ILMU TENTANG DUDUK

Manusia adalah humanoid limited bipedal (biped), makhluk mobil ditunjang dua kaki yang memiliki keterbatasan atas peran kedua kaki. Menurut banyak teori termasuk Savanna-based theory, keterbatasan manusia dalam mengandalkan kedua kaki dikarenakan jauh dahulu kala manusia adalah makhluk quadrupedal (makhluk dengan 4 kaki). Evolusi kehidupan dari pohon ke savana membuahkan adaptasi bipedalism. Namun, adaptasi tidak serta merta menghilangkan genetik quadrupedalism. Coba ingat, pada saat posisi berdiri dengan kedua kaki, sesering apa kita semua berupaya mencari sandaran vertikal maupun horizontal, seperti menyandarkan pundak atau punggung ke dinding, seolah bidang sandar menjadi tripod. Ini yang kemudian disebut tipikal humanoid limited bipedalism.

Dalam perjalanan evolusinya, makhluk dua kaki ini menciptakan kebudayaan  duduk dengan penopang.  Duduk diatas fasilitas penopang diyakini sebagai perilaku cerdas kompromistik antara sikap bipedalism dan quadrupedalism. Hasil kecerdasan primitif ini tumbuh dengan keragaman dimensinya seperti budaya duduk, etika duduk, sosiologi duduk, kesehatan duduk dan isu praktikal. Sehingga, isu kursi  tidak lagi semata-mata memahami persoalan postur duduk atau panggul dengan milyaran syaraf dan otot yang terkontraksi setiap lima menit.

Farouk Kamal, maestro furnitur Indonesia pernah bilang: “…dalam ‘design & lifestyle’, yang tercepat adalah perkembangan fashion design, selanjutnya disusul dengan furniture design.” Ilmu desain furnitur, termasuk fasilitas duduk demikian luas mencakup gaya hidup, kreativitas, estetika, antropometri, ergonomi, teknologi material, teknologi proses, dan sosial-ekonomi. Dalam sebuah eksibisi furnitur internasional misalnya, sekian hektar biasanya didedikasikan untuk area eksibisi tentang teknologi perlindungan material, teknologi upholstery, joinery, fastener, dan proccessed material lainnya. Ya, industri desain furnitur sama seriusnya dengan sebuah industri otomotif.

Foto-foto dibawah ini adalah proses belajar kurun satu semester mahasiswa Desain Interior dalam Kuliah Desain Mebel III (Kuliah Minor Kompetensi) di FSRD ITB.

Dosen Mebel III, Semester 2, 2014/2015
Prabu Wardono, PhD.
Deny Willy Junaidy, PhD.
Dwihatmojo Danurdoro, MT.
Sendra Hestiningrum, S.Ds.

(1) Mahasiswa dalam sesi Teori Sikap Duduk
Seluruh mahasiswa diminta mengukur postur duduk yang paling nyaman menurut ukuran masing-masing, (SH, SD, ARH, BRH) menggunakan Alat Uji Ergonomi Duduk. Selanjutnya seluruh data tersebut diinput dan dicari rata-ratanya (Mean) dan dijadikan acuan standar kenyaman duduk bagi seluruh peserta dalam tugas perancangan mebel.
Mereka juga mempelajari sikap dan postur duduk santai dan formal termasuk postur condong kedepan (anterior leaning), postur tegak (medial), dan postur condong ke belakang (posterior). Disini mahasiswa mempelajari ilmu paling mendasar tentang triangulasi postur dan sikap duduk: ketinggian duduk (Seat Height), kedalaman duduk (Seat Depth), sudut kemiringan (Back Angle), lebar (Seat Width).
IMG_2233
  


 

(2) Mempelajari karakter bahan (rotan), batasan dan potensi konstruktifnya.
Mahasiswa membawa material rotan dari Cirebon ke Bengkel FSRD ITB jam 00:30 pagi, jadi pengalaman tersendiri buat mahasiswa.
IMG_2131
IMG_2137

