INOVASI PAPAN DAN BALOK ROTAN LAMINASI

Papan dan balok rotan laminasi
*Paten dimiliki oleh Dodi Mulyadi (2015)
——-

Rotan, salah satu bahan baku lokal Indonesia yang sangat strategis. Tumbuh liar berlimpah dan beragam jenisnya di hutan rawa-rawa Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Penggunaan material rotan pada produk kerajinan dan furnitur memanfaatkan tiga olahan bahan rotan, yakni:

(a). BATANG, berdiameter 8mm, 10mm, 12 mm hingga 30mm. Batang rotan dibagi menjadi dua, yakni ‘poles’ (sudah dikuliti) dan ‘asalan’ (belum dikuliti)
(b). PITRIT, ataujuga disebut Core, dihasilkan dari batang berdiameter 30mm kemudian dibelah menjadi untaian berdiameter 2/3mm. Pitrit/core adalah bahan anyaman.
(c). LASIO, atau disebut kulin, yang dikupas dari batang dan digunakan untuk bahan anyam

Bahan rotan utamanya dikenal karena kelenturannya, sehingga desain mebel rotan selalu berciri kurvatur/lengkungan. Dodi Mulyadi yang menekuni bambu dan rotan berinisiatif mengembangkan potensi lain dari rotan. Teknik pembuatan papan rotan adalah menggunakan teknik laminasi dan sistem press. Untuk pembuatan kurva khusus terhadap laminasi rotan maka digunakan jig cetakan (seperti pada gambar).

Kelebihan dari papan atau balok rotan adalah:
– mudah dilengkungkan
– volume yang ringan (dengan piIhan jenis rotan tertentu).

Pengembangan papan dan balok rotan laminasi saat ini telah diterapkan pada produk mebel. Tiga buah desain kursi dibawah dbuat dari papan rotan laminasi. Salah satunya menerapkan sistem knock-down dengan bagian-bagian lengkungan yang mudah dicetak. Kursi papan rotan laminasi memiliki potensi pengembangan dan genre desain mebel ritan baru.

Saat ini, pengembangan lanjut dari papan atau balok rotan direncanakan menjadi standar/klasifikasi seperti kayu, misalnya seperti, kamper samarinda, kamper medan, kamper banjar; atau meranti surabaya, meranti kalimantan, meranti sumatera. Berikutnya balok atau papan rotan akan diklasifikasi berdasarkan daerah penghasilnya, contoh, papan rotan tohiti sulawesi tengah, papan rotan tohiti sumatera, papan rotan tohiti jawa. Contoh lain adalah, balok rotan manau sulawesi, balok rotan kalimantan, dll.
Jenis atau klasifikasi papan atau balok rotan nantinya akan ditentukan berdasar grade, yang bisa dilihat dari berat, kualitas dan warna. Kedepan, untuk produksi komersil masal,papan atau balok rotan laminasi dibutuhkan SNI. (ditulis oleh: Deny Willy Junaidy)

IMG_0366-0.JPG

IMG_0363.JPG

IMG_0370-0.JPG

IMG_0375-0.JPG

IMG_0373-0.JPG

IMG_0369.JPG

IMG_0376.JPG

IMG_0382.JPG

IMG_0383.JPG

IMG_0385.JPG

IMG_0384.JPG

METODA ‘KOMIK’ DALAM RISET DESAIN

Menulis Thesis atau Menggambar Thesis?

Nick Sousanis memperoleh gelar Doctor of Education (EdD) di Columbia University Teacher’s College tahun 2014 dengan disertasi berformat komik! Disertasinya berjudul UNFLATTENING (Menyembul) adalah eksperimen berpikir visual (visual thinking) menentang bentuk konvensional wacana ilmiah. Sousani mengevaluasi pakem diskursus akademik yang selalu berkutat pada pencapaian berbasis ‘TEKS,’ sedangkan ‘GAMBAR’ selalu dianggap informasi sekunder, pelengkap dan sisipan. ‘Unflattening’ adalah argumentasi tentang kelemahan dimensi tekstual konvensional bila dibandingkan dimensi visual. ‘Unflattening’ mengajarkan kita bagaimana mengakses mode pemahaman diluar kebiasaan.

