TEKNIK PRES LAMINASI BAMBU TUTUL

Program Pelatihan Mebel Bambu Tutul di Desa Marikurubu, Tongele, Ternate, Maluku Utara, 2015
Program Direktorat IKM Wilayah 3, Kemenperin

Instruktur: Deny Willy Junaidy
Ide Desain: Dodi Mulyadi
Pelaksana: PT. Permata Kamandaya

Pelatihan Desain Bambu Tutul di Desa Marikurubu, Perkebunan Cengkeh Afo di Lereng Gunung Gamalama, Ternate telah lama difasilitasi oleh Direktorat IKM Kemenperin. Pada pelatihan kali ini, dipilih 5 perajin ahli (master craftsmen) dari sentra kerajinan setempat, dimaksudkan untuk memperoleh pengetahuan baru yang lebih maju. Teknik yang diperkenalkan adalah teknik pres laminasi bambu dengan isian kayu hitam. Teknik laminasi bambu tutul dua sisi dengan pengisi bagian dalam dari kayu hitam menghasilkan tampilan yang khas menyerupai susunan kue wafer atau biskuit dengan permukaan seolah bertabur bercak coklat. Teknik tradisional pembuatan seperti krepyak/palupuh di Ternate lebih lazim disebut teknik cincang. Prosesnya dilakukan spt mencincang bagian dalam bambu hingga dapat menghasilkan lembaran krepayak yang cukup lebar untuk kemudian di pres dengan menggunakan catok (clamp).

Banyak sekali kesulitan yang ditemui dalam proses pelatihan kali ini. Mereka sangat mahir dalam pengolahan mebel bambu, khususnya mengunakan 3 alat utama seperti gergaji sebagai pemotong, golok sebagai pembelah dan pisau raut sebagai peraut atau membuat iratan. Namun, dengan teknik baru laminasi mereka dihadapi persoalan untuk mahir mengolah bidang dengan permukaan lurus, rata dan menyiku yang tidak lazim bagi mereka, sehingga nampak proses meraut bambu/kayu menggunakan mesin planner dan mesin amplas kayu menjadi tidak mudah bagi mereka.

Proses pembahanan perautan bambu menjadi bilah bambu serta bilah kayu hitam  membutuhkan waktu sekitar 4 hari, proses perangkaan dan penyetelan menjadi semakin rumit, karena teknik konstruksi sambungan untuk lap joint atau mortise dan tenon (purus) joint betul-betul berbeda dengan teknik konstruksi bambu. Contohnya, penggunaan pahat kayu untuk membuat mortise (lubang untuk purus) tidak digunakan, para perajin lebih memilih mencungkil atau meraut lubang mortise dengan menggunakan pisau raut. Sehingga profil lubang mortise menghasilkan sudut melengkung , bukan menyiku.

Teknik lain yang diperkenalkan adalah konstruksi moduler kursi dan meja bambu tutul dengan sistem knockdown dengan pertimbangan kemudahan untuk pengiriman produk keluar pulau.

Secara keseluruhan, 3 produk berupa, Kursi Bambu Knock-down, Meja Knock-down, dan sebuah lampu dinding berhasil di selesaikan dengan hasil yang unik seperti keindahan Pulau Ternate, Pulau Tidore, Gunung Gamalama dan Danau Tolire yang megah.

Terakhir, Kami menamakan desain laminasi ini dengan laminasi ‘Wafer’.
Semoga kelak saya kembali ke tanah Ternate yang sangat indah.

   
                                       
Keindahan Pulau Ternate

   
     

PELATIHAN DESAIN MEUBEL ROTAN DAN KAYU DI PALANGKARAYA

Instruktur Desain: Deny Willy Junaidy (ITB, Bandung)
Instruktur Teknis: Yanto Aspika (Grage Palangkaraya)

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Disperindag Provinsi Palangkaraya. Peserta terdiri dari para perajin mebel kayu dan penganyam rotan. pelaksanaan selama 4 hari terbagi, dari 1 hari pelatihan desain, dan 3 hari praktek di workshop (25-28, Mei 2015).

Hari pertama diberikan materi tentang unsur-unsur visual
dan faktor pembentuk keindahan.
Hari kedua, membagi dua grup untuk membuat prototipe rotan dan rotan-kayu.

Selama proses pelatihan prototyping disampaikan pertimbangan-pertimbangan dalam membuat keputusan desain dikaitkan dengan teori pada hari pertama.

Berikut proses dan produk hasil pelatihan:

(1) Teori dasar ttg keindahan dalam meubelair   
 

(2) Produk 1 (rotan) saya ambil contoh dari karya mebel rotan
mahasiswa ITB 2008 (Kiki Sakinah).
     
  
  

(3) Produk kayu dan rotan dgn penekanan irama garis     
  
  
  
  
   

BERGURU DESAIN MEBEL ROTAN DENGAN YUZURU YAMAKAWA

Oleh: Deny Willy Junaidy

**Untuk mengenang Yuzuru Yamakawa dan seluruh staff di Yamakawa Rattan industry di Cirebon**

Mata Kuliah (MK) Desain Mebel I, II dan III merupakan mata kuliah minor kompetensi di Program Studi Desain Interior FSRD ITB. Dengan bobot 4 sks dari tiap perancangan Desain Mebel I, II, III, menjadikan MK Desain Mebel padat dengan konten teori maupun praktek. MK Desain Mebel III merupakan klimaks dari rangkaian kuliah perancangan desain mebel. Desain Mebel III mengkaji problem desain manusia akan sarana untuk beristirahat dengan cara duduk. Peserta dibekali pengetahuan standar ergonomi, bahan dan teknologi konstruksi dengan studi kasus.

