan industri sehingga lebih persis sebagai karya seni fungsional. Masih diera 80-an produk-produk furnitur tumbuh marak mengikuti irama fashion, dan bukan pada pencarian terhadap kebutuhan. Baru kemudian pada 1990 kesempurnaan desain yang rasional baru benar-benar terjadi didukung oleh meningkatnya pemahaman konsumen tentang estetika, stabilitas ekonomi dunia, dan budaya riset yang sinergis dengan seni maka lahirlah karya-karya desainer muda yang unggul sebagai sebuah karya estetik maupun produk yang unggul dipasaran contohnya adalah Philippe Starck dengan Louis 20 chairnya dan juga Alfred Houman dengan Ensamble Chair-nya.

Louis 20 Chair karya Philippe Starck di era 90-an merupakan State of the Art sebuah kursi yang seirama dengan isu penting dijamannya, yakni bagaimana manusia harus bersahabat dengan lingkungan, kursi-kursi karya desainer muda tadi memiliki perhatian terhadap lingkungan dengan cara memanfaatkan material-material yang diproses dengan tidak merugikan atau merusak lingkungan. Era ini desainer berupaya beretika dalam karya-karyanya (The Green Ethic of Design).

IMG_0656.JPG
Louis 20 Chair karya Philippe Starck

PENGRAJIN UKIR KAYU DI INGGRIS DAN INDONESIA

Oleh: Deny Willy
(Tulisan versi ilmiah akan segera terbit pada the Journal of Design Research (JDR))

Tuntas sudah tiga bulan kegiatan penelitian saya di kota kecil High Wycombe, area pedesaan sebelah barat kota London, tempat kelahiran kursi legendaris ‘English Windsor‘ yang dahulu sangat populer dan diekspor besar-besaran ke berbagai penjuru dunia. Saya berperan sebagai Visiting Research Fellow di Furniture Research Group, Buckinghamshire New University, UK. Universitas berjuluk Bucks Uni ini relatif kecil, namun terkenal dengan jurusan Furniture Design, termasuk Chair Heritage Conservation. Judul penelitiannya sbb: “Characteristics of Conceptual Ideation Process of Master Craftsmen: A case study of rural crafts industry in Indonesia and UK.” Penelitian ini mengkaji karakteristik konseptualisasi kreatif para pengrajin ahli dan pembuat furnitur. Penelitian ini di-supervisi oleh dua profesor masing-masing di bidang Furniture Conservation dan bidang Kehutanan.

Penelitian ini menggunakan metode ‘Think-Aloud Protocol’ pada tahap konseptualisasi awal mendesain sebuah produk (the early stage of idea generation). Kami mengumpulkan verbalisasi/ucapan yang mereka utarakan selama proses berpikir (Think-Aloud Protocol) yang selanjutnya kata-kata tersebut dianalisis dengan menggunakan Network Analysis.

Para pengrajin ahli di UK yang menjadi subyek penelitian saya adalah orang-orang hebat, karya-karya mereka dikonsumsi oleh Ratu Inggris, Perdana Menteri dan selebriti terkenal (Sir Elton John, Mel A, Mel B (Spice girls), Ralph Lauren, dll). Sedangkan di Indonesia, pengrajin ahli yang menjadi subyek merupakan pengrajin-pengrajin empu di Jepara, Bali. Sayangnya berbeda situasi, kondisi pengrajin ahli di Indonesia hanya sebagai ahli ukir upahan.

KARYA PENGRAJIN INDONESIA:

IMG_0996Karya pengrajin ukir Kkyu Bali (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_1009Karya pengrajin ukir kayu Bali (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_1007Karya pengrajin ukir kayu Bali (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_0987Karya pengrajin ukir Kayu Bali (Photo courtesy: Deny Willy)

DSCN0144Karya pengrajin ukir kayu Jepara (Photo courtesy: Andar Bagus)

DSCN0146Karya pengrajin ukir kayu Jepara (Photo courtesy: Andar Bagus)

DSCN0120Karya pengrajin ukir kayu Jepara (Photo courtesy: Andar Bagus)

KARYA PENGRAJIN INGGRIS:

IMG_7997 Pengambilan data dengan metode Think Aloud-Protocol terhadap subyek pengrajin ahli ukir (master craftsman) (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_7951 Suasana workshop ukir kayu di pedesaan Wooburn Green, Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_7957Karya pengrajin ukir kayu pedesaan Wooburn Green, Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy) IMG_7952Suasana workshop ukir kayu di pedesaan Wooburn Green, Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

llfKarya pengrajin ukir kayu pedesaan Wooburn Green, Buckinghamshire, UK (Lilyfee)

IMG_7961Karya ukir kayu dari pengrajin di Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_7962Karya ukir kayu dari pengrajin di Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy) IMG_7981Sesi foto bersama ahli bubut kayu di Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

pc01Pengambilan data dengan metode Think Aloud Protocol bersama craftsman dan seniman kayu di Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_7932Pengambilan data dengan metode Think Aloud Protocol bersama pengrajin ahli di High Wycombe, Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy) IMG_7933Karya ukir kayu pengrajin di High Wycombe, Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

Kesimpulan
Singkatnya, kami menyimpulkan bahwa pada tahap sangat awal dari generasi ide (idea generation), nampaknya, para pengrajin ahli mengalami disonansi kognitif untuk mempertahankan keyakinan konservatif mereka (beliefs). Penelitian ini mengungkap struktur kognitif sbb:

  • Pengrajin Indonesia dipengaruhi oleh mindset tentang Atribut-Obyek tentang Rationale and Mastery yang men-stimulasi pemikiran PRAGMATIS.
  • pengrajin Inggris kuat mempertimbangkan Atribut-Obyek yang menekankan Wisdom dan Passionate yang men-stimulasi pemikiran yang KAKU/RIGOROUS.

Baik pola pikir PRAGMATIS dan KAKU, keduanya sama-sama dapat menciptakan hambatan dan juga potensi dalam proses kreatif. Akhirnya, penelitian ini dapat menjadi sumberdaya pengetahuan kognisi untuk pengembangan pendidikan desain bagi masyarakat tradisional yang memegang teguh prinsip tradisi dan kepercayaan.

Con Sti

Con Sti2

Con Sti3

Con Sti4 Catatan Kaki (1).
Sepanjang hidup saya menyaksikan kemahiran ukir para empu di Indonesia, membuat saya merinding. Betapa hebatnya kemahiran lokal bangsa ini. Keyakinan ini semakin kuat setelah saya menyaksikan langsung, serta bertemu dengan para pengrajin ahli di Inggris. Kerumitan karya pengrajin lokal dari Indonesia betul-betul tiada banding, sebagaimana diucapkan oleh pengrajin ahli Inggris.
Ada cerita lain, beberapa tahun lalu belasan ahli ukir dari Malaysia belajar ukir di Indonesia untuk jangka waktu yang cukup panjang. Kebetulan, saya adalah koordinator program tersebut. Satu yang selalu saya ingat komentar salah seorang dari mereka: “Bersyukur kami pada pemerintah kami (pemerintah Malaysia), meski kemampuan tertinggal dengan Indonesia, tapi pemerintah mengurus kami dengan baik.” Terucap spontan pada saat ia melihat tempat tinggal berupa bedeng reyot yang ternyata hunian ahli ukir Jepara yang dianggap Empu.

Catatan Kaki (2)
The Windsor Chair adalah kursi yang khas dengan alas dudukan dari kayu solid, dimana kaki dan sandaran yang telah dibubut ditancapkan pada bidang alas dudukan yang telah dilubangi. Alas dudukan adalah konstruksi utama yang menjadi sumbu dari rangka kaki dan sandaran punggung, kekhasan dari kursi Windsor. Ciri lainnya adalah dudukan bagian depan dibentuk sedikit menyerupai pelana kuda.
Demikian pesatnya pertumbuhan industri kursi Windsor era 1860-1930an, membuat kota kecil High Wycombe berjuluk ibu kota dunia untuk industri kursi. Berikut adalah foto tua menyambut kedatangan Ratu Victoria ke kota kecil tersebut (Chair Arch to commemorate Queen Victoria’s Jubilee, 1877), disambut dengan gerbang bertumpuk ratusan kursi, dan kondisi foto tahun 2014.

