SEJARAH DESAIN KURSI MODERN

Disarikan dari Buku MODERN CHAIRS karya Charlotte Fiell (1993)

Oleh Deny Willy Junaidy

Budaya duduk (sitting culture) dengan menggunakan fasilitas duduk (seating facility) seperti kursi mengandung berbagai peristiwa penting dalam peradaban manusia. Kursi memiliki makna yang lebih kompleks dibandingkan meja atau jenis perabot furnitur lainnya, hal ini disebabkan hubungan interaksi manusia dengan kursi secara fisikal, psikologis dan simbolik.

Dalam konteks desain kursi modern, transformasi desain dari era ke era merepresentasikan berbagai semangat zaman (zeitgeist) atas perubahan sosial-ekonomi dunia, revolusi ilmu, teknologi, simbol status dan kekuasaan, serta lahirnya gerakan maupun ideologi berkesenian (Art & Craft Movement, Memphis, De Stijl).

Modernisme mengajarkan manusia tentang konsep teritorialisasi privat dan
publik, dan kursi kemudian ditempatkan sebagai bagian dari teritorialisasi
tersebut. Tipologi, fungsi, dan langgam kursi adalah upaya memastikan suksesnya peran kursi sebagai artifak terhadap manusia, lingkungan (interior), dan isu.

Dalam buku ‘Modern Chairs’, Dr. Cristopher Dresser (1873) mendefinisikan kursi sbb : “A chair is a stool with a back-rest, and a stool is a board elevated from the ground by support.” Artinya, kursi merupakan fasilitas duduk dengan sandaran dan topangan ketinggian’. Sayangnya, definisi tersebut menjadi terlalu sederhana ketika melihat konsep-konsep yang terkandung dalam desain-desain kursi modern. Perkembangan seni, sains dan teknologi, disertai dengan tumbuhnya berbagai gerakan ideologi berpengaruh langsung terhadap kursi pada khususnya, dan bahkan disebut-sebut menjadi generasi baru seni yang terindustrialisasi. Berikut kita bahas beberapa kursi-kursi modern yang monumental.

KURSI THONET
Di era modernisme, kursi Thonet, merupakan gebrakan dalam industri furnitur. Teknik pelekukkan kayu solid (steam bending) pada tahun 1836 menjadi titik awal sejarah industrialisasi furnitur bersamaan dengan gerakan revolusi industri di belahan dunia lain. Adalah Michael Thonet, desainer furnitur kelahiran Austria yang mempatenkan teknik tersebut.
Setelah ia memperoleh hak paten dalam teknik pelekukan kayu, Ia menekankan preseden baru dalam konteks evolusi kursi modern, yakni eliminasi corak, penekanan material alami, kenyamanan, serta keindahan.

Ditandai oleh William Smith Williams, dalam judul ceramah kuliahnya tahun 1849 berjudul ‘Importance of the Study of Design’ yang berisi tentang adaptasi benda dengan kebutuhannya sebagai bentuk gejala lahirnya modernisme yang terus bergulir sejalan dengan aspirasi modernisme arsitektur ‘Less is more’, ‘Simplicity is beauty’, ‘Form follow function‘ serta ‘Reason is the first principle of all human work’. Konsep terwakilkan oleh karya-karya para modernis seperti Mies van der Rohe, Le Corbusier, Frank Lloyd Wright, dan tokoh sealiran lainnya.

Thonet, sebagai pemilik industri manufaktur furnitur ‘Gebruder Thonet’ menjadi ikon yang mewakili lahirnya produksi massal pertama di bidang manufaktur furnitur. Kursi Thonet Model No. 14 telah diproduksi sebanyak 40 juta unit antara tahun 1859 sampai 1914. Dengan sistematika proses fabrikasi yang serupa dengan era saat ini, dengan mempekerjakan tidak kurang dari 25.000 pegawai di 60 pabrik tersebar di jajaran Eropa.

IMG_0640-2.JPG
Kursi Thonet Model No. 14

Era berikutnya manufaktur furnitur semakin mengembangkan alat yang meniru pola kerja tangan. Kinerja pertukangan semakin bergeser menjadi kurang berarti. Sistem industrialisasi sangat efektif untuk memenuhi tuntutan kuantitas sedikit demi sedikit memupuk sentimen terhadap industrialisasi itu sendiri. Sentimen tersebut merupakan ideologi kebersamaan bagi para seniman dan ahli pertukangan yakni semangat Art and Craft Movement dipelopori oleh John Ruskin dan william Morris. Gerakan ini menghangat sebagai bentuk resistensi terhadap revolusi industri, sebuah semangat yang menitikberatkan manifestasi kriawan dan seniman agar lebih dihargai serta sebagai kontrol terhadap laju industrialisasi.

ERA ART AND CRAFT MOVEMENT
Art and Craft Movement sangat berpengaruh bagi beberapa sekolah seni dan desain selanjutnya. Glasgow School of Art di Inggris merupakan bagian sejarah gerakan ini, tokoh seperti Charles Rennie Mackintosh dengan karyanya Side Chair memberikan inspirasi besar bagi hidupnya gaya abstrak geometrik. Cita rasa abstrak geometrik ala Mackintosh masih mungkin diperoleh pada sentra furnitur tradisional di Semarang, Indonesia dengan sebutan gaya Semarangan.