(3) Field-trip ke Industri Mebel Rotan di Cirebon
Melakukan kunjungan rutin studi ke industri mebel rotan Yamakawa, dan lokasi lainnya di Cirebon. Sebelumnya mahasiswa membentuk grup berdasarkan aspek-aspek produksi di lapangan. grup terdiri dari:
1. Grup yang mempelajari R&D
2. Grup yang mempelajari Proses Produksi
3. Grup yang mempelajari Detail sambungan dan Material
4. Grup yang mempelajari Marketing dan Delivery
   


   

Foto dibawah adalah salah satu tugas dimana mahasiswa diminta menggambarkan 1:1 protipe kursi yang baik, dengan contoh yang diletakkan di muka kelas. Teknik penggambaran dengan teknik layering Top, Front, Left Elevation. Target utama tugas penggambaran ulang adalah menekankan kemampuan psikomotorik dan kognitif agar siswa sensitif terhadap proporsi SH, SW, SD, dan BA sebuah kursi melalui metode mengkonfirmasi dimensi dengan kompenen tangan, lengan, jari atau telapak.  
  
  
Proses asistensi desain dengan working drawing 1:1 dan mock-up 1:10 dari model kawat.
  
 

Hal ideal dari ekskursi ke industri adalah kesempatan langsung bagi mahasiswa mengkonfirmasi pengetahuan teoritis yang diterima di kelas dengan fakta di lapangan. Foto dibawah terlihat mahasiswa mengkonfirmasi standar ukuran, dan menguji kenyamanan bermacam tipe kursi (easy chair, relax chair, lazy chair, dining chair, dls).

IMG_1997 IMG_2098 IMG_2100 

(4) Design Assistance
Komponen terbesar di perkuliahan adalah proses Desain dan Pengembangan. Mahasiswa melakukan asistensi desain dan generasi konsep dari sketsa hingga pengembangan dan evaluasi. Dalam konsep generasi (Conceptual Generation) mahasiswa diperkenalkan dengan
Teknik First-Order Concept Generation, yang didekati dengan dua cara:
1a). Stimulasi kreatif sederhana seperti ‘teknik adaptasi’. Stimuli diberikan melalui contoh-contoh produk kursi rotan yang sudah teruji di pasar internasional.
1b). Mengeksplorasi kekhasan dari material rotan, kelenturan, repetisi, keluwesan.

Dalam proses konseptualisasi, hal mendasar yang selalu ditekankan adalah:
Menghindari teknik mencari “Keserupaan properti” (Similarity in Property) yakni mencari-cari atau meniru properti dari wujud artefak tertentu, seperti mencari wujud “properti buah, properti makanan, properti hewan, dls” yang hanya akan mengarah pada wujud yang lugu, kekanakkan atau lazim disebut “KITSCH”. Dalam teori kreativitas ini dinilai sebagai low-level thinking.

Dalam true creative synthesis, bentuk dan styling adalah akibat dari korespondensi yang dewasa dengan design reasoning (itu yang disebut Mies van deRohe dengan Form follows Function), ada reasoningnya……. bukan sekedar  bermain-main dengan garis, melucu dengan keserupaan garis, bidang atau volume terhadap artefak tertentu.

Nagai, Y., Taura, T., & Mukai, F. (2009). Concept blending and dissimilarity: factors for creative concept generation process. Design Studies, 30(6), 648-675.

Baca: https://apikayu.wordpress.com/2014/11/04/berguru-desain-mebel-rotan-dengan-yuzuru-yamakawa/ 

 IMG_2255 IMG_2256

(4) Students’ Final Working Drawing 
Karya Abraham Digjaya
  
  

Karya Hatif Adiar Almantara
  
   

Karya Elvinda Rahadi
   
  

Karya Annisya Syahreni S
   

Karya Eunike Victory
   
  

Karya Andriano Simarmata
  

Karya Irfianti Wandyani
  

Karya Nadysa Vinda Nawardin
 
 

 (5) Prototyping di Workshop (Yamakawa Rattan, Cirebon)

Bersambung……………..

 (5) Exhibition (Showcase)

Bersambung……………..