Windsor

Kursi Windsor: http://www.windsorchairresources.com/c-harter.html

chair archBangunan gerbang dari tumpukan Kursi untuk menyambut kedatangan Ratu Victoria, sebagai simbol kesuksesan Windsor chair dari daerah High Wycombe, Buckinghamshire.

hwKondisi terkini dengan sudut pandang yang kurang lebih serupa, High Wycombe, Buckinghamshire (2014).

Acknowledgement:
– Penelitian ini didanai The Off-Campus Research Grant – JAIST
– Prof. Jake Kaner (Bucks Uni), Prof. Florin Ioras (Bucks Uni), Prof. Yukari Nagai (JAIST)

MADE IN CHINA or SERVICED IN CHINA?

A Short report on Seminar on Small and Medium Enterprises Development for Developing Countries. Ministry of Commerce of the People’s Republic of China

Oleh Deny Willy

Perkembangan Ekonomi China

Dibalik kemajuan ekonomi China, ternyata mereka sendiri sedang bingung karena import China ternyata lebih tinggi dari ekspornya, kenyataan ini sebetulnya bukan fakta baru, karena mereka memposisikan diri sebagai negara dengan production-based, maka resiko ini sudah dapat diduga. Oleh karenanya China pun sedang mempersiapkan take off dari Made in China menjadi Serviced in China. Rencana besar masa depan China yang ingin bergeser dari kelas pekerja menjadi sejajar dengan negara maju, kedepan China akan sejajar dengan dunia barat dengan yang kental dengan knowledge-based-nya dimana pada saatnya China akan dikenal dengan “Invented in China”

Selain menyadari pentingnya project financing dan guarantee system pemerintah China juga menaruh perhatian luar biasa terhadap Innovation Service Platform & System atau R&D Center yang juga menjadi bagian kunci utama strategi menggenjot pembangunan ekonomi melalui SMEs. Banyak sudah upaya yang dilakukan oleh pemerintah China dalam hal tersebut, saya sebutkan saja secara acak:

  1. Memperkuat lembaga riset atau government think-tank tentang SMEs yaitu Academic of Social Sciences, yg membantu pemerintah meriset pasar, product development, dls.Think tank yang menyiapkan strategi dan rencana pengembangan kota-kota andalan dalam Specialized Economic Town (SET), pengembangan sistem klustering hingga ASEAN+3 Countries. Saya jadi teringat ketika belajar One Village One Product (OVOP) di Jepang tahun lalu, boleh dibilang SET adalah Advanced-OVOP ver 2.00, sebuah kota yang mengidentifikasi diri menghasilkan produk-produk khusus. (termasuk obeng-obeng murah, Rolex dan Mount Blanc di emperan pasar kaget Gasibu Bandung). Berbeda dengan SET, kalau OVOP di-driven sama para champions daerah (tokoh yg benenar-benar ulet) lewat ‘movement‘, gerakan idealisme yang betul-betul natural alias kesadaran untuk membangun dan memajukan daerah. Sedangkan kalau di Ningbo, SET dibangun, di-encourage dan diintervensi pemerintah lokal.  40% total suplai dasi di dunia dari kota berkategori SET ini (Ningbo). SET di-endorse dan intervensi pemerintah lokal, jadi para retired dan professor yang sudah kelar masa tugasnya didorong bikin usaha, kalau satu usaha sudah jalan mantap, lanjut bikin yang baru.
  2. Pemerintah China sangat concerned dengan Project Financing, intinya kuantitas dan kuantitas, jadi bank dan lembaga pembiayaan, guarantee body termasuk para kontraktor/pelaksana mendapatkan insentif pajak, dan kemudahan dls dari pemerintah secara khusus, apalagi project dengan labour intensive dan capital intensive. Pemerintah provinsi dan daerah mendapatkan berbagai reward dari pemerintah bila menghasilkan banyak project.
  3. Pemerintah bikin beberapa R&D center di pemerintahan daerah, untuk boosting up their project quantity.
  4. Sosialisasi jargon baru Serviced in China dengan slogan ‘10+100+1000’ yakni outsourcing intermediary service, misal perbankan, investment agency, R&D center dls, yang kira-kira saya tangkap menyiapkan 10 outsourced major overseas company dibangun di China, terus terbangun 100 Supporting Company, dan tercipta 1000 projects (keyword: China dapat ilmu service dan dapat proyek).
  5. Para profesor dan profesional yang sudah retired juga diencourage oleh pemerintah untuk menjalankan State-Own Enterprise (SOE) walau voluntarily tapi China tidak mau tenaga-tenaga bagus tersebut berhenti berkarya, beberapa perusahaan yang telah maju kemudian dilepas dan Profesor atau profesional tersebut pindah lagi untuk merintis dan memajukan perusahaan yang lainnya.
  6. Stimulus pemerintah China untuk membantu SMEs adalah:
    1. Start-up SMEs (registered) tidak perlu bayar pajak 1 sd 2 tahun pertama.
    2. Income Tax perusahaan dibedakan (roughly):