Ia mengilustrasikan cara berpikir visual ala Al Tusi hingga Copernicus yang telah memperluas imajinasi mereka sehingga mampu memahami sistem tata surya. Cara berpikir visual tersebut Sousanis ilustrasikan dengan seseorang yang melakukan observasi di antariksa terhadap orbit bumi mengelilingi matahari. Dibutuhkan “dua mata” untuk memahami jarak antar bintang, ‘satu mata’ dengan persepsi di bumi, dan ‘satu mata’ lainnya ketika berada dalam gerak di antariksa.

Saya sendiri belum terbayang paper-nya di Journal of Curriculum and Pedagogy, tetapi disertasinya masuk dalam pameran penelitian di Microsoft Research di Seattle. Disertasinya diterbitkan menjadi buku oleh Harvard University Press. Disertasinya hingga saat ini masih menjadi perbincangan dan perdebatan hangat di grup diskusi para peneliti desain.

Siap-siap mahasiswa kita menggambar thesis-nya? 🙂
Gambar dibawah adalah beberapa lembar isi disertasi Sousanis.


 

Sousanis2 Sousanis3 Sousanis1 Sousanis6 Sousanis5 Sousanis4

 

 

 

 

 

TEORI HEMISFER OTAK KIRI & KANAN

Mitos populer adanya individu dgn dominasi otak kiri atau otak kanan diawali tahun 1861. Seorang pasien yang berkurang kemampuan berkomunikasinya diketahui mengalami kerusakan otak di bagian hemisfer kiri. Selanjutnya, tahun 1960 ada eksperimen dengan subyek epilepsi, dimana subyek tsb sulit mengkomunikasikan ‘stimulasi gambar’ yg dilihatnya di layar sebelah kiri, sedangkan ‘stimulasi kata-kata’ disebelah kiri mudah ia komunikasikan dan demikian sebaliknya. Eksperimen ini menjelaskan bahwa otak kiri berkorelasi dengan bahasa dan otak kanan berkorelasi dengan kemampuan visual. Puluhan tahun berikutnya hasil eksperimen ini menjadi budaya populer: individu kreatif adalah otak kanan, individu logis dan sistematik adalah otak kiri.

Sejak 1980an teknologi brain imaging semakin berkembang dan telah berlimpah tulisan ilmiah yang meluruskan teori hemisper kanan-kiri. Para neuroscientist memastikan bahwa BELUM ADA BUKTI adanya peran dominasi otak kanan atau kiri. Yang masih berlaku adalah, otak kanan mengontrol bagian tubuh kiri dan sebaliknya. Neuroscientist menegaskan, otak demikian saling melengkapi dan tidak sepenuhnya lateral, contoh: ketika otak kiri memproses grammar dan pronunciation, maka otak kanan memproses intonasi.

Ketika saya studi PhD tentang Kognisi Desain di Lab. Proses Kreatif di Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST). Saya bertemu secara pribadi peneliti-peneliti ternama teori maju kreativitas desain (walau bukan neuroscientist), kebetulan mereka kolega dekat pembimbing saya. Tulisan dan percakapan dengan mereka membuka wawasan betapa ‘mitos’ populer tersebut masih diajarkan di kampus2. Beberapa peneliti ternama tersebut adalah:

Gabriela Goldschmidt ==> Linkography Model (logika proses kreatif);
John Gero ==> Function-Behavior-Structure Ontology of Designing;
Yukari Nagai ==> Associative Concept Network Analysis;
Hernan Casakin ==> The Cognitive Profile of Creativity;
Amaresh Chakrabarti ==> An Anthology of Theories and Models of Design;
Toshiharu Taura ==> Virtual Impression Networks for Capturing Deep Impression.

 

ILMU TENTANG DUDUK

Manusia adalah humanoid limited bipedal (biped), makhluk mobil ditunjang dua kaki yang memiliki keterbatasan atas peran kedua kaki. Menurut banyak teori termasuk Savanna-based theory, keterbatasan manusia dalam mengandalkan kedua kaki dikarenakan jauh dahulu kala manusia adalah makhluk quadrupedal (makhluk dengan 4 kaki). Evolusi kehidupan dari pohon ke savana membuahkan adaptasi bipedalism. Namun, adaptasi tidak serta merta menghilangkan genetik quadrupedalism. Coba ingat, pada saat posisi berdiri dengan kedua kaki, sesering apa kita semua berupaya mencari sandaran vertikal maupun horizontal, seperti menyandarkan pundak atau punggung ke dinding, seolah bidang sandar menjadi tripod. Ini yang kemudian disebut tipikal humanoid limited bipedalism.