TEKNIK PRES LAMINASI BAMBU TUTUL

Program Pelatihan Mebel Bambu Tutul di Desa Marikurubu, Tongele, Ternate, Maluku Utara, 2015
Program Direktorat IKM Wilayah 3, Kemenperin

Instruktur: Deny Willy Junaidy
Ide Desain: Dodi Mulyadi
Pelaksana: PT. Permata Kamandaya

Pelatihan Desain Bambu Tutul di Desa Marikurubu, Perkebunan Cengkeh Afo di Lereng Gunung Gamalama, Ternate telah lama difasilitasi oleh Direktorat IKM Kemenperin. Pada pelatihan kali ini, dipilih 5 perajin ahli (master craftsmen) dari sentra kerajinan setempat, dimaksudkan untuk memperoleh pengetahuan baru yang lebih maju. Teknik yang diperkenalkan adalah teknik pres laminasi bambu dengan isian kayu hitam. Teknik laminasi bambu tutul dua sisi dengan pengisi bagian dalam dari kayu hitam menghasilkan tampilan yang khas menyerupai susunan kue wafer atau biskuit dengan permukaan seolah bertabur bercak coklat. Teknik tradisional pembuatan seperti krepyak/palupuh di Ternate lebih lazim disebut teknik cincang. Prosesnya dilakukan spt mencincang bagian dalam bambu hingga dapat menghasilkan lembaran krepayak yang cukup lebar untuk kemudian di pres dengan menggunakan catok (clamp).

Banyak sekali kesulitan yang ditemui dalam proses pelatihan kali ini. Mereka sangat mahir dalam pengolahan mebel bambu, khususnya mengunakan 3 alat utama seperti gergaji sebagai pemotong, golok sebagai pembelah dan pisau raut sebagai peraut atau membuat iratan. Namun, dengan teknik baru laminasi mereka dihadapi persoalan untuk mahir mengolah bidang dengan permukaan lurus, rata dan menyiku yang tidak lazim bagi mereka, sehingga nampak proses meraut bambu/kayu menggunakan mesin planner dan mesin amplas kayu menjadi tidak mudah bagi mereka.

Proses pembahanan perautan bambu menjadi bilah bambu serta bilah kayu hitam  membutuhkan waktu sekitar 4 hari, proses perangkaan dan penyetelan menjadi semakin rumit, karena teknik konstruksi sambungan untuk lap joint atau mortise dan tenon (purus) joint betul-betul berbeda dengan teknik konstruksi bambu. Contohnya, penggunaan pahat kayu untuk membuat mortise (lubang untuk purus) tidak digunakan, para perajin lebih memilih mencungkil atau meraut lubang mortise dengan menggunakan pisau raut. Sehingga profil lubang mortise menghasilkan sudut melengkung , bukan menyiku.

Teknik lain yang diperkenalkan adalah konstruksi moduler kursi dan meja bambu tutul dengan sistem knockdown dengan pertimbangan kemudahan untuk pengiriman produk keluar pulau.

Secara keseluruhan, 3 produk berupa, Kursi Bambu Knock-down, Meja Knock-down, dan sebuah lampu dinding berhasil di selesaikan dengan hasil yang unik seperti keindahan Pulau Ternate, Pulau Tidore, Gunung Gamalama dan Danau Tolire yang megah.

Terakhir, Kami menamakan desain laminasi ini dengan laminasi ‘Wafer’.
Semoga kelak saya kembali ke tanah Ternate yang sangat indah.

   
                                       
Keindahan Pulau Ternate

   
     

PELATIHAN DESAIN MEUBEL ROTAN DAN KAYU DI PALANGKARAYA

Instruktur Desain: Deny Willy Junaidy (ITB, Bandung)
Instruktur Teknis: Yanto Aspika (Grage Palangkaraya)

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Disperindag Provinsi Palangkaraya. Peserta terdiri dari para perajin mebel kayu dan penganyam rotan. pelaksanaan selama 4 hari terbagi, dari 1 hari pelatihan desain, dan 3 hari praktek di workshop (25-28, Mei 2015).

Hari pertama diberikan materi tentang unsur-unsur visual
dan faktor pembentuk keindahan.
Hari kedua, membagi dua grup untuk membuat prototipe rotan dan rotan-kayu.

