ILMU TENTANG DUDUK

Manusia adalah humanoid limited bipedal (biped), makhluk mobil ditunjang dua kaki yang memiliki keterbatasan atas peran kedua kaki. Menurut banyak teori termasuk Savanna-based theory, keterbatasan manusia dalam mengandalkan kedua kaki dikarenakan jauh dahulu kala manusia adalah makhluk quadrupedal (makhluk dengan 4 kaki). Evolusi kehidupan dari pohon ke savana membuahkan adaptasi bipedalism. Namun, adaptasi tidak serta merta menghilangkan genetik quadrupedalism. Coba ingat, pada saat posisi berdiri dengan kedua kaki, sesering apa kita semua berupaya mencari sandaran vertikal maupun horizontal, seperti menyandarkan pundak atau punggung ke dinding, seolah bidang sandar menjadi tripod. Ini yang kemudian disebut tipikal humanoid limited bipedalism.

Dalam perjalanan evolusinya, makhluk dua kaki ini menciptakan kebudayaan  duduk dengan penopang.  Duduk diatas fasilitas penopang diyakini sebagai perilaku cerdas kompromistik antara sikap bipedalism dan quadrupedalism. Hasil kecerdasan primitif ini tumbuh dengan keragaman dimensinya seperti budaya duduk, etika duduk, sosiologi duduk, kesehatan duduk dan isu praktikal. Sehingga, isu kursi  tidak lagi semata-mata memahami persoalan postur duduk atau panggul dengan milyaran syaraf dan otot yang terkontraksi setiap lima menit.

Farouk Kamal, maestro furnitur Indonesia pernah bilang: “…dalam ‘design & lifestyle’, yang tercepat adalah perkembangan fashion design, selanjutnya disusul dengan furniture design.” Ilmu desain furnitur, termasuk fasilitas duduk demikian luas mencakup gaya hidup, kreativitas, estetika, antropometri, ergonomi, teknologi material, teknologi proses, dan sosial-ekonomi. Dalam sebuah eksibisi furnitur internasional misalnya, sekian hektar biasanya didedikasikan untuk area eksibisi tentang teknologi perlindungan material, teknologi upholstery, joinery, fastener, dan proccessed material lainnya. Ya, industri desain furnitur sama seriusnya dengan sebuah industri otomotif.

Foto-foto dibawah ini adalah proses belajar kurun satu semester mahasiswa Desain Interior dalam Kuliah Desain Mebel III (Kuliah Minor Kompetensi) di FSRD ITB.

Dosen Mebel III, Semester 2, 2014/2015
Prabu Wardono, PhD.
Deny Willy Junaidy, PhD.
Dwihatmojo Danurdoro, MT.
Sendra Hestiningrum, S.Ds.

(1) Mahasiswa dalam sesi Teori Sikap Duduk
Seluruh mahasiswa diminta mengukur postur duduk yang paling nyaman menurut ukuran masing-masing, (SH, SD, ARH, BRH) menggunakan Alat Uji Ergonomi Duduk. Selanjutnya seluruh data tersebut diinput dan dicari rata-ratanya (Mean) dan dijadikan acuan standar kenyaman duduk bagi seluruh peserta dalam tugas perancangan mebel.
Mereka juga mempelajari sikap dan postur duduk santai dan formal termasuk postur condong kedepan (anterior leaning), postur tegak (medial), dan postur condong ke belakang (posterior). Disini mahasiswa mempelajari ilmu paling mendasar tentang triangulasi postur dan sikap duduk: ketinggian duduk (Seat Height), kedalaman duduk (Seat Depth), sudut kemiringan (Back Angle), lebar (Seat Width).
IMG_2233
  


 

(2) Mempelajari karakter bahan (rotan), batasan dan potensi konstruktifnya.
Mahasiswa membawa material rotan dari Cirebon ke Bengkel FSRD ITB jam 00:30 pagi, jadi pengalaman tersendiri buat mahasiswa.
IMG_2131
IMG_2137