Seorang pengajar senior, Dr. Prabu Wardono secara konsisten memperkenalkan material rotan sebagai studi kasus dalam MK Desain Mebel III. Hingga kini sudah 14 tahun MK Desain Mebel III di program studi desain interior ITB memperkenalkan material rotan dalam perancangan mebel. Saya bersama asisten muda lainnya menjadi asisten MK Desain Mebel III sejak tahun 2000 hingga tahun 2009, sebelum akhirnya kami sama-sama berangkat untuk studi lanjut. Kini, konten rotan dalam perancangan mebel telah terpupuk dengan baik.

IMG_0440-0.JPG

IMG_0409.JPG

Setiap tahunnya, kurang lebih 35 mahasiswa peserta MK Desain Mebel III yang dibimbing. Secara kasar, 14 tahun x +/-35 mahasiswa = +/-490 mahasiswa yang telah dibimbing untuk merancang desain mebel rotan. Bersamaan dengan 14 tahun tersebut, kira-kira selama itu pulalah para dosen pembimbing bersama mahasiswa berguru setiap tahunnya kepada desainer mebel rotan ternama, Yuzuru Yamakawa di Cirebon. Menariknya, setiap kali kunjungan ke Yuzuru Yamakawa, setiap kali itu pulalah Yuzuru Yamakawa antusias mengajarkan teknik mendesain rotan, lengkap dengan tips-tips dan kebiasaan beliau. Bukan hanya itu, beliau membuka seluruh dokumen manuskrip desain dan gambar kerja mebel rotan karya beliau! Seluruh mahasiswa dipersilahkan dengan bebas memfoto dokumen desain tersebut. Disetiap kali kunjungan, masing-masing kepala divisi spt; pembahanan, sample making, R&D, produksi, finishing, marketing menjelaskan tanggungjawab dan peran mereka. Kunjungan tahunan tersebut kemudian diakhiri dengan factory visit. Seluruh pengalaman tersebut tentu menjadi pengetahuan yang solid tentang desain mebel rotan bagi mahasiswa. Di akhir kuliah, mereka diwajibkan menghasilkan, prototipe 1:1 desain mebel rotan (easy chair).

Berikut merupakan sari pengalaman yang saya peroleh selama hampir 10 tahun belajar dari sang maestro Yuzuru Yamakawa:

Kertas Milimeter Block dan Sketsa
Sebelum menjadi shop drawing, sketsa awal desain Yamakawa diverifikasi oleh divisi R&D dan sample making. Di ujung seluruh proses desain, dihasilkan prototip, gambar mal 1:1, dan jig, siap untuk diproduksi. Walaupun sketsa awal Yamakawa belum mendetail, namun hampir seluruh sketsa beliau yang dibundel dan digoreskan diatas kertas milimeter block A3 padat dengan potongan-potongan gambar detail disana sini. Kertas milimeter block memang nampak memudahkannya membandingkan proporsi dari berbagai tampak. Saya perhatikan 2 gambar yang utama adalah tampak samping dan tampak muka dengan skala 1:10, dan 1 perspektif. Sedikit sekali saya temukan sketsa untuk tampak atas. Gambar tampak samping nampak selalu menjadi fokus utama sehingga seringkali berisi banyak bekas-bekas guratan. Demikian, ketika beliau memberikan arahan dan contoh, sketsa tampak samping selalu menjadi penekanan dengan guratan-guratan yang efisien. Kedalaman alas duduk (seat depth) dan sandaran punggung (back rest) selalu digoreskan dengan sudut dan ketinggian yang kira-kira sama. Baru kemudian, sandaran lengan (arm rest), kaki dihubungkan dengan konstruksi kaki belakang yang banyak mendapatkan perhatian dengan goresan-goresan kurva. Saya perhatikan tarikan kurva dari bagian arm rest nampak berupaya beradaptasi atau mencari penyesuaian terhadap bagian belakang seperti rangka kaki belakang atau sandaran belakang. Sehingga saya berkesimpulan, goresan-goresan arm rest adalah goresan utama dari desain beliau, kurva-kurva yang dihasilkan dari arm rest merupakan proses desain yang paling signifikan, sketsa arm rest menjadi dialog terciptanya struktur, dialog terciptanya pengencang kurva X dan U, support structure khas mebel rotan.

Keeleganan garis-garis kurva baik pada kaki, arm rest, back rest, support X dan U terlihat wajar, pantas dan tepat. Wajar karena tidak menonjol; pantas karena karakternya tidak hilang; dan tepat karena tak dapat disubstitusi dengan bahan lain.

IMG_0420.JPG

IMG_0422.JPG

IMG_0414.JPG

IMG_0431.JPG

IMG_0426.JPG

IMG_0417.JPG

IMG_0410.JPG
Foto field study ketika belajar langsung kepada Yuzuru Yamakawa dan seluruh tim di pabriknya di Cirebon, sejak tahun 2001 hingga kini.