Dalam perjalanan evolusinya, makhluk dua kaki ini menciptakan kebudayaan  duduk dengan penopang.  Duduk diatas fasilitas penopang diyakini sebagai perilaku cerdas kompromistik antara sikap bipedalism dan quadrupedalism. Hasil kecerdasan primitif ini tumbuh dengan keragaman dimensinya seperti budaya duduk, etika duduk, sosiologi duduk, kesehatan duduk dan isu praktikal. Sehingga, isu kursi  tidak lagi semata-mata memahami persoalan postur duduk atau panggul dengan milyaran syaraf dan otot yang terkontraksi setiap lima menit.

Farouk Kamal, maestro furnitur Indonesia pernah bilang: “…dalam ‘design & lifestyle’, yang tercepat adalah perkembangan fashion design, selanjutnya disusul dengan furniture design.” Ilmu desain furnitur, termasuk fasilitas duduk demikian luas mencakup gaya hidup, kreativitas, estetika, antropometri, ergonomi, teknologi material, teknologi proses, dan sosial-ekonomi. Dalam sebuah eksibisi furnitur internasional misalnya, sekian hektar biasanya didedikasikan untuk area eksibisi tentang teknologi perlindungan material, teknologi upholstery, joinery, fastener, dan proccessed material lainnya. Ya, industri desain furnitur sama seriusnya dengan sebuah industri otomotif.

Foto-foto dibawah ini adalah proses belajar kurun satu semester mahasiswa Desain Interior dalam Kuliah Desain Mebel III (Kuliah Minor Kompetensi) di FSRD ITB.

Dosen Mebel III, Semester 2, 2014/2015
Prabu Wardono, PhD.
Deny Willy Junaidy, PhD.
Dwihatmojo Danurdoro, MT.
Sendra Hestiningrum, S.Ds.

(1) Mahasiswa dalam sesi Teori Sikap Duduk
Seluruh mahasiswa diminta mengukur postur duduk yang paling nyaman menurut ukuran masing-masing, (SH, SD, ARH, BRH) menggunakan Alat Uji Ergonomi Duduk. Selanjutnya seluruh data tersebut diinput dan dicari rata-ratanya (Mean) dan dijadikan acuan standar kenyaman duduk bagi seluruh peserta dalam tugas perancangan mebel.
Mereka juga mempelajari sikap dan postur duduk santai dan formal termasuk postur condong kedepan (anterior leaning), postur tegak (medial), dan postur condong ke belakang (posterior). Disini mahasiswa mempelajari ilmu paling mendasar tentang triangulasi postur dan sikap duduk: ketinggian duduk (Seat Height), kedalaman duduk (Seat Depth), sudut kemiringan (Back Angle), lebar (Seat Width).
IMG_2233
  


 

(2) Mempelajari karakter bahan (rotan), batasan dan potensi konstruktifnya.
Mahasiswa membawa material rotan dari Cirebon ke Bengkel FSRD ITB jam 00:30 pagi, jadi pengalaman tersendiri buat mahasiswa.
IMG_2131
IMG_2137

(3) Field-trip ke Industri Mebel Rotan di Cirebon
Melakukan kunjungan rutin studi ke industri mebel rotan Yamakawa, dan lokasi lainnya di Cirebon. Sebelumnya mahasiswa membentuk grup berdasarkan aspek-aspek produksi di lapangan. grup terdiri dari:
1. Grup yang mempelajari R&D
2. Grup yang mempelajari Proses Produksi
3. Grup yang mempelajari Detail sambungan dan Material
4. Grup yang mempelajari Marketing dan Delivery
   


   

Foto dibawah adalah salah satu tugas dimana mahasiswa diminta menggambarkan 1:1 protipe kursi yang baik, dengan contoh yang diletakkan di muka kelas. Teknik penggambaran dengan teknik layering Top, Front, Left Elevation. Target utama tugas penggambaran ulang adalah menekankan kemampuan psikomotorik dan kognitif agar siswa sensitif terhadap proporsi SH, SW, SD, dan BA sebuah kursi melalui metode mengkonfirmasi dimensi dengan kompenen tangan, lengan, jari atau telapak.  
  
  
Proses asistensi desain dengan working drawing 1:1 dan mock-up 1:10 dari model kawat.
  