mikro:         3%
menengah: 17%
besar:         20% dan 25%
juga dilihat dari apakah perusahaan tersebut basisnya high technology atau bukan

c.   pemerintah China juga siapkan:
– Promotion & management yang berorientasi pada listing/IPO di Bursa
– Training SDM gratis
– Technology Inovation training
– Overseas bidding

– dan masih banyak lagi
d.  Ada juga special Fund untuk start-up fund, development fund, dll.
e.  Pajak sangat customized, tidak pukul rata.

Pada saat krisis ekonomi 2008, China juga buat strategi stimulus khususnya tax exemption (keringanan pajak), pengusaha boleh delay social securities fund, dan bagi perusahaan yang tidak sanggup bayar karyawan, melalui dana social securities fund pemerintah mensubsidi!… dan tentu stimulus pengurangan pajak.

Strategi mengatasi krisis lumayan berbeda dengan  di Indonesia waktu krisis Ekonomi 2008, kalau di Indonesia kelihatannya lebih makro policy-nya.

Perlu di ketahui pula bahwa standar/skala Usaha Kecil & Menengah di  masing-masing negara tentu akan berbeda.  Skala Small dan Medium Enterprises di China juga jauh berbeda dengan di Indonesia, kategori untuk Usaha Kecil (Small) jumlah employee max 300, capital +/- 3 milyar rupiah, dan Sales/tahun +/- 30 milyar.

Factory Visit

Kami sangat beruntung mendapatkan kesempatan mengunjungi kota-kota unggulan atau kota industri di China, Ningbo salah salah satunya. Ningbo merupakan kota yang terletak di sebelah timur RRC.  Kota ini merupakan kota industri Tiongkok, dan salah satu yang tertua. Sejarahnya dapat ditarik ke 7000 tahun yang lalu. Kota mensuplai 40% dasi di dunia, topi, jam tangan, sepatu dls. Jadi kota ini memproduksi berbagai macam produk dari produk seperti topi hingga peralatan electronic, home appliances, dls.

Salah satu factory visit kita di Ningbo adalah SMAL Industry adalah salah satu factory yang kita kunjungi, dari sini saya bisa lihat proses pembuatan barang-barang elektronik yang dikerjakan secara cepat dan (maaf) ringkih-ringkihnya kelihatan. Saya sering beli produk china yang murah-murah, bisanya di beberapa komponen sambungan (joinery system) suka dol, aus atau mudah lepas). Nah ketika lihat ini jadi sadar betul, mutu material, konstruksi rangkaian, jelas ringkih. Salah satunya saya coba pegang dan cek kekuatan komponen plat pada produk pemanggang roti wah memang rasanya teralalu tipis platnya, dan ketika dirangkaikan, mudah sekali terlepas. Tapi dari presentasi sebelumnya dapat disimpulkan bahwa, produk-produk ini memiliki pasarnya sendiri.