Dalam sketsanya, Yamakawa menghimbau bahwa tension, derajat kurva tidak pernah menonjol menjadi aksen, atau unik sendiri, melainkan kesederhanaan simetrikal dan lengkungan yang secukupnya. Nampaknya pandangannya itu, membuatnya bijaksana memandang struktur atau support seperti X atau U untuk selalu hadir. Sehingga baik support X atau U justeru menjadi keutamaan dari desain beliau, terutama support X. Di beberapa desainnya, support digantikan dengan membentuk kurva abjad Y.
Sekampiun Yamakawa pun, hal-hal yang sangat teknis, termasuk support construction juga menerima kontribusi dari tim R&D, sample maker dan bahkan penganyam. Ini yang membuat seluruh karya Yamakawa kaya dengan detail, karena setiap divisi adalah mata rantai berkaitan.

IMG_0427.JPG

IMG_0405.JPG

IMG_0429.JPG

IMG_0430.JPG
Beberapa karya Yuzuru Yamakawa yang dikenal dengan keotentikannya.

Mal orang-orangan
Satu alat bantu yang menarik adalah dimensional human body template produksi staedtler model no: 976. Sesekali ia tunjukan tidak saja untuk mengkonfirmasi ergonomi duduk, namun juga postur mebel terhadap pengguna. Ia bercerita, bahwa mal orang-orangan untuk postur Jepang telah berubah dari tahun ketahun. “Mengacu pada mal staedtler, maka selama satu dekade, maka rata-rata postur orang Jepang telah naik 2 hingga 3 centimeter!”

IMG_0433.JPG

IMG_0435.JPG

IMG_0434.JPG

IMG_0411.JPG

IMG_0413.JPG

Kini banyak desainer muda berbakat yang mengangkat material rotan dalam karya mereka. Desain-desainnya menarik, dan nampak kita masih dalam perjalanan menyesuaikan diri dengan kerabat sendiri: rotan. Dalam kedangkalan ilmu saya, banyak dari karya kita baru pada tahap ‘mendesain mebel dengan rotan.’ Masih panjang perjalanan untuk sampai pada level ‘mendesain mebel rotan’ seperti Yuzuru Yamakawa.

Gap literasi bagi pemula (novice) merupakan situasi yang wajar dalam destinasi menuju kepiawaian. Alam (realm) proses kreatif individu yang sudah piawai dijelaskan oleh Csikszentmihalyi (psikolog dalam kognisi kreatif) dalam bukunya yang tersitasi puluhan ribu kali. Csikszentmihaly memutuskan hidup dan tinggal satu atap bersama individu-individu kreatif ternama selama bertahun-tahun untuk penelitiannya. Mengutip apa yang ia tulis, seorang ‘virtuoso’ sepenuhnya terisap dalam flow ketika tengah berkarya. Flow adalah peristiwa khas ketika individu mencapai state of mood, aha effect, tahapan ‘asyik’. Artinya, ketika terisap dalam flow proses kreatif, yang ada hanya enjoyment, fun, dan rasa penasaran. Peristiwa ini sangat internally-driven, bukan karena termotivasi iming-iming, tapi begitu ‘asyik ngalir’ yang distilahkan dengan ‘autotelic’.

Setelah sekian lama menyaksikan cara Yuzuru Yamakawa menggoreskan ide-idenya. Saya yakin kemampuannya merespon material dan wujud sudah melebur, sehingga setiap tarikan garisnya adalah kebijaksanaan (wisdom) merespon esensi material.

IMG_0451.JPG

IMG_0448.JPG

IMG_0605.JPG

IMG_0606.JPG

IMG_0969.JPG

IMG_0616-0.JPG

IMG_0615-0.JPG

IMG_0968-0.JPG

Beberapa full-scaled prototype mebel rotan mahasiswa mahasiswi peserta MK Desain Mebel III DI di program studi desain interior FSRD ITB, tahun 2008. Foto terakhir adalah eksibisi seluruh prototipe dan diskusi dengan tokoh industri dan peneliti mebel rotan.
————————————–
Catatan:
* penulis tidak memiliki hak atas desain dari foto-foto diatas.
* Seluruh desain dimiliki oleh desainer yang bersangkutan (Yuzuru Yamakawa, mahasiswa desain interior ITB, dll).
* Seluruh gambar tidak dimaksudkan untuk kepentingan komersial.

PELATIHAN DESAIN & FINISHING MEBEL DI SENTRA MEBEL KAYU SUMEDANG (Paseh, Congeang)

Pelatih: Muhammad Ihsan & Deny Willy Junaidy

Kegiatan ini didanai oleh Dinas Agroindustri, Provinsi Jawa Barat
Bekerjasama dengan tim pelatih dari FSRD ITB dan tim Propan Raya

Pelatihan kali ini merupakan pelaksanaan program yang ke-lima kali. Tujuan utamanya masih menekankan kemampuan membuat keputusan desain, baik dalm hal prinsip desain (komposisi, irama, dll). Sentra mebel kayu Sumedang sendiri telah lahir sebelum 1970, sentra ini tergolong tumbuh stabil, namun disayangkan, budaya kerja di sentra mebel kayu Sumedang masih lemah. Ditandai dengan sikap memperlakukan bahan yang tidak hati-hati, serta terbiasa bekerja seolah tergesa-gesa. Dengan usia sentra yang lebih dari 40 tahun, sayangnya lagi sentra mebel kayu sumedang hanya dikenal sebagai penghasil kursi inpresan, atau mebelair kayu untuk SD inpres yang identik dengan bangku murah, kecil, dan alakadarnya. Oleh karenanya, beberapakali pelatihan yang diselenggarakan di sentra ini diorientasikan pada model-model yang tidak lazim bagi mereka, termasuk dalam hal finishing.