Selama proses pelatihan prototyping disampaikan pertimbangan-pertimbangan dalam membuat keputusan desain dikaitkan dengan teori pada hari pertama.

Berikut proses dan produk hasil pelatihan:

(1) Teori dasar ttg keindahan dalam meubelair   
 

(2) Produk 1 (rotan) saya ambil contoh dari karya mebel rotan
mahasiswa ITB 2008 (Kiki Sakinah).
     
  
  

(3) Produk kayu dan rotan dgn penekanan irama garis     
  
  
  
  
   

BERGURU DESAIN MEBEL ROTAN DENGAN YUZURU YAMAKAWA

Oleh: Deny Willy Junaidy

**Untuk mengenang Yuzuru Yamakawa dan seluruh staff di Yamakawa Rattan industry di Cirebon**

Mata Kuliah (MK) Desain Mebel I, II dan III merupakan mata kuliah minor kompetensi di Program Studi Desain Interior FSRD ITB. Dengan bobot 4 sks dari tiap perancangan Desain Mebel I, II, III, menjadikan MK Desain Mebel padat dengan konten teori maupun praktek. MK Desain Mebel III merupakan klimaks dari rangkaian kuliah perancangan desain mebel. Desain Mebel III mengkaji problem desain manusia akan sarana untuk beristirahat dengan cara duduk. Peserta dibekali pengetahuan standar ergonomi, bahan dan teknologi konstruksi dengan studi kasus.

Seorang pengajar senior, Dr. Prabu Wardono secara konsisten memperkenalkan material rotan sebagai studi kasus dalam MK Desain Mebel III. Hingga kini sudah 14 tahun MK Desain Mebel III di program studi desain interior ITB memperkenalkan material rotan dalam perancangan mebel. Saya bersama asisten muda lainnya menjadi asisten MK Desain Mebel III sejak tahun 2000 hingga tahun 2009, sebelum akhirnya kami sama-sama berangkat untuk studi lanjut. Kini, konten rotan dalam perancangan mebel telah terpupuk dengan baik.

IMG_0440-0.JPG

IMG_0409.JPG

Setiap tahunnya, kurang lebih 35 mahasiswa peserta MK Desain Mebel III yang dibimbing. Secara kasar, 14 tahun x +/-35 mahasiswa = +/-490 mahasiswa yang telah dibimbing untuk merancang desain mebel rotan. Bersamaan dengan 14 tahun tersebut, kira-kira selama itu pulalah para dosen pembimbing bersama mahasiswa berguru setiap tahunnya kepada desainer mebel rotan ternama, Yuzuru Yamakawa di Cirebon. Menariknya, setiap kali kunjungan ke Yuzuru Yamakawa, setiap kali itu pulalah Yuzuru Yamakawa antusias mengajarkan teknik mendesain rotan, lengkap dengan tips-tips dan kebiasaan beliau. Bukan hanya itu, beliau membuka seluruh dokumen manuskrip desain dan gambar kerja mebel rotan karya beliau! Seluruh mahasiswa dipersilahkan dengan bebas memfoto dokumen desain tersebut. Disetiap kali kunjungan, masing-masing kepala divisi spt; pembahanan, sample making, R&D, produksi, finishing, marketing menjelaskan tanggungjawab dan peran mereka. Kunjungan tahunan tersebut kemudian diakhiri dengan factory visit. Seluruh pengalaman tersebut tentu menjadi pengetahuan yang solid tentang desain mebel rotan bagi mahasiswa. Di akhir kuliah, mereka diwajibkan menghasilkan, prototipe 1:1 desain mebel rotan (easy chair).

