Wardono, P., Willy, D. (2005) Furnitur Tradisional (Kayu, Bambu, Rotan) (DI-40A5), Penerbit ITB

Citation:

Wardono, P., Willy, D. (2005) Furnitur Tradisional (Kayu, Bambu, Rotan) (DI-40A5), Penerbit ITB

 

Furnitur Tradisional (Kayu, Bambu, Rotan)

*Manuskrip tentang kayu tidak saya sertakan.

 

 

Advertisements

INOVASI PAPAN DAN BALOK ROTAN LAMINASI

Papan dan balok rotan laminasi
*Paten dimiliki oleh Dodi Mulyadi (2015)
——-

Rotan, salah satu bahan baku lokal Indonesia yang sangat strategis. Tumbuh liar berlimpah dan beragam jenisnya di hutan rawa-rawa Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Penggunaan material rotan pada produk kerajinan dan furnitur memanfaatkan tiga olahan bahan rotan, yakni:

(a). BATANG, berdiameter 8mm, 10mm, 12 mm hingga 30mm. Batang rotan dibagi menjadi dua, yakni ‘poles’ (sudah dikuliti) dan ‘asalan’ (belum dikuliti)
(b). PITRIT, ataujuga disebut Core, dihasilkan dari batang berdiameter 30mm kemudian dibelah menjadi untaian berdiameter 2/3mm. Pitrit/core adalah bahan anyaman.
(c). LASIO, atau disebut kulin, yang dikupas dari batang dan digunakan untuk bahan anyam

Bahan rotan utamanya dikenal karena kelenturannya, sehingga desain mebel rotan selalu berciri kurvatur/lengkungan. Dodi Mulyadi yang menekuni bambu dan rotan berinisiatif mengembangkan potensi lain dari rotan. Teknik pembuatan papan rotan adalah menggunakan teknik laminasi dan sistem press. Untuk pembuatan kurva khusus terhadap laminasi rotan maka digunakan jig cetakan (seperti pada gambar).

Kelebihan dari papan atau balok rotan adalah:
– mudah dilengkungkan
– volume yang ringan (dengan piIhan jenis rotan tertentu).

Pengembangan papan dan balok rotan laminasi saat ini telah diterapkan pada produk mebel. Tiga buah desain kursi dibawah dbuat dari papan rotan laminasi. Salah satunya menerapkan sistem knock-down dengan bagian-bagian lengkungan yang mudah dicetak. Kursi papan rotan laminasi memiliki potensi pengembangan dan genre desain mebel ritan baru.

Saat ini, pengembangan lanjut dari papan atau balok rotan direncanakan menjadi standar/klasifikasi seperti kayu, misalnya seperti, kamper samarinda, kamper medan, kamper banjar; atau meranti surabaya, meranti kalimantan, meranti sumatera. Berikutnya balok atau papan rotan akan diklasifikasi berdasarkan daerah penghasilnya, contoh, papan rotan tohiti sulawesi tengah, papan rotan tohiti sumatera, papan rotan tohiti jawa. Contoh lain adalah, balok rotan manau sulawesi, balok rotan kalimantan, dll.
Jenis atau klasifikasi papan atau balok rotan nantinya akan ditentukan berdasar grade, yang bisa dilihat dari berat, kualitas dan warna. Kedepan, untuk produksi komersil masal,papan atau balok rotan laminasi dibutuhkan SNI. (ditulis oleh: Deny Willy Junaidy)

IMG_0366-0.JPG

IMG_0363.JPG

IMG_0370-0.JPG

IMG_0375-0.JPG

IMG_0373-0.JPG

IMG_0369.JPG

IMG_0376.JPG

IMG_0382.JPG

IMG_0383.JPG

IMG_0385.JPG

IMG_0384.JPG

METODA ‘KOMIK’ DALAM RISET DESAIN

Menulis Thesis atau Menggambar Thesis?

Nick Sousanis memperoleh gelar Doctor of Education (EdD) di Columbia University Teacher’s College tahun 2014 dengan disertasi berformat komik! Disertasinya berjudul UNFLATTENING (Menyembul) adalah eksperimen berpikir visual (visual thinking) menentang bentuk konvensional wacana ilmiah. Sousani mengevaluasi pakem diskursus akademik yang selalu berkutat pada pencapaian berbasis ‘TEKS,’ sedangkan ‘GAMBAR’ selalu dianggap informasi sekunder, pelengkap dan sisipan. ‘Unflattening’ adalah argumentasi tentang kelemahan dimensi tekstual konvensional bila dibandingkan dimensi visual. ‘Unflattening’ mengajarkan kita bagaimana mengakses mode pemahaman diluar kebiasaan.