Berikut adalah foto-foto kegiatan hasil pelatihan desain dan finishing pada sentra mebel kayu Sumedang:

IMG_0288-1.JPG

IMG_0289-0.JPG

IMG_0292-0.JPG

IMG_0310-0.JPG

IMG_0295.JPG

IMG_0355.JPG

IMG_0344.JPG

IMG_0356.JPG

IMG_0329-0.JPG

IMG_0358-0.JPG

IMG_0357-0.JPG

IMG_0359-0.JPG

PELATIHAN PENGEMBANGAN TIKAR SAJADAH MENDONG TASIK

Oleh: Deny Willy

Pelatihan ini dilaksanakan dengan tujuan mendorang munculnya produk-produk baru tikar mendong.
Selain itu, berikutnya, melalui program ini diharapkan agar hasil produk pengembangan diserap dalam berbagai kegiatan
dan aktivitas religius khususnya bagi masyarakat Tasikmalaya, seperti produk-produk pendukung kegiatan Haji, dll.
Selain mengajarkan tentang komposisi warna, tim pelatih juga mendampingi dalam pengembangan teknik lipat dan kemasan.

SilabusGambar 1. Silabus Pelatihan Pengembangan Tikar Sajadah Mendong Tasikmalaya

IMG_2978 IMG_2980 IMG_3002IMG_3011Gambar 2. Suasana persiapan penyetelan dan praktek

IMG_3004 IMG_3006 IMG_3007IMG_3018Gambar 3. Produk akhir Tikar Sajadah Mendong Tasikmalaya

PELATIHAN DESAIN MEUBEL UKIR KAYU SUMEDANG

Oleh Deny Willy

PELATIHAN UKIR MEUBEL KAYU
Sumedang, 6-10 Juni 2011

Tenaga Ahli: Muhammad Ihsan, M. Sn. & Deny Willy Junaidy, PhD.

Dalam rangka menumbuhkan IKM di kabupaten Sumedang, maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat melaksanakan program pembinaan berupa bimbingan desain bagai para pekerja mebel dan ukir kayu di Kabupaten Subang, persisnya di kecamatan Paseh, dengan mayoritas peserta dari Desa Bongkok sebagai salah satu sentra industri meubel kayu di Sumedang. Pelatihan diarahkan untuk memberikan wawasan dan arahan mengenai keindahan oramen, motif dan bentuk pada desain meubel kayu, sehingga materi akan menekankan 4 materi sbb:
a.    Memahami Unsusr Keindahan dalam Desain
b.    Elemen Visual pada Ornamen
c.    Transformasi Bentuk (Stilasi Ornamen)
d.    Perancangan Ukiran dan Penerapannya pada Produk
Keempat materi ini akan memberikan kesadaran pada para peserta tentang memodifikasi, mengembangkan dan mengkombinasi bentuk, rupa, warna pada ukir dan produk meubel. Diakhir kegiatan peserta akan membuat produk dengan inspirasi dari nilai lokal sumedang sebagai ikon yang diproduksi oleh beberapa kelompok.

Syllabus_Ukir_Kayu_Sumedang_ApikayuGambar 1. Silabus pelatihan.

1Gambar 2. Teori tentang ragam hias, elemen estetik, transformasi bentuk dan aplikasi ukir pada mroduk meubel, yang dilanjtkan dengan praktika stilasi dari dedaunan di lingkungan. sekitar

2Gambar 3. Stilasi obyek flora dari dedaunan, praktika untuk mengetahui transformasi bentuk dari ornamen alam menjadi ornamen ukir.

4Gambar 4. Pembuatan mal pola dan pengukiran daun salak.

3Gambar 5. Pembuatan pola dan transformasi sederhana dari mahkota bina kasih dari sumedang.

5Gambar 6. Setelah pembahanan selanjutnya menampilkan bagian-bagian dari wujud meubel.

7Gambar 7. Hasil akhir penyetelan memeperlihat seluruh produk set sudah terpasang dengan detail ukir binokasih\ dan inspirasi daun salak.

IMG_7414 IMG_7420 IMG_7411 IMG_7421 IMG_7431 IMG_7406

Gambar 8. Produk meubel VW (Kodok) khas sumedang dalam proses penghampelasan; model vw 2 seat dan 1 seat.

PENERAPAN KOMPOSISI UKIRAN

Konsep, Kaidah dan Desain Ragam Hias Ukiran pada Sebuah Produk

Oleh Aji Koswara

Pelatihan Desain dan Ukir Kayu 2010, Tim FSRD ITB & PPPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta.