 

Hal ideal dari ekskursi ke industri adalah kesempatan langsung bagi mahasiswa mengkonfirmasi pengetahuan teoritis yang diterima di kelas dengan fakta di lapangan. Foto dibawah terlihat mahasiswa mengkonfirmasi standar ukuran, dan menguji kenyamanan bermacam tipe kursi (easy chair, relax chair, lazy chair, dining chair, dls).

IMG_1997 IMG_2098 IMG_2100 

(4) Design Assistance
Komponen terbesar di perkuliahan adalah proses Desain dan Pengembangan. Mahasiswa melakukan asistensi desain dan generasi konsep dari sketsa hingga pengembangan dan evaluasi. Dalam konsep generasi (Conceptual Generation) mahasiswa diperkenalkan dengan
Teknik First-Order Concept Generation, yang didekati dengan dua cara:
1a). Stimulasi kreatif sederhana seperti ‘teknik adaptasi’. Stimuli diberikan melalui contoh-contoh produk kursi rotan yang sudah teruji di pasar internasional.
1b). Mengeksplorasi kekhasan dari material rotan, kelenturan, repetisi, keluwesan.

Dalam proses konseptualisasi, hal mendasar yang selalu ditekankan adalah:
Menghindari teknik mencari “Keserupaan properti” (Similarity in Property) yakni mencari-cari atau meniru properti dari wujud artefak tertentu, seperti mencari wujud “properti buah, properti makanan, properti hewan, dls” yang hanya akan mengarah pada wujud yang lugu, kekanakkan atau lazim disebut “KITSCH”. Dalam teori kreativitas ini dinilai sebagai low-level thinking.

Dalam true creative synthesis, bentuk dan styling adalah akibat dari korespondensi yang dewasa dengan design reasoning (itu yang disebut Mies van deRohe dengan Form follows Function), ada reasoningnya……. bukan sekedar  bermain-main dengan garis, melucu dengan keserupaan garis, bidang atau volume terhadap artefak tertentu.

Nagai, Y., Taura, T., & Mukai, F. (2009). Concept blending and dissimilarity: factors for creative concept generation process. Design Studies, 30(6), 648-675.

Baca: https://apikayu.wordpress.com/2014/11/04/berguru-desain-mebel-rotan-dengan-yuzuru-yamakawa/ 

 IMG_2255 IMG_2256

(4) Students’ Final Working Drawing 
Karya Abraham Digjaya
  
  

Karya Hatif Adiar Almantara
  
   

Karya Elvinda Rahadi
   
  

Karya Annisya Syahreni S
   

Karya Eunike Victory
   
  

Karya Andriano Simarmata
  

Karya Irfianti Wandyani
  

Karya Nadysa Vinda Nawardin
 
 

 (5) Prototyping di Workshop (Yamakawa Rattan, Cirebon)

Bersambung……………..

 (5) Exhibition (Showcase)

Bersambung……………..





BERGURU DESAIN MEBEL ROTAN DENGAN YUZURU YAMAKAWA

Oleh: Deny Willy Junaidy

**Untuk mengenang Yuzuru Yamakawa dan seluruh staff di Yamakawa Rattan industry di Cirebon**

Mata Kuliah (MK) Desain Mebel I, II dan III merupakan mata kuliah minor kompetensi di Program Studi Desain Interior FSRD ITB. Dengan bobot 4 sks dari tiap perancangan Desain Mebel I, II, III, menjadikan MK Desain Mebel padat dengan konten teori maupun praktek. MK Desain Mebel III merupakan klimaks dari rangkaian kuliah perancangan desain mebel. Desain Mebel III mengkaji problem desain manusia akan sarana untuk beristirahat dengan cara duduk. Peserta dibekali pengetahuan standar ergonomi, bahan dan teknologi konstruksi dengan studi kasus.

Seorang pengajar senior, Dr. Prabu Wardono secara konsisten memperkenalkan material rotan sebagai studi kasus dalam MK Desain Mebel III. Hingga kini sudah 14 tahun MK Desain Mebel III di program studi desain interior ITB memperkenalkan material rotan dalam perancangan mebel. Saya bersama asisten muda lainnya menjadi asisten MK Desain Mebel III sejak tahun 2000 hingga tahun 2009, sebelum akhirnya kami sama-sama berangkat untuk studi lanjut. Kini, konten rotan dalam perancangan mebel telah terpupuk dengan baik.