Berikut merupakan sari pengalaman yang saya peroleh selama hampir 10 tahun belajar dari sang maestro Yuzuru Yamakawa:

Kertas Milimeter Block dan Sketsa
Sebelum menjadi shop drawing, sketsa awal desain Yamakawa diverifikasi oleh divisi R&D dan sample making. Di ujung seluruh proses desain, dihasilkan prototip, gambar mal 1:1, dan jig, siap untuk diproduksi. Walaupun sketsa awal Yamakawa belum mendetail, namun hampir seluruh sketsa beliau yang dibundel dan digoreskan diatas kertas milimeter block A3 padat dengan potongan-potongan gambar detail disana sini. Kertas milimeter block memang nampak memudahkannya membandingkan proporsi dari berbagai tampak. Saya perhatikan 2 gambar yang utama adalah tampak samping dan tampak muka dengan skala 1:10, dan 1 perspektif. Sedikit sekali saya temukan sketsa untuk tampak atas. Gambar tampak samping nampak selalu menjadi fokus utama sehingga seringkali berisi banyak bekas-bekas guratan. Demikian, ketika beliau memberikan arahan dan contoh, sketsa tampak samping selalu menjadi penekanan dengan guratan-guratan yang efisien. Kedalaman alas duduk (seat depth) dan sandaran punggung (back rest) selalu digoreskan dengan sudut dan ketinggian yang kira-kira sama. Baru kemudian, sandaran lengan (arm rest), kaki dihubungkan dengan konstruksi kaki belakang yang banyak mendapatkan perhatian dengan goresan-goresan kurva. Saya perhatikan tarikan kurva dari bagian arm rest nampak berupaya beradaptasi atau mencari penyesuaian terhadap bagian belakang seperti rangka kaki belakang atau sandaran belakang. Sehingga saya berkesimpulan, goresan-goresan arm rest adalah goresan utama dari desain beliau, kurva-kurva yang dihasilkan dari arm rest merupakan proses desain yang paling signifikan, sketsa arm rest menjadi dialog terciptanya struktur, dialog terciptanya pengencang kurva X dan U, support structure khas mebel rotan.

Keeleganan garis-garis kurva baik pada kaki, arm rest, back rest, support X dan U terlihat wajar, pantas dan tepat. Wajar karena tidak menonjol; pantas karena karakternya tidak hilang; dan tepat karena tak dapat disubstitusi dengan bahan lain.

IMG_0420.JPG

IMG_0422.JPG

IMG_0414.JPG

IMG_0431.JPG

IMG_0426.JPG

IMG_0417.JPG

IMG_0410.JPG
Foto field study ketika belajar langsung kepada Yuzuru Yamakawa dan seluruh tim di pabriknya di Cirebon, sejak tahun 2001 hingga kini.

Dalam sketsanya, Yamakawa menghimbau bahwa tension, derajat kurva tidak pernah menonjol menjadi aksen, atau unik sendiri, melainkan kesederhanaan simetrikal dan lengkungan yang secukupnya. Nampaknya pandangannya itu, membuatnya bijaksana memandang struktur atau support seperti X atau U untuk selalu hadir. Sehingga baik support X atau U justeru menjadi keutamaan dari desain beliau, terutama support X. Di beberapa desainnya, support digantikan dengan membentuk kurva abjad Y.
Sekampiun Yamakawa pun, hal-hal yang sangat teknis, termasuk support construction juga menerima kontribusi dari tim R&D, sample maker dan bahkan penganyam. Ini yang membuat seluruh karya Yamakawa kaya dengan detail, karena setiap divisi adalah mata rantai berkaitan.

IMG_0427.JPG

IMG_0405.JPG

IMG_0429.JPG

IMG_0430.JPG
Beberapa karya Yuzuru Yamakawa yang dikenal dengan keotentikannya.

Mal orang-orangan
Satu alat bantu yang menarik adalah dimensional human body template produksi staedtler model no: 976. Sesekali ia tunjukan tidak saja untuk mengkonfirmasi ergonomi duduk, namun juga postur mebel terhadap pengguna. Ia bercerita, bahwa mal orang-orangan untuk postur Jepang telah berubah dari tahun ketahun. “Mengacu pada mal staedtler, maka selama satu dekade, maka rata-rata postur orang Jepang telah naik 2 hingga 3 centimeter!”