  1. PENDAHULUAN

    Elemen ukiran pada suatu produk seringkali keberadaannya ditafsirkan dengan pandangan yang beragam.. Penafsiran yang beragam itu disebabkan oleh sifat umum dari fungsi ukiran yaitu untuk memperindah atau mempercantik suatu barang atau produk. Lebih jauh lagi pandangan mengenai ukiran pada masa kini juga sering menjadi perdebatan yang menarik mengenai perlu tidaknya suatu produk memiliki ornamen ukiran. Ukiran itu jika diperlukan, maka apa tujuan dan bagaimana desain serta penempatannya? Pertanyan seperti itu memberikan tantangan baru bagi rancangan ukiran pada produk yang sesuai dengan kebutuhan masa kini. Walaupun demikian, ukiran dan unsur visual desain lainnya pada suatu produk selayaknya ditempatkan sebagai suatu yang “melebur”, menjadi suatu kesatuan yang utuh. Akibatnya adalah bahwa proses perancangannya menempatkan ‘ukiran’ sebagai unsur visual bersama-sama dengan unsur visual desian lainnya yang terdiri dari : titik, garis, bidang, tekstur, warna dan volume serta ukiran. Dari semua pandangan mengenai ukiran, ada hal yang tampaknya menununjukan kesepakatan pandangan, yaitu bahwa daya tarik suatu ukiran tercermin dari kekaguman terhadap keterampilan tangan pengukirnya yang membawa pada penjelajahan nilai dan atau simbol yang ingin disampaikannya. Nilai yang paling sederhana adalah nilai keindahan ukiran yang sifatnya sangat subyektif, dirasakan melalui indera penglihatan dan indera rasa.

     

  2. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Setelah selesai mengikuti pembelajaran atau pelatihan ini, peserta pelatihan diharapkan memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang ukiran serta dapat membuat rancangan ukiran yang estetis pada suatu produk.

  3. PENDEKATAN PEMBELAJARAN

    Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan pembelajaran pemecahan masalah melalui pola-pola berpikir kreatif dengan teknik pemberian stimulan berupa teks dan gambar-gambar sketsa. Bobot pembelajaran teori dan praktek 30% berbanding 70%, yang disampaikan secara

     

  4. KONSEP DESAIN, KAIDAH RAGAM HIAS UKIRAN PADA SUATU PRODUK

    Ukiran pada hakehatnya keberadaannya tidak bisa berdiri sendiri, ukiran dirancang untuk menjadi bagian dari suatu barang atau produk, baik produk barang 2 dimensi maupun produk barang 3 dimensi. Dari aspek pembelajaran Bahan ajar ukiran dapat dikategorikan sebagai : (a)Bahan ajar yang sifatnya keterampilan teknis, (b) Bahan ajar yang berkaitan dengan gagasan-gagasan kreatif.

     

    D.1 Konsep Desain Ragam Hias

    Konsep Desain Ragam hias pada suatu produk akan berkaitan dengan gagasan-gagasan kreatif penciptaan desain ragam hias pada suatu produk. Ukiran terkait erat dengan karakteristik teknik atau alat yang digunakan yaitu pahat ukir, maka secara konsep, Desain Ragam hias ukiran akan berhubungan dengan pemikiran mengenai: (a) Ukiran secara konseptual merupakan bagian utuh dari rancangan suatu produk yang memiliki tema atau konsep tertentu. Artinya ukiran merupakan bagian dari suatu produk yang memiliki aspek kegunaan tertentu. (b)Desain Ragam hias ukiran sebaiknya mengeksplorasi kekuatan-kekuatan yang dimungkinkan oleh penggunaan pahat ukir yang tidak dapat dilakukan oleh peralatan lain dan (c) Ukiran merupakan hasil pekerjaan tangan yang sangat cermat, teliti tetapi tidak memperlihatkan kesamaan mutlak pada detail-detail jejak pahatannya, bahkan seringkali pada raut bentuk yang lebih besar, sehingga tidak menjadi semacam produk masal yang bisa dilakukan dengan bantuan peralatan mesin kayu atau hasil pengunaan “copying machine’.

 

D.2 Kaidah Desain Ragam Hias

Kaidah dalam ukiran menjadi sangat penting jika ukiran yang dibuat dengan motif, teknik serta gaya-gaya ukiran klasik hasil para pengukir pendahulu yang mumpuni, yang keberadaannya diakui secara luas. Kaidah itu akan berkaitan dengan bentuk permukaan, motif yang digunakan, arah dan gerak motif, makna, simbol serta tempat pada produk dimana ukiran itu ditempatkan. Kaidah-kaidah itu sebaiknya dipelajari lebih mendalam secara terpisah karena akan menyangkut aspek yang sangat kompleks seperti aspek komparasi dan perkembangan budaya. Ini penting untuk dipelajarai secara bertahap sebagai penghargaan atau penghormatan pada para pengukir pendahulu, para Mpu yang berhasil mengembangkan bahkan menciptakan gaya ukiran yang dikenal luas di berbagai negara.

Keragaman tampak pada berbagai aspek misalnya Ragam hias Pajajaran memiliki Pokok: semua daun atau bunga besar maupun kecil dibuat cembung. Ragam hias Pajajaran memiliki Culo besar atau kecil berbentuk cembung. Ragam Hias Bali memiliki Pokok: cembung dan cekung serta memiliki sunggar, yaitu sehelai daun yang tumbuh membalik dimuka berbentuk berbentuk krawingan, tumbuh dari ulir bagian benang. Ragam hias Jepara garis besar motifnya berbentuk prisma-segitiga yang melingkar-lingkar dan pada penghabisan lingkaran berpecah menjadi beberapa helai daun menuju ke bagian gagang atau pokok. Kaidah-kaidah tersebut secara visual menunjukan karakteristik ragam hiasan tertentu. Di Jawa dan Bali terdapat banyak gaya ukiran yang sudah dikenal dan diakui secara luas seperti : Gaya ukiran Pajajaran, Cirebon, Pekalongan, Mataram, Majapahit, Bali, dan Madura. Tiap perbedaan gaya atau ragam hias memperlihatkan karakteristik tersendiri. Perbedaan keindahann dari masing-masing gaya akan lebih dapat dirasakan ketika berhadapan langsung dengan ukiran yang menjadi bagian dari produk atau barang. Artinya adalah, bahwa kaidah bagi sebuah karya ukiran juga menyangkut pada kedekatan atau persamaan yang dapat dirasakan oleh para pemerhatinya. Sebagai contoh amatilah gaya ukiran Madura dan kemudian perbandingkanlah dengan gaya ukiran Jepara, maka apa yang dikemukakan di atas akan dapat lebih dirasakan keberadaannya, terutama dalam upaya memahami kaidah-kaidah ukiran.