IMG_0440-0.JPG

IMG_0409.JPG

Setiap tahunnya, kurang lebih 35 mahasiswa peserta MK Desain Mebel III yang dibimbing. Secara kasar, 14 tahun x +/-35 mahasiswa = +/-490 mahasiswa yang telah dibimbing untuk merancang desain mebel rotan. Bersamaan dengan 14 tahun tersebut, kira-kira selama itu pulalah para dosen pembimbing bersama mahasiswa berguru setiap tahunnya kepada desainer mebel rotan ternama, Yuzuru Yamakawa di Cirebon. Menariknya, setiap kali kunjungan ke Yuzuru Yamakawa, setiap kali itu pulalah Yuzuru Yamakawa antusias mengajarkan teknik mendesain rotan, lengkap dengan tips-tips dan kebiasaan beliau. Bukan hanya itu, beliau membuka seluruh dokumen manuskrip desain dan gambar kerja mebel rotan karya beliau! Seluruh mahasiswa dipersilahkan dengan bebas memfoto dokumen desain tersebut. Disetiap kali kunjungan, masing-masing kepala divisi spt; pembahanan, sample making, R&D, produksi, finishing, marketing menjelaskan tanggungjawab dan peran mereka. Kunjungan tahunan tersebut kemudian diakhiri dengan factory visit. Seluruh pengalaman tersebut tentu menjadi pengetahuan yang solid tentang desain mebel rotan bagi mahasiswa. Di akhir kuliah, mereka diwajibkan menghasilkan, prototipe 1:1 desain mebel rotan (easy chair).

Berikut merupakan sari pengalaman yang saya peroleh selama hampir 10 tahun belajar dari sang maestro Yuzuru Yamakawa:

Kertas Milimeter Block dan Sketsa
Sebelum menjadi shop drawing, sketsa awal desain Yamakawa diverifikasi oleh divisi R&D dan sample making. Di ujung seluruh proses desain, dihasilkan prototip, gambar mal 1:1, dan jig, siap untuk diproduksi. Walaupun sketsa awal Yamakawa belum mendetail, namun hampir seluruh sketsa beliau yang dibundel dan digoreskan diatas kertas milimeter block A3 padat dengan potongan-potongan gambar detail disana sini. Kertas milimeter block memang nampak memudahkannya membandingkan proporsi dari berbagai tampak. Saya perhatikan 2 gambar yang utama adalah tampak samping dan tampak muka dengan skala 1:10, dan 1 perspektif. Sedikit sekali saya temukan sketsa untuk tampak atas. Gambar tampak samping nampak selalu menjadi fokus utama sehingga seringkali berisi banyak bekas-bekas guratan. Demikian, ketika beliau memberikan arahan dan contoh, sketsa tampak samping selalu menjadi penekanan dengan guratan-guratan yang efisien. Kedalaman alas duduk (seat depth) dan sandaran punggung (back rest) selalu digoreskan dengan sudut dan ketinggian yang kira-kira sama. Baru kemudian, sandaran lengan (arm rest), kaki dihubungkan dengan konstruksi kaki belakang yang banyak mendapatkan perhatian dengan goresan-goresan kurva. Saya perhatikan tarikan kurva dari bagian arm rest nampak berupaya beradaptasi atau mencari penyesuaian terhadap bagian belakang seperti rangka kaki belakang atau sandaran belakang. Sehingga saya berkesimpulan, goresan-goresan arm rest adalah goresan utama dari desain beliau, kurva-kurva yang dihasilkan dari arm rest merupakan proses desain yang paling signifikan, sketsa arm rest menjadi dialog terciptanya struktur, dialog terciptanya pengencang kurva X dan U, support structure khas mebel rotan.

Keeleganan garis-garis kurva baik pada kaki, arm rest, back rest, support X dan U terlihat wajar, pantas dan tepat. Wajar karena tidak menonjol; pantas karena karakternya tidak hilang; dan tepat karena tak dapat disubstitusi dengan bahan lain.

IMG_0420.JPG

IMG_0422.JPG

IMG_0414.JPG

IMG_0431.JPG

IMG_0426.JPG

IMG_0417.JPG

IMG_0410.JPG
Foto field study ketika belajar langsung kepada Yuzuru Yamakawa dan seluruh tim di pabriknya di Cirebon, sejak tahun 2001 hingga kini.