Yuyao, merupakan kota lain yang kita kunjungi, Yuyao adalah kota no. 10 dari top 100 cities and towns yang menyumbang GDP di China secara signifikan. Kota ini juga dikenal sebagai China Plastic City, karena perdagangan bahan baku plastik di dunia ada di kota ini, ribuan papan reklame usaha dagang bahan plastik seperti ABS, PU, dls bertebaran di seluruh kota.

City Tour

Selain lecture, dan field visit kita juga berkesempatan mengunjungi Museum, selain belajar tentang industri kecil, menengah dan clusternya (SMEs, Industrial Cluster dan Specialized-Economic Town) kita juga diajak mengunjungi Museum Sutra di Hangzhou, dari sini bisa membayangkan jalur perdagangan masa lampau yang terkenal yakni Jalur Sutra (The Great Silk Road) merupakan alur perdagangan para pedagang sejak abad ke-2 sebelum Masehi sampai dengan abad 16 Masehi. Jalur yang sangat terkenal ini menghubungkan Cina dan Kerajaan Romawi sepanjang 7.000 kilometer lebih. Dinamakan jalur sutra karena barang utama yang diperdagangkan lewat jalur ini awalnya adalah sutra Cina. Namun seiring waktu barang yang diperdagangkan berkembang perhiasan, emas, besi, dan lainnya. yang menghubungkan perdagangan trans-asia dan eropa.

Selanjutnya kita mengunjungi situs penggalian arkeologi Situs Hemudu di teluk Hangzhou, provinsi Zhejiang yang berumur 7000 tahun. Asal usul bangsa China dapat diliat disini, bagaimana teknologi mereka yang cukup maju dibidang pertanian. Sejak ribuan tahun lalu.

Selain kunjungan tersebut kami berkesempatan mengunjungi situs wisata lain beberapa diantaranya adalah Beijing Olympic Park 2008 yang dikenal dengan Bird’s Nest Park dan juga Badaling/The Great Walls dan The Forbidden City.

Ekonomi Luar Negeri

Foreign Direct Investment (FDI) dari China ke berbagai negara di dunia menjadi salah satu bagian yang paling mereka banggakan. Beribu proyek dengan nilai investasi besar mereka kerjakan untuk pembangunan infrastruktur di berbagai belahan dunia, termasuk didalamnya pembangunan Jembatan Suramadu.

Direktur FDI, dari Ministry of Commerce menyampaikan bahwa “Proyek dan mimpi besar Indonesia selanjutnya adalah pembangunan jembatan Sumatera-Jawa, dan ia berujar “semoga bisa bekerjasama lagi dengan China kedepan”… kalau bisa sih jangan berhutang lagi… 😀

Demikian cerita hangat dari saya…  Nihao!!

SEJARAH AWAL PERDAGANGAN INTERNASIONAL KURSI ROTAN

‘The Early Development of English Rattan Seated Chairs’
(karya Dr. Andrew J. Cookson & Prof. Ishimura Shinnichi)
disarikan oleh Deny Willy

Junaidy, D. W. (2011). Sejarah Singkat Awal Perdagangan Kursi Rotan Internasional, (A research of Andrew J. Cookson & Ishimura Shinnichi). Rattan Icon Magazine, Vol. 2.

Menjadi mahasiswa riset (kenkyuusei) di Lab. Sejarah dan Budaya Desain di Kyushu University, Jepang dibawah bimbingan professor Ishimura Shinnichi, pakar sejarah desain furnitur dan kerajinan menjadi pengalaman sangat berharga. Saya diminta memberikan masukan bagi penelitian seorang mahasiswa doktoral yang juga historian furnitur. Penelitian disertasi  Andrew J. Cookson tentang ‘The Early Development of English Rattan Seated Chairs’ yang dilakukan dengan observasi ke beberapa museum di Cina, Jepang, Indonesia, Inggris dan Belanda. Saya ikut menyaksikan bagaimana Ia berjuang keras dengan berbagai literatur kuno berkarakter kanji Cina dan Jepang dalam menghimpun data, dan pada akhirnya, sisi lain dari penelitian tersebut mencatat kronologi awal industrialisasi rotan di Hindia Timur termasuk di Indonesia.