Ragam hias ukiran juga berkembang sejalan dengan kebutuhan masyarakat masa kini, maka terbuka kemungkinan pada tumbuhnya gagasan-gagasan baru ragam hias ukiran. Keberadaan kaidah tentunya didahului oleh kebakuan yang diakui keberadaannya di masyarakat, maka ragam-ragam hias masa kini dapat menempatkan kaidah-kaidah ukiran klasik sebagai rambu-rambu dalam proses kreatif penciptaan ragam hias ukiran baru dan membuka luas peluang bagi tumbuhnya kaidah baru bagi ukiran.

 

  1. DESAIN RAGAM HIAS UKIRAN

    Desain ragam hias ukiran dapat berada pada barang produk atau pada karya Desain Arsitektur. Konsep dan Kaidah pada keduanya pada hakekatnya sama, hanya pada aspek dimensi ruang yang memberi nuansa perbedaan dan berpengaruh pada pilihan gaya, detail dan penempatannya.

  2. BEBERAPA GAGASAN STUDI DESAIN RAGAM HIAS UKIRAN PADA PRODUK.

F1. Studi 1A

Gambar No: F1/1

Pengantar Studi Ruang ‘3 Dimensi’ Pada Bidang datar

 

F1. Studi 1B

Studi 1B: ‘Ruang 3 Dimensi” pada Ukiran Bidang datar

(Lihat Gambar No: F1/1)

Tujuan Pelatihan:

Setelah melakukan latihan ini peserta pelatihan dapat menggambarkan ruang

‘3 Dimensi’ ukiran pada kayu bidang datar, dengan memanfaatkan faktor penempatan obyek ukiran secara perspektifis dan komposisi kedalaman dan kedangkalan ruang, serta perbedaan dimensi antara obyek yang beada di depan dan yang dibelakang.

Pengantar Latihan Praktek Desain

  1. Tentukan bentuk geometris yang akan dijadikan sebagai obyek studi, misalnya : Bola, kerucut, silinder, limas atau kubus.
  2. Letakan bola diantara satu bidang datar (disini contohnya Dinding tembok bata). Bidang tersebut bisa berupa bidang, atau garis atau kumpulan titik.
  3. Tempatkan raut bentuk bola pada: (c1) Tempatkan bola kedua-duanya pada anak tangga, (c2) Tempatkan bola satu di atas anak tangga dan bola lainnya di depan bidang dinding bata dan (c3). Tentukan penempatan bola yang satu dibelakang bidang dinding bata dan bola lainnya didepan bidang dinding bata.
  4. Perhatikan ketiga gambar tersebut, kemudian bandingkan dan rasakan ruang ‘3 dimensi’ yang terjadi pada ketiganya.

 

Latihan


Buatlah latihan seperti di atas dengan menggunakan motif yang berbeda (pengganti bola) serta unsur visual pembatas yang lain (pengganti bidang bata), dengan susunan yang disesuaikan dengan karakteristik elemen visual yang berbeda . Amati hasilnya dan kembangkan ke kemungkinan-kemungkinan diperolehnya ruang ‘3 dimensi’ yang lain lagi.

Hasil Latihan

Hasil latihan akan berupa gambar sketsa ruang ‘3 Dimensi’ yang digambar pada satu lembar kertas gambar yang terpisah.

 

F2.Studi 2A

 Gambar No: F2/2

Studi Awal Sketsa Motif Tumbuhan

 

F2. Studi 2B

Studi 2B: Sketsa Awal Desain Ukiran Motif Tumbuhan

(Lihat Gambar No: F2/2 )

A. Tujuan Pelatihan:

Setelah melakukan latihan peserta diharapkan dapat membuat sketsa tumbuhan yang merupakan keterampilan awal dalam membuat Desain Ukiran motif tumbuhan pada bidang datar.

 

B. Pengantar Latihan Praktek Desain

(a). Amatilah lingkungan tumbuhan di sekitar kita, kemudian pilihlah satu pohon atau satu kelompok pohon dan buatlah gambar sketsanya yang struktur keseluruhan dan detailnya dibuat semirip mungkin dengan pohon yang sebenarnya.

  1. Gambar sketsa Garis-garis (gambar tangkai atau rantingnya) dan bidang-bidang (daunnya) mungkin terlalu riuh atau ramai untuk dibentuk oleh pahat ukir.
  2. Lakukan pengamatan terhadap gambar tersebut meliputi bentuk keseluruhan, keseimbangannya, garis-garisnya, bidang-bidangnya, titik dan unsur visual lainnya yang ada pada gambar tersebut.
  3. Perhatikan dan amati sketsa yang saudara buat dan tentukan inti dari keseluruhan struktur pohon, konfigurasi bidang-bidang (daun) dan elemen-elemen yang tidak esensial dihilangkan.
  4. Buatlah sketsa desain ukiran motif tumbuhan yang merupakan perkembangan dari gambar sketsa awal yang telah dibuat sebelumnya.