Dalam sketsanya, Yamakawa menghimbau bahwa tension, derajat kurva tidak pernah menonjol menjadi aksen, atau unik sendiri, melainkan kesederhanaan simetrikal dan lengkungan yang secukupnya. Nampaknya pandangannya itu, membuatnya bijaksana memandang struktur atau support seperti X atau U untuk selalu hadir. Sehingga baik support X atau U justeru menjadi keutamaan dari desain beliau, terutama support X. Di beberapa desainnya, support digantikan dengan membentuk kurva abjad Y.
Sekampiun Yamakawa pun, hal-hal yang sangat teknis, termasuk support construction juga menerima kontribusi dari tim R&D, sample maker dan bahkan penganyam. Ini yang membuat seluruh karya Yamakawa kaya dengan detail, karena setiap divisi adalah mata rantai berkaitan.

IMG_0427.JPG

IMG_0405.JPG

IMG_0429.JPG

IMG_0430.JPG
Beberapa karya Yuzuru Yamakawa yang dikenal dengan keotentikannya.

Mal orang-orangan
Satu alat bantu yang menarik adalah dimensional human body template produksi staedtler model no: 976. Sesekali ia tunjukan tidak saja untuk mengkonfirmasi ergonomi duduk, namun juga postur mebel terhadap pengguna. Ia bercerita, bahwa mal orang-orangan untuk postur Jepang telah berubah dari tahun ketahun. “Mengacu pada mal staedtler, maka selama satu dekade, maka rata-rata postur orang Jepang telah naik 2 hingga 3 centimeter!”

IMG_0433.JPG

IMG_0435.JPG

IMG_0434.JPG

IMG_0411.JPG

IMG_0413.JPG

Kini banyak desainer muda berbakat yang mengangkat material rotan dalam karya mereka. Desain-desainnya menarik, dan nampak kita masih dalam perjalanan menyesuaikan diri dengan kerabat sendiri: rotan. Dalam kedangkalan ilmu saya, banyak dari karya kita baru pada tahap ‘mendesain mebel dengan rotan.’ Masih panjang perjalanan untuk sampai pada level ‘mendesain mebel rotan’ seperti Yuzuru Yamakawa.

Gap literasi bagi pemula (novice) merupakan situasi yang wajar dalam destinasi menuju kepiawaian. Alam (realm) proses kreatif individu yang sudah piawai dijelaskan oleh Csikszentmihalyi (psikolog dalam kognisi kreatif) dalam bukunya yang tersitasi puluhan ribu kali. Csikszentmihaly memutuskan hidup dan tinggal satu atap bersama individu-individu kreatif ternama selama bertahun-tahun untuk penelitiannya. Mengutip apa yang ia tulis, seorang ‘virtuoso’ sepenuhnya terisap dalam flow ketika tengah berkarya. Flow adalah peristiwa khas ketika individu mencapai state of mood, aha effect, tahapan ‘asyik’. Artinya, ketika terisap dalam flow proses kreatif, yang ada hanya enjoyment, fun, dan rasa penasaran. Peristiwa ini sangat internally-driven, bukan karena termotivasi iming-iming, tapi begitu ‘asyik ngalir’ yang distilahkan dengan ‘autotelic’.

Setelah sekian lama menyaksikan cara Yuzuru Yamakawa menggoreskan ide-idenya. Saya yakin kemampuannya merespon material dan wujud sudah melebur, sehingga setiap tarikan garisnya adalah kebijaksanaan (wisdom) merespon esensi material.

IMG_0451.JPG

IMG_0448.JPG

IMG_0605.JPG

IMG_0606.JPG

IMG_0969.JPG

IMG_0616-0.JPG

IMG_0615-0.JPG

IMG_0968-0.JPG

Beberapa full-scaled prototype mebel rotan mahasiswa mahasiswi peserta MK Desain Mebel III DI di program studi desain interior FSRD ITB, tahun 2008. Foto terakhir adalah eksibisi seluruh prototipe dan diskusi dengan tokoh industri dan peneliti mebel rotan.
————————————–
Catatan:
* penulis tidak memiliki hak atas desain dari foto-foto diatas.
* Seluruh desain dimiliki oleh desainer yang bersangkutan (Yuzuru Yamakawa, mahasiswa desain interior ITB, dll).
* Seluruh gambar tidak dimaksudkan untuk kepentingan komersial.