IMG_0433.JPG

IMG_0435.JPG

IMG_0434.JPG

IMG_0411.JPG

IMG_0413.JPG

Kini banyak desainer muda berbakat yang mengangkat material rotan dalam karya mereka. Desain-desainnya menarik, dan nampak kita masih dalam perjalanan menyesuaikan diri dengan kerabat sendiri: rotan. Dalam kedangkalan ilmu saya, banyak dari karya kita baru pada tahap ‘mendesain mebel dengan rotan.’ Masih panjang perjalanan untuk sampai pada level ‘mendesain mebel rotan’ seperti Yuzuru Yamakawa.

Gap literasi bagi pemula (novice) merupakan situasi yang wajar dalam destinasi menuju kepiawaian. Alam (realm) proses kreatif individu yang sudah piawai dijelaskan oleh Csikszentmihalyi (psikolog dalam kognisi kreatif) dalam bukunya yang tersitasi puluhan ribu kali. Csikszentmihaly memutuskan hidup dan tinggal satu atap bersama individu-individu kreatif ternama selama bertahun-tahun untuk penelitiannya. Mengutip apa yang ia tulis, seorang ‘virtuoso’ sepenuhnya terisap dalam flow ketika tengah berkarya. Flow adalah peristiwa khas ketika individu mencapai state of mood, aha effect, tahapan ‘asyik’. Artinya, ketika terisap dalam flow proses kreatif, yang ada hanya enjoyment, fun, dan rasa penasaran. Peristiwa ini sangat internally-driven, bukan karena termotivasi iming-iming, tapi begitu ‘asyik ngalir’ yang distilahkan dengan ‘autotelic’.

Setelah sekian lama menyaksikan cara Yuzuru Yamakawa menggoreskan ide-idenya. Saya yakin kemampuannya merespon material dan wujud sudah melebur, sehingga setiap tarikan garisnya adalah kebijaksanaan (wisdom) merespon esensi material.

IMG_0451.JPG

IMG_0448.JPG

IMG_0605.JPG

IMG_0606.JPG

IMG_0969.JPG

IMG_0616-0.JPG

IMG_0615-0.JPG

IMG_0968-0.JPG

Beberapa full-scaled prototype mebel rotan mahasiswa mahasiswi peserta MK Desain Mebel III DI di program studi desain interior FSRD ITB, tahun 2008. Foto terakhir adalah eksibisi seluruh prototipe dan diskusi dengan tokoh industri dan peneliti mebel rotan.
————————————–
Catatan:
* penulis tidak memiliki hak atas desain dari foto-foto diatas.
* Seluruh desain dimiliki oleh desainer yang bersangkutan (Yuzuru Yamakawa, mahasiswa desain interior ITB, dll).
* Seluruh gambar tidak dimaksudkan untuk kepentingan komersial.

PELATIHAN DESAIN & FINISHING MEBEL DI SENTRA MEBEL KAYU SUMEDANG (Paseh, Congeang)

Pelatih: Muhammad Ihsan & Deny Willy Junaidy

Kegiatan ini didanai oleh Dinas Agroindustri, Provinsi Jawa Barat
Bekerjasama dengan tim pelatih dari FSRD ITB dan tim Propan Raya

Pelatihan kali ini merupakan pelaksanaan program yang ke-lima kali. Tujuan utamanya masih menekankan kemampuan membuat keputusan desain, baik dalm hal prinsip desain (komposisi, irama, dll). Sentra mebel kayu Sumedang sendiri telah lahir sebelum 1970, sentra ini tergolong tumbuh stabil, namun disayangkan, budaya kerja di sentra mebel kayu Sumedang masih lemah. Ditandai dengan sikap memperlakukan bahan yang tidak hati-hati, serta terbiasa bekerja seolah tergesa-gesa. Dengan usia sentra yang lebih dari 40 tahun, sayangnya lagi sentra mebel kayu sumedang hanya dikenal sebagai penghasil kursi inpresan, atau mebelair kayu untuk SD inpres yang identik dengan bangku murah, kecil, dan alakadarnya. Oleh karenanya, beberapakali pelatihan yang diselenggarakan di sentra ini diorientasikan pada model-model yang tidak lazim bagi mereka, termasuk dalam hal finishing.