 

C. Latihan

Buatlah latihan seperti di atas dengan menggunakan motif tumbuhan yang ada diseliling, selanjutnya dikembangkan menjadi sketsa desain motif ukiran tumbuhan yang siap untuk diterapkan..

D. Hasil Latihan

Hasil latihan akan berupa: (a) Sketsa gambar tumbuhan, (b) Sketsa gambar desain ukiran yang merupakan pengembangan dari sketsa (a).


F3.Studi 3A

 

Gambar No: F3/3

Gambar struktur motif tumbuhan sebelum diperkaya

untuk menjadi suatu motif ukiran

F3. Studi 3B

Studi 3B: Sketsa Awal Desain Ukiran Motif Tumbuhan

(Lihat Gambar No: F3/3 )

 

  1. Tujuan Pelatihan:

    Setelah melakukan latihan peserta diharapkan dapat membuat sketsa sketsa struktur batang pohon, cabang dan ranting pohon yang membentuk suatu pohon.

     

  2. Pengantar Latihan Praktek Desain

    Tidak semua cabang atau ranting pohon yang ada harus digambar, pilih da tentukan cabang dan ranting pohon yang secara keseluruhan satu dengan yang lainnya memiliki nilai estetis.

    1. Amatilah lingkungan tumbuhan di sekitar kita, kemudian pilihlah satu pohon atau satu kelompok pohon dan buatlah gambar sketsa struktur pohon keseluruhan (sketsa 1)
    2. Perhatikan gambar sketsa tersebut, mungkin saja cabang atau ranting pohonnya terlalu kompleks atau rumit, atau barangkali kurang banyak sehingga terkesan kosong. Tambahkan atau kurangi batang atau ranting sehingga pohon tampak lebih menarik (sketsa 2)
    3. Gambar sketsa Garis-garis (gambar tangkai atau rantingnya) dan bidang-bidang (daunnya) mungkin terlalu riuh atau ramai untuk dibentuk oleh pahat ukir, kurangi dan seimbangkan (sketsa 3) dan seterusnya.
    4. Lakukan pengamatan terhadap gambar tersebut meliputi bentuk keseluruhan, keseimbangannya, garis-garisnya, bidang-bidangnya, titik dan unsur visual lainnya yang ada pada gambar tersebut.
    5. Perhatikan dan amati sketsa yang saudara buat dan tentukan inti dari keseluruhan struktur pohon, konfigurasi bidang-bidang (daun) dan elemen-elemen yang tidak esensial dihilangkan.
    6. Buatlah sketsa desain ukiran motif tumbuhan yang merupakan perkembangan dari gambar sketsa awal yang telah dibuat sebelumnya.

 

  1. Latihan

    Buatlah latihan seperti di atas dengan menggunakan motif tumbuhan yang ada diseliling, selanjutnya dikembangkan menjadi sketsa desain motif ukiran tumbuhan yang siap untuk diterapkan..

     

  2. Hasil Latihan

    Hasil latihan akan berupa: (a) Sketsa gambar tumbuhan, (b) Sketsa gambar desain ukiran yang merupakan pengembangan dari sketsa (1.2 dan seterusnya).

F4.Studi 4A


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar No: F4/4

Sketsa Motif Bunga Azalia

 

F4. Studi 4B

Studi 4B: Sketsa Awal Desain Ukiran Motif Bunga

(Lihat Gambar No: F4/4)

 

  1. Tujuan Pelatihan:

    Setelah melakukan latihan ini peserta latihan dapat membuat sketsa awal ukiran motif tumbuhan dengan gaya naturalis dan dapat membuat sketsa ukiran motif bunga dari sketsa motif tumbuhan awal.

 

  1. Pengantar Praktek Latihan Desain
    1. Garis-garis pada gambar sketsa bunga No: F4/4 memperlihatkan gambar garis-garis dan bidang yang lebih jelas, tetapi masih belum cukup untuk dijadikan sebagai gambar sketsa desain ukiran yang siap digunakan.
    2. Elemen visual garis dan bidangnya perlu ditambah atau dikurangi sesuai dengan kebutuhan untuk mewujudkan ukiran yang terkesan garis-garisnya luwes sesuai dengan karakteristik bunga.
    3. Pengamatan dilanjutkan dengan mencari setangkai bunga dan ranting kecilnya kemudian buatlah gambar sketsa desainnya.
    4. Perhatikan elemen-elemen visual yang digambar karena setiap titik, garis atau bidang akan dibentuk oleh pahat ukir yang sesuai dengan dimensi yang telah ditentukan melalui gambar sketsa.
    5. Pola penempatan motif dapat dilakukan dengan studi-studi sederhana seperti tampak pada gambar berikut:


 

Gambar No: F4/4A

Studi penempatan pola bunga pada bidang motif ukiran

Studi motif bunga bisa dikembangkan dengan studi penempatan motif bunga pada berbagai raut bentuk bidang dan pengembangan motif itu sendiri.

 

  1. Hasil latihan

    Hasil latihan berupa gambar sketsa Desain Ukiran Motif Bunga digambar pada kertas gambar yang terpisah.

 

F5. Studi 5A, B, C, D

 

 

Gambar No:F5/5A

Sketsa awal desain ukiran motif tumbuhan merambat.