PENGRAJIN UKIR KAYU DI INGGRIS DAN INDONESIA

Oleh: Deny Willy
(Tulisan versi ilmiah akan segera terbit pada the Journal of Design Research (JDR))

Tuntas sudah tiga bulan kegiatan penelitian saya di kota kecil High Wycombe, area pedesaan sebelah barat kota London, tempat kelahiran kursi legendaris ‘English Windsor‘ yang dahulu sangat populer dan diekspor besar-besaran ke berbagai penjuru dunia. Saya berperan sebagai Visiting Research Fellow di Furniture Research Group, Buckinghamshire New University, UK. Universitas berjuluk Bucks Uni ini relatif kecil, namun terkenal dengan jurusan Furniture Design, termasuk Chair Heritage Conservation. Judul penelitiannya sbb: “Characteristics of Conceptual Ideation Process of Master Craftsmen: A case study of rural crafts industry in Indonesia and UK.” Penelitian ini mengkaji karakteristik konseptualisasi kreatif para pengrajin ahli dan pembuat furnitur. Penelitian ini di-supervisi oleh dua profesor masing-masing di bidang Furniture Conservation dan bidang Kehutanan.

Penelitian ini menggunakan metode ‘Think-Aloud Protocol’ pada tahap konseptualisasi awal mendesain sebuah produk (the early stage of idea generation). Kami mengumpulkan verbalisasi/ucapan yang mereka utarakan selama proses berpikir (Think-Aloud Protocol) yang selanjutnya kata-kata tersebut dianalisis dengan menggunakan Network Analysis.

Para pengrajin ahli di UK yang menjadi subyek penelitian saya adalah orang-orang hebat, karya-karya mereka dikonsumsi oleh Ratu Inggris, Perdana Menteri dan selebriti terkenal (Sir Elton John, Mel A, Mel B (Spice girls), Ralph Lauren, dll). Sedangkan di Indonesia, pengrajin ahli yang menjadi subyek merupakan pengrajin-pengrajin empu di Jepara, Bali. Sayangnya berbeda situasi, kondisi pengrajin ahli di Indonesia hanya sebagai ahli ukir upahan.

KARYA PENGRAJIN INDONESIA:

IMG_0996Karya pengrajin ukir Kkyu Bali (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_1009Karya pengrajin ukir kayu Bali (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_1007Karya pengrajin ukir kayu Bali (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_0987Karya pengrajin ukir Kayu Bali (Photo courtesy: Deny Willy)

DSCN0144Karya pengrajin ukir kayu Jepara (Photo courtesy: Andar Bagus)

DSCN0146Karya pengrajin ukir kayu Jepara (Photo courtesy: Andar Bagus)

DSCN0120Karya pengrajin ukir kayu Jepara (Photo courtesy: Andar Bagus)

KARYA PENGRAJIN INGGRIS:

IMG_7997 Pengambilan data dengan metode Think Aloud-Protocol terhadap subyek pengrajin ahli ukir (master craftsman) (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_7951 Suasana workshop ukir kayu di pedesaan Wooburn Green, Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_7957Karya pengrajin ukir kayu pedesaan Wooburn Green, Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy) IMG_7952Suasana workshop ukir kayu di pedesaan Wooburn Green, Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

llfKarya pengrajin ukir kayu pedesaan Wooburn Green, Buckinghamshire, UK (Lilyfee)

IMG_7961Karya ukir kayu dari pengrajin di Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_7962Karya ukir kayu dari pengrajin di Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy) IMG_7981Sesi foto bersama ahli bubut kayu di Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

pc01Pengambilan data dengan metode Think Aloud Protocol bersama craftsman dan seniman kayu di Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

IMG_7932Pengambilan data dengan metode Think Aloud Protocol bersama pengrajin ahli di High Wycombe, Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy) IMG_7933Karya ukir kayu pengrajin di High Wycombe, Buckinghamshire, UK (Photo courtesy: Deny Willy)

Kesimpulan
Singkatnya, kami menyimpulkan bahwa pada tahap sangat awal dari generasi ide (idea generation), nampaknya, para pengrajin ahli mengalami disonansi kognitif untuk mempertahankan keyakinan konservatif mereka (beliefs). Penelitian ini mengungkap struktur kognitif sbb:

  • Pengrajin Indonesia dipengaruhi oleh mindset tentang Atribut-Obyek tentang Rationale and Mastery yang men-stimulasi pemikiran PRAGMATIS.
  • pengrajin Inggris kuat mempertimbangkan Atribut-Obyek yang menekankan Wisdom dan Passionate yang men-stimulasi pemikiran yang KAKU/RIGOROUS.