Periode awal aplikasi anyaman rotan

Pada satu catatan tentang ekskavasi di Provinsi Henan, Cina dituliskan temuan berupa ba jiao kong yan wen (八角孔眼纹) atau pola anyaman 6 arah (6-way pattern/diamond) menggunakan material menyerupai bambu yang tercetak dengan baik pada artefak gerabah dari era dinasti Shang (1766-1050 SM), disebutkan bahwa teknik menganyam yang tercetak pada artefak tersebut membuktikan bagaimana teknik ini telah dikuasai dengan baik oleh bangsa Cina. Walau belum tersedia bukti piktorial terhadap aplikasi pola anyaman 6 arah sebagai alas duduk pada era tersebut, namun temuan tersebut menjadi indikasi bahwa anyaman pola 6 arah dari Cina menjadi satu-satunya jenis anyaman yang diadopsi Eropa pada periode awal perdagangan internasional kursi dengan anyaman rotan (Gambar1.)

Image

Melalui sebuah literatur, anyaman rotan dalam konteks alas dudukan juga telah ada sejak Dinasti Liao (916-1125) dalam puisi Sushi (蘇軾) dimana pada salah satu baitnya tertulis bahwa si penulis terbaring diatas tempat tidur dengan anyaman rotan. Bukti-bukti lainnya tentang awal mula anyaman rotan dituliskan pada buku instruksi manual ahli kayu Cina yang terkenal Lu Ban Jing (魯班經) tentang teknik anyaman rotan yang dililitkan pada struktur rangka atap tempat tidur.

Cukup menarik, Jepang, dimana bahan baku rotan bukan merupakan potensi sumberdaya alamnya justeru menjaga dengan baik contoh-contoh awal artefak kursi dengan dudukan anyaman rotan dengan palang sandar bergaya torii-gate jepang, artefak kursi berusia sangat tua tersimpan dengan baik dalam koleksi di beberapa museum, salah satunya koleksi Shōsōin periode Nara abad 710-794 (Gambar 3) hingga catatan administrasi pelabuhan di Hirado Jepang tentangn arus masuk komoditi perdagangan termasuk rotan (Tabel 1). Dari koleksi preservasi Chinese Craft di Japanese National Heritage Collection memperlihatkan bahwa rotan kupas untuk anyaman dan lilitan telah populer digunakan kemungkinan sebelum abad ke-8.

Image

Image

Image

Periode awal komersialisasi rotan sebagai komoditi perdagangan

Pada awalnya material rotan belum dianggap sebagai komoditas bernilai dalam sejarah okupasi dan perdagangan bangsa Eropa di belahan Hindia Timur, walaupun material rotan juga dibungkus dan dipak seperti barang lain yang diperdagangkan namun bahan rotan tidak dianggap produk komersil sehingga selama berada pada pelayaran maka kumpulan rotan tersebut dimanfaatkan sebagai balas (penyeimbang) yang ditempatkan pada lambung kapal.

Ketika Perusahaan English East India Company merapat pertamakali di pelabuhan Hirado, Jepang, di sebelah barat laut Pulau Kyushu pada 1613-1623 sempat dicatat oleh John Osterwick, staff dari pos dagang tersebut tentang rotan yang diperdagangkan pada September 1615 tertulis ‘rotane…bundells’ yang kemungkinan dikapalkan dari Batavia (Jakarta) dengan kapal berjuluk Hoziander dimana selanjutnya dikirim kepada pedagang Cina sebagai bahan dasar pintalan kawat tali. Penggunaan rotan oleh penjelajah Cina sebagai tali kawat pengikat kapal yang berlabuh dengan reputasi daya tahannya terhadap beban, sifat kedap air, daya apung, demikian selanjutnya rotan semakin populer turut digunakan untuk tali berlabuh bagi kapal-kapal Eropa.