Ia mengilustrasikan cara berpikir visual ala Al Tusi hingga Copernicus yang telah memperluas imajinasi mereka sehingga mampu memahami sistem tata surya. Cara berpikir visual tersebut Sousanis ilustrasikan dengan seseorang yang melakukan observasi di antariksa terhadap orbit bumi mengelilingi matahari. Dibutuhkan “dua mata” untuk memahami jarak antar bintang, ‘satu mata’ dengan persepsi di bumi, dan ‘satu mata’ lainnya ketika berada dalam gerak di antariksa.

Saya sendiri belum terbayang paper-nya di Journal of Curriculum and Pedagogy, tetapi disertasinya masuk dalam pameran penelitian di Microsoft Research di Seattle. Disertasinya diterbitkan menjadi buku oleh Harvard University Press. Disertasinya hingga saat ini masih menjadi perbincangan dan perdebatan hangat di grup diskusi para peneliti desain.

Siap-siap mahasiswa kita menggambar thesis-nya? 🙂
Gambar dibawah adalah beberapa lembar isi disertasi Sousanis.


 

Sousanis2 Sousanis3 Sousanis1 Sousanis6 Sousanis5 Sousanis4

 

 

 

 

 

TEORI HEMISFER OTAK KIRI & KANAN

Mitos populer adanya individu dgn dominasi otak kiri atau otak kanan diawali tahun 1861. Seorang pasien yang berkurang kemampuan berkomunikasinya diketahui mengalami kerusakan otak di bagian hemisfer kiri. Selanjutnya, tahun 1960 ada eksperimen dengan subyek epilepsi, dimana subyek tsb sulit mengkomunikasikan ‘stimulasi gambar’ yg dilihatnya di layar sebelah kiri, sedangkan ‘stimulasi kata-kata’ disebelah kiri mudah ia komunikasikan dan demikian sebaliknya. Eksperimen ini menjelaskan bahwa otak kiri berkorelasi dengan bahasa dan otak kanan berkorelasi dengan kemampuan visual. Puluhan tahun berikutnya hasil eksperimen ini menjadi budaya populer: individu kreatif adalah otak kanan, individu logis dan sistematik adalah otak kiri.

Sejak 1980an teknologi brain imaging semakin berkembang dan telah berlimpah tulisan ilmiah yang meluruskan teori hemisper kanan-kiri. Para neuroscientist memastikan bahwa BELUM ADA BUKTI adanya peran dominasi otak kanan atau kiri. Yang masih berlaku adalah, otak kanan mengontrol bagian tubuh kiri dan sebaliknya. Neuroscientist menegaskan, otak demikian saling melengkapi dan tidak sepenuhnya lateral, contoh: ketika otak kiri memproses grammar dan pronunciation, maka otak kanan memproses intonasi.

Ketika saya studi PhD tentang Kognisi Desain di Lab. Proses Kreatif di Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST). Saya bertemu secara pribadi peneliti-peneliti ternama teori maju kreativitas desain (walau bukan neuroscientist), kebetulan mereka kolega dekat pembimbing saya. Tulisan dan percakapan dengan mereka membuka wawasan betapa ‘mitos’ populer tersebut masih diajarkan di kampus2. Beberapa peneliti ternama tersebut adalah:

Gabriela Goldschmidt ==> Linkography Model (logika proses kreatif);
John Gero ==> Function-Behavior-Structure Ontology of Designing;
Yukari Nagai ==> Associative Concept Network Analysis;
Hernan Casakin ==> The Cognitive Profile of Creativity;
Amaresh Chakrabarti ==> An Anthology of Theories and Models of Design;
Toshiharu Taura ==> Virtual Impression Networks for Capturing Deep Impression.

 

PENGEMBANGAN DESAIN MAINAN ROTAN

Penelitian dan pengembangan desain ini dibiayai ITB melalui 
Program Riset Unggulan – Pusat Penelitian Poduk Budaya dan Lingkungan LPPM ITB

Peneliti:

Budi Isdianto, M.Sn.
Deny Willy J, PhD.
Omar Handojo, M.Sn.