Baik pola pikir PRAGMATIS dan KAKU, keduanya sama-sama dapat menciptakan hambatan dan juga potensi dalam proses kreatif. Akhirnya, penelitian ini dapat menjadi sumberdaya pengetahuan kognisi untuk pengembangan pendidikan desain bagi masyarakat tradisional yang memegang teguh prinsip tradisi dan kepercayaan.

Con Sti

Con Sti2

Con Sti3

Con Sti4 Catatan Kaki (1).
Sepanjang hidup saya menyaksikan kemahiran ukir para empu di Indonesia, membuat saya merinding. Betapa hebatnya kemahiran lokal bangsa ini. Keyakinan ini semakin kuat setelah saya menyaksikan langsung, serta bertemu dengan para pengrajin ahli di Inggris. Kerumitan karya pengrajin lokal dari Indonesia betul-betul tiada banding, sebagaimana diucapkan oleh pengrajin ahli Inggris.
Ada cerita lain, beberapa tahun lalu belasan ahli ukir dari Malaysia belajar ukir di Indonesia untuk jangka waktu yang cukup panjang. Kebetulan, saya adalah koordinator program tersebut. Satu yang selalu saya ingat komentar salah seorang dari mereka: “Bersyukur kami pada pemerintah kami (pemerintah Malaysia), meski kemampuan tertinggal dengan Indonesia, tapi pemerintah mengurus kami dengan baik.” Terucap spontan pada saat ia melihat tempat tinggal berupa bedeng reyot yang ternyata hunian ahli ukir Jepara yang dianggap Empu.

Catatan Kaki (2)
The Windsor Chair adalah kursi yang khas dengan alas dudukan dari kayu solid, dimana kaki dan sandaran yang telah dibubut ditancapkan pada bidang alas dudukan yang telah dilubangi. Alas dudukan adalah konstruksi utama yang menjadi sumbu dari rangka kaki dan sandaran punggung, kekhasan dari kursi Windsor. Ciri lainnya adalah dudukan bagian depan dibentuk sedikit menyerupai pelana kuda.
Demikian pesatnya pertumbuhan industri kursi Windsor era 1860-1930an, membuat kota kecil High Wycombe berjuluk ibu kota dunia untuk industri kursi. Berikut adalah foto tua menyambut kedatangan Ratu Victoria ke kota kecil tersebut (Chair Arch to commemorate Queen Victoria’s Jubilee, 1877), disambut dengan gerbang bertumpuk ratusan kursi, dan kondisi foto tahun 2014.

Windsor

Kursi Windsor: http://www.windsorchairresources.com/c-harter.html

chair archBangunan gerbang dari tumpukan Kursi untuk menyambut kedatangan Ratu Victoria, sebagai simbol kesuksesan Windsor chair dari daerah High Wycombe, Buckinghamshire.

hwKondisi terkini dengan sudut pandang yang kurang lebih serupa, High Wycombe, Buckinghamshire (2014).

Acknowledgement:
– Penelitian ini didanai The Off-Campus Research Grant – JAIST
– Prof. Jake Kaner (Bucks Uni), Prof. Florin Ioras (Bucks Uni), Prof. Yukari Nagai (JAIST)

PELATIHAN PENGEMBANGAN TIKAR SAJADAH MENDONG TASIK

Oleh: Deny Willy

Pelatihan ini dilaksanakan dengan tujuan mendorang munculnya produk-produk baru tikar mendong.
Selain itu, berikutnya, melalui program ini diharapkan agar hasil produk pengembangan diserap dalam berbagai kegiatan
dan aktivitas religius khususnya bagi masyarakat Tasikmalaya, seperti produk-produk pendukung kegiatan Haji, dll.
Selain mengajarkan tentang komposisi warna, tim pelatih juga mendampingi dalam pengembangan teknik lipat dan kemasan.

SilabusGambar 1. Silabus Pelatihan Pengembangan Tikar Sajadah Mendong Tasikmalaya

IMG_2978 IMG_2980 IMG_3002IMG_3011Gambar 2. Suasana persiapan penyetelan dan praktek

IMG_3004 IMG_3006 IMG_3007IMG_3018Gambar 3. Produk akhir Tikar Sajadah Mendong Tasikmalaya