Disebutkan dalam sebuah catatan oleh Georg Meister, seorang berkebangsaan Belanda di Jepang pada 1682-1685 yang memiliki catatan administrasi tentang perdagangan di Dejima. Ia mencatat penjualan 30 buah stik tongkat rotan dilengkapi dengan sebuah lambang perusahaan yang dicetak timbul (jockadeki/rottangth met silver beslach), dalam catatan tersebut juga tertera bahwa tongkat rotan tersebut diimpor dari Batavia. Demikian pula catatan perdagangan Belanda di kepulauan Formosa (Taiwan) menuliskan impor produk sejenis tongkat rotan ‘Javanese Rottangth’ juga dengan lambang pada pada bagian pegangan yang digunakan  sebagai simbol seremonial bagi otoritas belanda di wilayah tersebut.

Image

Awal apresiasi rotan untuk produk gaya hidup

Sejarah perdagangan rotan sebagai bahan baku dan produk memiliki keterkaitan yang sangat kuat terhadap ekspansi dagang dan industri bangsa Eropa khususnya Inggris (English East India Company), Belanda (Dutch East India Company/VOC) serta diaspora Cina pada berbagai pos dagang Eropa di Hindia Timur seperti Indonesia, Srilanka, India, Taiwan, dls. Berbagai literatur tentang ekspansi dagang Eropa di Hindia Timur, istilah cane chair bermakna sebagai payung istilah dari berbagai produk dari keluarga tumbuhan rerumputan seperti bambu, rotan, ilalang hingga tanaman rambat yang berupa kursi, keranjang, dls.

 a. Pengaruh Cina terhadap inovasi material rotan  

Seiring dengan ekspansi perdagangan Eropa di belahan Hindia Timur, diaspora Cina melalui misi dagang dan keberadaan tenaga terampil bangsa Cina di pos-pos dagang Eropa sepanjang pantai Coromandel hingga Indonesia merupakan transfer pengetahuan masif dari bangsa Cina kepada penduduk lokal. Gaya kursi dinasti Ming dengan dudukan dan sandaran anyaman rotan menyebar dan terbawa meluas ke Eropa.

Fakta tentang bangsa Cina telah mulai menggunakan kursi duduk, menjadi penting diinformasikan untuk memberikan gambaran bahwa selain keterampilan teknik juga gaya kursi Cina pada masa dinasti Ming juga turut mempengaruhi perkembangan gaya kursi bagi bangsa Eropa. Kursi gaya Ming dengan sandaran punggung kurva S (Gambar 5) merupakan representasi kemodernan Cina yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kursi di Inggris. Queen Anne, kursi dengan sandaran berbentuk vas yang popular di inggris dan daerah-daerah koloni Amerika utara adalah contoh dari inspirasi kursi pada dinasti Ming (Gambar 5a & 5b) baik styling maupun adopsi anyaman rotan. Seorang tokoh Taiwan, Fang Hai menerapkan anyaman pada sandaran punggung kurva S pada kursi Ming yang menjadi arus baru inovasi adopsi rotan. Sebelumnya sandaran punggung pada kursi Inggris hanya diisi dengan kulit atau bordir turki (turkey works). Penggunaan anyaman rotan pada sandaran punggung menjadi inovasi sekaligus genre baru pada industrialisasi kursi.

 Image

Image

b. Pengaruh era okupasi English East-india Company

Selain gaya kursi Cina era akhir dinasti Ming atau awl dinasti Qing yang memberikan pengaruh adopsi rotan pada produksi kursi Eropa, beberapa historian furnitur juga memiliki kesimpulan lain terhadap momen penting masuknya rotan pada kursi-kursi Eropa. Seperti coba David Dewing, direktur Geffrye Museum, Inggris menduga ‘borhas’, sebuah alat duduk sederhana untuk menopang ketika jongkok berbentuk drum (Stool) berbalut anyaman rotan dari bagian selatan India menjadi satu inspirasi adopsi rotan bagi kursi Inggris pada masa okupasi Inggris di Hindia Timur.