Berikut adalah foto-foto kegiatan hasil pelatihan desain dan finishing pada sentra mebel kayu Sumedang:

IMG_0288-1.JPG

IMG_0289-0.JPG

IMG_0292-0.JPG

IMG_0310-0.JPG

IMG_0295.JPG

IMG_0355.JPG

IMG_0344.JPG

IMG_0356.JPG

IMG_0329-0.JPG

IMG_0358-0.JPG

IMG_0357-0.JPG

IMG_0359-0.JPG

PELATIHAN PENGEMBANGAN TIKAR SAJADAH MENDONG TASIK

Oleh: Deny Willy

Pelatihan ini dilaksanakan dengan tujuan mendorang munculnya produk-produk baru tikar mendong.
Selain itu, berikutnya, melalui program ini diharapkan agar hasil produk pengembangan diserap dalam berbagai kegiatan
dan aktivitas religius khususnya bagi masyarakat Tasikmalaya, seperti produk-produk pendukung kegiatan Haji, dll.
Selain mengajarkan tentang komposisi warna, tim pelatih juga mendampingi dalam pengembangan teknik lipat dan kemasan.

SilabusGambar 1. Silabus Pelatihan Pengembangan Tikar Sajadah Mendong Tasikmalaya

IMG_2978 IMG_2980 IMG_3002IMG_3011Gambar 2. Suasana persiapan penyetelan dan praktek

IMG_3004 IMG_3006 IMG_3007IMG_3018Gambar 3. Produk akhir Tikar Sajadah Mendong Tasikmalaya

PELATIHAN DESAIN MEUBEL UKIR KAYU SUMEDANG

Oleh Deny Willy

PELATIHAN UKIR MEUBEL KAYU
Sumedang, 6-10 Juni 2011

Tenaga Ahli: Muhammad Ihsan, M. Sn. & Deny Willy Junaidy, PhD.

Dalam rangka menumbuhkan IKM di kabupaten Sumedang, maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat melaksanakan program pembinaan berupa bimbingan desain bagai para pekerja mebel dan ukir kayu di Kabupaten Subang, persisnya di kecamatan Paseh, dengan mayoritas peserta dari Desa Bongkok sebagai salah satu sentra industri meubel kayu di Sumedang. Pelatihan diarahkan untuk memberikan wawasan dan arahan mengenai keindahan oramen, motif dan bentuk pada desain meubel kayu, sehingga materi akan menekankan 4 materi sbb:
a.    Memahami Unsusr Keindahan dalam Desain
b.    Elemen Visual pada Ornamen
c.    Transformasi Bentuk (Stilasi Ornamen)
d.    Perancangan Ukiran dan Penerapannya pada Produk
Keempat materi ini akan memberikan kesadaran pada para peserta tentang memodifikasi, mengembangkan dan mengkombinasi bentuk, rupa, warna pada ukir dan produk meubel. Diakhir kegiatan peserta akan membuat produk dengan inspirasi dari nilai lokal sumedang sebagai ikon yang diproduksi oleh beberapa kelompok.

Syllabus_Ukir_Kayu_Sumedang_ApikayuGambar 1. Silabus pelatihan.

1Gambar 2. Teori tentang ragam hias, elemen estetik, transformasi bentuk dan aplikasi ukir pada mroduk meubel, yang dilanjtkan dengan praktika stilasi dari dedaunan di lingkungan. sekitar

2Gambar 3. Stilasi obyek flora dari dedaunan, praktika untuk mengetahui transformasi bentuk dari ornamen alam menjadi ornamen ukir.

4Gambar 4. Pembuatan mal pola dan pengukiran daun salak.

3Gambar 5. Pembuatan pola dan transformasi sederhana dari mahkota bina kasih dari sumedang.

5Gambar 6. Setelah pembahanan selanjutnya menampilkan bagian-bagian dari wujud meubel.

7Gambar 7. Hasil akhir penyetelan memeperlihat seluruh produk set sudah terpasang dengan detail ukir binokasih\ dan inspirasi daun salak.

IMG_7414 IMG_7420 IMG_7411 IMG_7421 IMG_7431 IMG_7406

Gambar 8. Produk meubel VW (Kodok) khas sumedang dalam proses penghampelasan; model vw 2 seat dan 1 seat.