Gambar No:F5/5B

Sketsa awal desain ukiran motif tumbuhan merambat

 


Gambar No:F5/5C

Sketsa awal desain ukiran motif tumbuhan merambat.

 

 

Gambar No:F5/5D

Sketsa awal desain ukiran motif tumbuhan merambat.

 

F6. Studi 6A

Studi 6B: Sketsa awal desain ukiran motif tumbuhan merambat

(Lihat Gambar No: F5/5A,B,C,D)

 

A. Tujuan Latihan:

Setelah melakukan latihan ini peserta latihan mengetahui dan dapat membuat sketsa awal ukiran motif tumbuhan merambat dengan gaya naturalis dan dapat membuat sketsa ukiran motif bunga dari sketsa motif tumbuhan awal.

  1. Pengantar Praktek/Latihan Desain
  1. Tiga gambar yang diletakan berurutan ke bawah memperlihatkan langkah-langkah dalam mencari pola-pola arah dan gerak motif tumbuhan merambat.
  2. Terdapat banyak kemungkinan jumlah langkah yang dapat digunakan, bisa tiga langkah atau bahkan sampai lima langkah.
  3. Elemen visual garis yang memiliki arah dan gerak merupakan tempat untuk menempatkan elemen visual lainnya seperti bidang yang berupa daun, bunga atau buah.
  4. Studi ini memiliki kemungkinan yang luas, sebagai contoh berapa ratus raut kontur motif daun yang bisa digambar dan juga distilir sehingga menjadi raut bentuk yang menarik.
  5. Penempatan dan kepadatan ruang antara daun dengan daun, daun dengan ranting dengan buah dan seterusnya berpengaruh pada pilihan desain yang hendak dimunculkan.
  6. Perlu berhenti sejenak untuk mengamati secara lebih mendalam apakah konfigurasi yan dibuat sudah ‘baik’.
  7. Perhatikan elemen-elemen visual yang digambar karena setiap titik, garis atau bidang akan dibentuk oleh pahat ukir yang sesuai dengan dimensi yang telah ditentukan melalui gambar sketsa.

 

  1. Latihan

    Dengan pola pemikiran yang serupa dan dapat diperkaya dengan gagasan yang muncul selama proses latihan, buatlah Ragam Hias tumbuhan merambat yang lebih menarik.

     

  2. Hasil Latihan

    Hasil latihan berupa gambar sketsa Desain Ukiran Motif Tumbuhan merambat yang digambara pada kertas gambar yang terpisah.


  1. BEBERAPA GAGASAN STUDI DESAIN RAGAM HIAS UKIRAN PADA PRODUK.

 

F7.Studi 7A

F7. Studi 7B

Studi 6B: ‘Ranting Pohon’ sebagai Gagasan Desain Ukiran

(Lihat Gambar No: F7/7A)

 

Tahap-tahap pembelajaran:

  1. Tujuan Latihan:

    Setelah melakukan latihan ini peserta latihan dapat memilih dan menentukan raut visual dalam membuat sketsa awal ukiran motif tumbuhan dan mampu memperkaya dengan menambahkan elemen visual lainnya dalam satu konfigurasi elemen-elemen visual baru.

     

  2. Pengantar Praktek/Latihan Lihat Gambar No: F7/7A:
    1. Gambarlah kontur sebatang ranting pohon yang bentuknya memiliki daya tarik estetis tertentu.
    2. Buatlah beberapa raut ranting-ranting yang serupa.
    3. Susunlah ranting-ranting yang serupa dengan pola tertentu, misalnya dengan menempatkan, berjajar, bersinggungan, saling tumpang tindih, begitu juga arahnya: tegak lurus, miring atau berbaring
    4. Pada awal penyusunan elemen-elemen visual, gunakanlah teknik pola ulang, kemudian kembangkan ke pola-pola atau konfigurasi kreatif yang lain.
    5. Perkayalah elemen visual ranting dengan unsur visual lainnya seperti bidang, atau tekstur serta bentuk atau volume. Elemen visual itu dapat berupa buna, buah atau daun dan tekstur.
    6. Penyusunan elemen visual ukiran juga akan diperkaya nilai-nilai yang hanya dapat dirasakan dengan indera rasa, jika sejak awal dan selama penyusunan di tentukan tema ukiran yang diinginkan.
    1. Latihan

      Buatlah gambar sketsa pengembangan desain ukiran dari ide”Ranting pohon”, dengan menambahkan dan mengurangi elemen viaual yang tidak perlu.

  1. Hasil Latihan

    Hasil latihan berupa gambar sketsa Desain Ukiran Motif motif tumbuhan merambat digambar pada kertas gambar yang terpisah.

F8. Studi 8A


 

F9. Studi 9A


 

 F10. Studi 10A

 

 

F11. Studi 11A


F12. Studi 12A


F13. Studi 13A

 

F14. Studi 14A


F15. Studi 15A


F16. Studi 16A


DAFTAR PUSTAKA

Koswara Aji. (1996). Ukiran jepara. Tesis Magister ITB. Bandung: Tidak dipublikasikan.

Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Jepara. (1976). Risalah dan Kumpulan Perkembanagn Seni ukir Jepara. Jepara: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Jepara.

Sudarmono dan Sukijo. ((1979). Pengetahuan Teknologi Kerajinan Ukir
Kayu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1979.

The Pepin Press. (1998). Indonesian Ornamental Design. Singapore: The Pepin Press.