Dari banyaknya peristiwa sehubungan dengan adopsi rotan pada kursi-kursi Eropa, peristiwa menarik dibalik peningkatan ekspor impor rotan dalam Industri furnitur di Inggris adalah bersamaan dengan upaya membangkitkan optimisme industri di London atas tragedi kebakaran besar di London pada 1666 yang membumihanguskan banyak pabrik di Inggris. Optimisme industri tersebut disebutkan menjadi awl keterbukaan munculnya bentuk kursi yang lebih sederhana termasuk menerima ide-ide dari timur seperti pilinan spiral (spiral baluster) sekaligus penggunaan anyaman rotan. Peristiwa lain yang paling menarik adalah protes asosiasi industri fabrikasi bahan pelapis (upholstery) yang ketika itu terpuruk karena popularitas anyaman rotan sebagai substitusi pelapis dudukan wol. Petisi asosiasi industri wol  (London’s Joiners Company) pada 1689/90 memprotes popularitas penggunaan anyaman rotan yang dianggap menghancurkan industri wol yang kala itu menjadi pilihan utama bahan pelapis kursi. Sebagian petisi tersebut berbunyi ”…dudukan kursi dengan bahan rotan Hindia (Indian canes) semakin banyak digunakan; konsumsi wol Inggris, sutra dan kulit dari Russia demikian pesat menurun; dan lebih dari 50.000 pekerja dibidang ini kehilangan pekerjaan…”. Maraknya produksi kursi rotan (cane chair) dengan puluhan ribu kursi termasuk stool dan sofa diproduksi di Inggris setiap tahun dan lebih dari 2000 lusin setiap tahun dikirim ke berbagai daerah di dunia, fleksibilitas rotan pada daerah berkelembaban tinggi jelas mengungguli wol.

Kepopuleran kursi anyaman rotan dengan penampilan stylish dan ringan ini merupakan terobosan dari gaya furnitur inggris periode sebelumnya yang berat, masif. Perkembangan selanjutnya hingga akhir abad ke-17 diwarnai dengan peninggian sandaran punggung, penempatan palang mahkota dengan ornamen ukir berupa malaikat kecil memegang mahkota (boyes and crowne) dilengkapi anyaman rotan pada dudukan dan sandaran yang sangat fashioned ketika itu.Image

c. Pengaruh era okupasi Dutch East-india Company (VOC)

Persaingan ekspansi perdagangan internasional Eropa di Hindia Timur (East India) pada awl abad ke 16 membentuk jaringan distribusi geografis dari pabrik-pabrik asing di wilayah timur dan Asia Tenggara dengan berbagai bangsa bekerja pada industri ini yang menjadi dasar kompleksitas bertemunya berbagai pengaruh seperti ukiran, anyaman, lacquer, motif, dll.  Komponen furnitur oleh bangsa Eropa dikirim ke Timur kemudian diberi anyaman dan dikirim ke Negara-negara Eropa. Meskipun tercatat pula batang rotan yang diekspor dari Hindia Timur ke Eropa selanjutnya dikupas menjadi kulit siap anyam setibanya di London.

Volume perdagangan di Hindia Timur meningkat tajam, dimana kursi-kursi anyaman dibawa oleh kapal-kapal dagang melalui pos-pos dagang mulai dari Batavia, pantai koromandel, Surat, Bombay, Madras, dll. Melalui survey terstruktur berbagai kursi-kursi dengan dudukan ratan di berbagai koleksi di Inggris dan Indonesia maka gaya kursi pesisir (Coastal chair) dengan bahan kayu gelap ebony yang diekspor dari Hindia Timur (Pantai Coromandel, Srilanka dan Maluku, Indonesia) merupakan bibit kursi generasi industri pertama dari Hindia Timur. Kursi pesisir kayu ebony (Mollucan chair) dengan anyaman rotan yang di bawa melalui kapal melalui pelabuhan dan pos-pos dagang Belanda di pesisir Jawa selama 350 tahun okupasinya di Indonesia. Sentra industri ukir kayu di Jepara, yang mereproduksi Kursi Indo-Dutch & Indo-Portuguese dengan dudukan dan sandaran anyaman diekspor dengan volume yang tinggi khususnya ke Inggris dan Belanda. Melalui tulisan singkat ini, nampak bahwa rotan telah menjadi komoditi industri internasional sejak tahun awal abad 1600, dimana bangsa-bangsa Hindia Timur termasuk Indonesia, memberikan pengaruh besar bagi perkembangan perdagangan global.

Image