Asisten Peneliti: Krissandi, Muhammad Alfath, Fajrin Ramdani

Kerjasama:
Perkumpulan Untuk Pengmbangan Usaha Kecil (PUPUK)
Yayasan Apikayu
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palangkaraya

  

DESAIN #1 (RATTANIMAL PUZZLE)
Konsep dari desain Rattanimal adalah permainan merangkai (puzzle) yang menstimulasi kreativitas anak. Menggunakan teori Bisociation dan Concept Blending karya (Koestler, 1974; Nagai, et al., 2009) bahwa menggabungkan dua konsep yang berbeda atau bertabrakan dapat menghasilkan konsep yang tidak familiar dan berpotensi menjadi konsep yang kreatif. Maka Rattanimal mengembangkan puzzle yang wujudnya justeru menjadi rancu sebagai sebuah binatang yang konkrit, burung seperti ikan yang dapat melata atau ular seperti kerbau yang dapat terbang. Hal ini memungkinkan anak yang memainkan menjadi berpikir abstrak dan eksploratif, hal seperti ini diyakini mendorong proses berpikir kreatif seseorang.                     

 

DESAIN #2 (CATUR ROTAN/RATTAN CHESS SET)
Konsep mainan catur berbahan rotan didasari pertimbangan, tingginya limbah potongan-potongan rotan berukuran tanggung (10-15 cm) yang sulit dimanfaatkan dalam industri mebel rotan. Potongan-potongan rotan tersebut biasanya kemudian dibakar. Produk catur rotan dihasilkan dengan utama teknik bubut. Seluruh bidak di rancangn dengan pola dasar yang sama dan cenderung menghasilkan bentuk yang primitif sehingga sangat memudahakan proses pembuatannya. Untuk bagian alas catur, keunikannya adalah membuat alas dari kepingan rotan yang dihubungkan dan diperkuat dengan jalinan tali.  

   
 

DESAIN #3 (MAINAN PAUD/EDC RATTAN TOYS)
Konsep mainan PAUD ini membuat mainan edukatif yang memanfaatkan karakter rotan dan sulit disubstitusi oleh kayu. Karakteristik mainan PAUD ini menghasilkan bentuk dan konfigurasi yang unik, yang tidak sulit dicapai menggunakan material kayu.

   
    
   

ILMU TENTANG DUDUK

Manusia adalah humanoid limited bipedal (biped), makhluk mobil ditunjang dua kaki yang memiliki keterbatasan atas peran kedua kaki. Menurut banyak teori termasuk Savanna-based theory, keterbatasan manusia dalam mengandalkan kedua kaki dikarenakan jauh dahulu kala manusia adalah makhluk quadrupedal (makhluk dengan 4 kaki). Evolusi kehidupan dari pohon ke savana membuahkan adaptasi bipedalism. Namun, adaptasi tidak serta merta menghilangkan genetik quadrupedalism. Coba ingat, pada saat posisi berdiri dengan kedua kaki, sesering apa kita semua berupaya mencari sandaran vertikal maupun horizontal, seperti menyandarkan pundak atau punggung ke dinding, seolah bidang sandar menjadi tripod. Ini yang kemudian disebut tipikal humanoid limited bipedalism.

Dalam perjalanan evolusinya, makhluk dua kaki ini menciptakan kebudayaan  duduk dengan penopang.  Duduk diatas fasilitas penopang diyakini sebagai perilaku cerdas kompromistik antara sikap bipedalism dan quadrupedalism. Hasil kecerdasan primitif ini tumbuh dengan keragaman dimensinya seperti budaya duduk, etika duduk, sosiologi duduk, kesehatan duduk dan isu praktikal. Sehingga, isu kursi  tidak lagi semata-mata memahami persoalan postur duduk atau panggul dengan milyaran syaraf dan otot yang terkontraksi setiap lima menit.

Farouk Kamal, maestro furnitur Indonesia pernah bilang: “…dalam ‘design & lifestyle’, yang tercepat adalah perkembangan fashion design, selanjutnya disusul dengan furniture design.” Ilmu desain furnitur, termasuk fasilitas duduk demikian luas mencakup gaya hidup, kreativitas, estetika, antropometri, ergonomi, teknologi material, teknologi proses, dan sosial-ekonomi. Dalam sebuah eksibisi furnitur internasional misalnya, sekian hektar biasanya didedikasikan untuk area eksibisi tentang teknologi perlindungan material, teknologi upholstery, joinery, fastener, dan proccessed material lainnya. Ya, industri desain furnitur sama seriusnya dengan sebuah industri otomotif.

Foto-foto dibawah ini adalah proses belajar kurun satu semester mahasiswa Desain Interior dalam Kuliah Desain Mebel III (Kuliah Minor Kompetensi) di FSRD ITB.