(3) Field-trip ke Industri Mebel Rotan di Cirebon
Melakukan kunjungan rutin studi ke industri mebel rotan Yamakawa, dan lokasi lainnya di Cirebon. Sebelumnya mahasiswa membentuk grup berdasarkan aspek-aspek produksi di lapangan. grup terdiri dari:
1. Grup yang mempelajari R&D
2. Grup yang mempelajari Proses Produksi
3. Grup yang mempelajari Detail sambungan dan Material
4. Grup yang mempelajari Marketing dan Delivery
   


   

Foto dibawah adalah salah satu tugas dimana mahasiswa diminta menggambarkan 1:1 protipe kursi yang baik, dengan contoh yang diletakkan di muka kelas. Teknik penggambaran dengan teknik layering Top, Front, Left Elevation. Target utama tugas penggambaran ulang adalah menekankan kemampuan psikomotorik dan kognitif agar siswa sensitif terhadap proporsi SH, SW, SD, dan BA sebuah kursi melalui metode mengkonfirmasi dimensi dengan kompenen tangan, lengan, jari atau telapak.  
  
  
Proses asistensi desain dengan working drawing 1:1 dan mock-up 1:10 dari model kawat.
  
 

Hal ideal dari ekskursi ke industri adalah kesempatan langsung bagi mahasiswa mengkonfirmasi pengetahuan teoritis yang diterima di kelas dengan fakta di lapangan. Foto dibawah terlihat mahasiswa mengkonfirmasi standar ukuran, dan menguji kenyamanan bermacam tipe kursi (easy chair, relax chair, lazy chair, dining chair, dls).

IMG_1997 IMG_2098 IMG_2100 

(4) Design Assistance
Komponen terbesar di perkuliahan adalah proses Desain dan Pengembangan. Mahasiswa melakukan asistensi desain dan generasi konsep dari sketsa hingga pengembangan dan evaluasi. Dalam konsep generasi (Conceptual Generation) mahasiswa diperkenalkan dengan
Teknik First-Order Concept Generation, yang didekati dengan dua cara:
1a). Stimulasi kreatif sederhana seperti ‘teknik adaptasi’. Stimuli diberikan melalui contoh-contoh produk kursi rotan yang sudah teruji di pasar internasional.
1b). Mengeksplorasi kekhasan dari material rotan, kelenturan, repetisi, keluwesan.

Dalam proses konseptualisasi, hal mendasar yang selalu ditekankan adalah:
Menghindari teknik mencari “Keserupaan properti” (Similarity in Property) yakni mencari-cari atau meniru properti dari wujud artefak tertentu, seperti mencari wujud “properti buah, properti makanan, properti hewan, dls” yang hanya akan mengarah pada wujud yang lugu, kekanakkan atau lazim disebut “KITSCH”. Dalam teori kreativitas ini dinilai sebagai low-level thinking.

Dalam true creative synthesis, bentuk dan styling adalah akibat dari korespondensi yang dewasa dengan design reasoning (itu yang disebut Mies van deRohe dengan Form follows Function), ada reasoningnya……. bukan sekedar  bermain-main dengan garis, melucu dengan keserupaan garis, bidang atau volume terhadap artefak tertentu.

Nagai, Y., Taura, T., & Mukai, F. (2009). Concept blending and dissimilarity: factors for creative concept generation process. Design Studies, 30(6), 648-675.

Baca: https://apikayu.wordpress.com/2014/11/04/berguru-desain-mebel-rotan-dengan-yuzuru-yamakawa/ 

 IMG_2255 IMG_2256

(4) Students’ Final Working Drawing 
Karya Abraham Digjaya
  
  

Karya Hatif Adiar Almantara
  
   

Karya Elvinda Rahadi
   
  

Karya Annisya Syahreni S
   

Karya Eunike Victory
   
  

Karya Andriano Simarmata
  

Karya Irfianti Wandyani
  

Karya Nadysa Vinda Nawardin
 
 

 (5) Prototyping di Workshop (Yamakawa Rattan, Cirebon)

Bersambung……………..

 (5) Exhibition (Showcase)

Bersambung……………..





Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s