Dosen Mebel III, Semester 2, 2014/2015
Prabu Wardono, PhD.
Deny Willy Junaidy, PhD.
Dwihatmojo Danurdoro, MT.
Sendra Hestiningrum, S.Ds.

(1) Mahasiswa dalam sesi Teori Sikap Duduk
Seluruh mahasiswa diminta mengukur postur duduk yang paling nyaman menurut ukuran masing-masing, (SH, SD, ARH, BRH) menggunakan Alat Uji Ergonomi Duduk. Selanjutnya seluruh data tersebut diinput dan dicari rata-ratanya (Mean) dan dijadikan acuan standar kenyaman duduk bagi seluruh peserta dalam tugas perancangan mebel.
Mereka juga mempelajari sikap dan postur duduk santai dan formal termasuk postur condong kedepan (anterior leaning), postur tegak (medial), dan postur condong ke belakang (posterior). Disini mahasiswa mempelajari ilmu paling mendasar tentang triangulasi postur dan sikap duduk: ketinggian duduk (Seat Height), kedalaman duduk (Seat Depth), sudut kemiringan (Back Angle), lebar (Seat Width).
IMG_2233
  


 

(2) Mempelajari karakter bahan (rotan), batasan dan potensi konstruktifnya.
Mahasiswa membawa material rotan dari Cirebon ke Bengkel FSRD ITB jam 00:30 pagi, jadi pengalaman tersendiri buat mahasiswa.
IMG_2131
IMG_2137

(3) Field-trip ke Industri Mebel Rotan di Cirebon
Melakukan kunjungan rutin studi ke industri mebel rotan Yamakawa, dan lokasi lainnya di Cirebon. Sebelumnya mahasiswa membentuk grup berdasarkan aspek-aspek produksi di lapangan. grup terdiri dari:
1. Grup yang mempelajari R&D
2. Grup yang mempelajari Proses Produksi
3. Grup yang mempelajari Detail sambungan dan Material
4. Grup yang mempelajari Marketing dan Delivery
   


   

Foto dibawah adalah salah satu tugas dimana mahasiswa diminta menggambarkan 1:1 protipe kursi yang baik, dengan contoh yang diletakkan di muka kelas. Teknik penggambaran dengan teknik layering Top, Front, Left Elevation. Target utama tugas penggambaran ulang adalah menekankan kemampuan psikomotorik dan kognitif agar siswa sensitif terhadap proporsi SH, SW, SD, dan BA sebuah kursi melalui metode mengkonfirmasi dimensi dengan kompenen tangan, lengan, jari atau telapak.  
  
  
Proses asistensi desain dengan working drawing 1:1 dan mock-up 1:10 dari model kawat.
  
 

Hal ideal dari ekskursi ke industri adalah kesempatan langsung bagi mahasiswa mengkonfirmasi pengetahuan teoritis yang diterima di kelas dengan fakta di lapangan. Foto dibawah terlihat mahasiswa mengkonfirmasi standar ukuran, dan menguji kenyamanan bermacam tipe kursi (easy chair, relax chair, lazy chair, dining chair, dls).

IMG_1997 IMG_2098 IMG_2100 

(4) Design Assistance
Komponen terbesar di perkuliahan adalah proses Desain dan Pengembangan. Mahasiswa melakukan asistensi desain dan generasi konsep dari sketsa hingga pengembangan dan evaluasi. Dalam konsep generasi (Conceptual Generation) mahasiswa diperkenalkan dengan
Teknik First-Order Concept Generation, yang didekati dengan dua cara:
1a). Stimulasi kreatif sederhana seperti ‘teknik adaptasi’. Stimuli diberikan melalui contoh-contoh produk kursi rotan yang sudah teruji di pasar internasional.
1b). Mengeksplorasi kekhasan dari material rotan, kelenturan, repetisi, keluwesan.

Dalam proses konseptualisasi, hal mendasar yang selalu ditekankan adalah:
Menghindari teknik mencari “Keserupaan properti” (Similarity in Property) yakni mencari-cari atau meniru properti dari wujud artefak tertentu, seperti mencari wujud “properti buah, properti makanan, properti hewan, dls” yang hanya akan mengarah pada wujud yang lugu, kekanakkan atau lazim disebut “KITSCH”. Dalam teori kreativitas ini dinilai sebagai low-level thinking.

Dalam true creative synthesis, bentuk dan styling adalah akibat dari korespondensi yang dewasa dengan design reasoning (itu yang disebut Mies van deRohe dengan Form follows Function), ada reasoningnya……. bukan sekedar  bermain-main dengan garis, melucu dengan keserupaan garis, bidang atau volume terhadap artefak tertentu.

Nagai, Y., Taura, T., & Mukai, F. (2009). Concept blending and dissimilarity: factors for creative concept generation process. Design Studies, 30(6), 648-675.

Baca: https://apikayu.wordpress.com/2014/11/04/berguru-desain-mebel-rotan-dengan-yuzuru-yamakawa/ 

 IMG_2255 IMG_2256

(4) Students’ Final Working Drawing 
Karya Abraham Digjaya
  
  

Karya Hatif Adiar Almantara
  
   

Karya Elvinda Rahadi
   
  

Karya Annisya Syahreni S
   

Karya Eunike Victory
   
  

Karya Andriano Simarmata
  

Karya Irfianti Wandyani
  

Karya Nadysa Vinda Nawardin
 
 

 (5) Prototyping di Workshop (Yamakawa Rattan, Cirebon)

Bersambung……………..

 (5) Exhibition (Showcase)

Bersambung……………..





TEKNIK PRES LAMINASI BAMBU TUTUL

Program Pelatihan Mebel Bambu Tutul di Desa Marikurubu, Tongele, Ternate, Maluku Utara, 2015
Program Direktorat IKM Wilayah 3, Kemenperin

Instruktur: Deny Willy Junaidy
Ide Desain: Dodi Mulyadi
Pelaksana: PT. Permata Kamandaya

Pelatihan Desain Bambu Tutul di Desa Marikurubu, Perkebunan Cengkeh Afo di Lereng Gunung Gamalama, Ternate telah lama difasilitasi oleh Direktorat IKM Kemenperin. Pada pelatihan kali ini, dipilih 5 perajin ahli (master craftsmen) dari sentra kerajinan setempat, dimaksudkan untuk memperoleh pengetahuan baru yang lebih maju. Teknik yang diperkenalkan adalah teknik pres laminasi bambu dengan isian kayu hitam. Teknik laminasi bambu tutul dua sisi dengan pengisi bagian dalam dari kayu hitam menghasilkan tampilan yang khas menyerupai susunan kue wafer atau biskuit dengan permukaan seolah bertabur bercak coklat. Teknik tradisional pembuatan seperti krepyak/palupuh di Ternate lebih lazim disebut teknik cincang. Prosesnya dilakukan spt mencincang bagian dalam bambu hingga dapat menghasilkan lembaran krepayak yang cukup lebar untuk kemudian di pres dengan menggunakan catok (clamp).

Banyak sekali kesulitan yang ditemui dalam proses pelatihan kali ini. Mereka sangat mahir dalam pengolahan mebel bambu, khususnya mengunakan 3 alat utama seperti gergaji sebagai pemotong, golok sebagai pembelah dan pisau raut sebagai peraut atau membuat iratan. Namun, dengan teknik baru laminasi mereka dihadapi persoalan untuk mahir mengolah bidang dengan permukaan lurus, rata dan menyiku yang tidak lazim bagi mereka, sehingga nampak proses meraut bambu/kayu menggunakan mesin planner dan mesin amplas kayu menjadi tidak mudah bagi mereka.

Proses pembahanan perautan bambu menjadi bilah bambu serta bilah kayu hitam  membutuhkan waktu sekitar 4 hari, proses perangkaan dan penyetelan menjadi semakin rumit, karena teknik konstruksi sambungan untuk lap joint atau mortise dan tenon (purus) joint betul-betul berbeda dengan teknik konstruksi bambu. Contohnya, penggunaan pahat kayu untuk membuat mortise (lubang untuk purus) tidak digunakan, para perajin lebih memilih mencungkil atau meraut lubang mortise dengan menggunakan pisau raut. Sehingga profil lubang mortise menghasilkan sudut melengkung , bukan menyiku.

Teknik lain yang diperkenalkan adalah konstruksi moduler kursi dan meja bambu tutul dengan sistem knockdown dengan pertimbangan kemudahan untuk pengiriman produk keluar pulau.

Secara keseluruhan, 3 produk berupa, Kursi Bambu Knock-down, Meja Knock-down, dan sebuah lampu dinding berhasil di selesaikan dengan hasil yang unik seperti keindahan Pulau Ternate, Pulau Tidore, Gunung Gamalama dan Danau Tolire yang megah.

Terakhir, Kami menamakan desain laminasi ini dengan laminasi ‘Wafer’.
Semoga kelak saya kembali ke tanah Ternate yang sangat indah.

   
                                       
Keindahan Pulau Ternate