IMG_0642.JPG
‘Side Chair’ karya Rennie Mackintosh

IMG_0641-0.JPG
‘Kursi Semarangan’ bergaya abstrak geometrik

‘SITZMASCHINE’ YANG MENGEJEK ART NOUVEAU
Sitzmaschine Model No. 670 seolah memperolok gaya Art Nouveau
Modernisme terus berusaha menegaskan eksistensinya, Josef Hoffman dalam karyanya Sitzmaschine Model No. 670 seolah memperolok gaya Art Nouveau dengan penampilan yang agak canggih pada eranya (canggih, karena dilengkapi dengan slot reclining sandaran). Diperkuat lagi dengan pernyataan sikap dari grup arsitek dan desainer modernis ‘The Deutsche Werkbund’ yang mengajukan redefinisi terhadap produk industri dalam sebuah wujud kesatuan seniman, industrialis, kriawan dalam menjunjung tinggi nilai yang lebih bermakna dalam desain. Salah seorang anggotanya, Adolf Loos menulis sebuah karya provokatif berjudul ‘Ornament und Verbrechen’ yang berarti penggunaan ornamen secara berlebihan merupakan kehinaan dan kejahatan. Selanjutnya terbit lagi, ‘Form ohne Ornament’ satu gambaran tentang industrialisasi berbasis hanya pada fungsi.

IMG_0643.JPG
Sitzmaschine Model No. 670 karya Josef Hoffman

Perkembangan industrialisasi dan manufaktur furnitur layak berterimakasih pada perkembangan gerakan-gerakan ideologis yang subur kala itu. Modernisme industrialisasi belum sama sekali menemui jati dirinya sebelum konsep unggul serta makna sejati dari modernisme itu sendiri dibangkitkan oleh ‘Red and Blue Chair’ karya. maestro Gerrit Rietveld. Kursi tersebut memberikan catatan utama terhadap faham modernisme. Kursi Retvield bukan meramaikan selebrasi material baru atau teknik konstruksi baru, melainkan menegaskan sebuah konsekuensi modernisme. Ia mempertanyakan perlunya kebiasaan jaring dan pelapis, meminimumkan bahan dan material, serta menggunakan potongan-potongan kayu dengan ukuran selayaknya serta sambungan yang ringkas sebagai jawaban sekaligus sindiran terhadap modernisme dan industrialisasi yang tetap berpijak pada teknik kria konvensional. Artinya, kesederhanaan dalam konstruksi memudahkan produk tersebut untuk diproduksi secara massal dalam skala besar. Tampak visualnya yang ringan juga mensyaratkan bahwa sebuah kursi tidak perlu berpenampilan berat, baik secara material maupun visual yang sering diasosiasikan dengan biaya tinggi. Begitu pula dengan beberapa pilihan warna primer, semua aspek-aspek tadi merupakan kesimpulan terhadap makna rasionalisasi desain. Walau bentuk kursi yang cenderung avant-garde tersebut tidak sedap dipandang, namun ia ada sebagai kompas modernisme. Sehingga para publik di era tersebut beranggapan, inilah definisi seni baru setelah kubisme, abstrakisme dan dadaisme.

IMG_0644.JPG
‘Red and Blue Chair’ karya Gerrit Rietveld

ERA TEKNOLOGI COR BESI, CUSHION DAN UPHOLSTER
Tradisi perdebatan di era tersebut semakin menuju hirukpikuk ideologis dari pada teknis. ‘Red and blue chair’ kemudian dipamerkan di Bauhaus—sekolah desain terkemuka—pada tahun 1923 dan menjadi ikon nyata visi utopia dari De-Stijl movement, bahkan mendapat cap sebagai kursi pertama yang berekspresi ideologi modern secara radikal. De-Stijl sebagai gerakan puritan seni dan desain, berobsesi mempurifikasi ide tentang seni dan desain dengan hanya menggandeng kubisme abstrak, neo-plastisisme yang dalam citranya berusaha mencari makna honesty dan beauty hingga membawa harmoni dan pencerahan bagi manusia.

Perkembangan selanjutnya terlihat mengalami percepatan, Sekolah seni dan desain Bauhaus diwakili oleh Mies dan Marcel Breuer mengusung Barcelona chair dan Wassily chair, yang juga jadi bahan olok-olokan. Dimana Bauhaus yang merujuk terhadap konsep machine-made ternyata melalui kursi Wassily chair konsistensi tersebut gugur karena proses produksi erat dengan pertukangan (hand-made). Hal ini menjadi sebuah kesimpulan bersama bahwa produksi masinal/fabrikasi yang sebenar-benarnya baru layak apabila mekanisasi-standarisasi telah cukup difahami.

IMG_0645.JPG
Wassily Club Chair no. B3 1925, karya Marcel Breuer

Pada eksibisi Weissenhof, di Jerman, Mart Stam memamerkan pengembangan produk yang pernah sebelumnya ia lemparkan sebagai sebuah gagasan saja, yakni kursi dengan sistem cantilever, sebuah sistem duduk menggantung. Dalam pameran yang sama Mies mengekor dengan idea yang lebih baik, Model No. MR10, dengan material baja tubular. Seterusnya dikuti oleh Cesca karya Breuer, yang memperlihatkan varian dari satu ide yang sama terhadap cantilevered chair. Ide-ide yang lahir melalui sekolah Bauhaus mengarah pada gaya internasional, para dewa-dewa modernisme asal Baushaus tersebut akhirnya bermigrasi ke Amerika dan menularkan faham mereka pada arsitek generasi selanjutnya.

IMG_0646.JPG
Barcelona Chair karya Mies van der Rohe

IMG_0647.JPG
Weissenhorf no. MR. 10 Karya Mies van der Rohe

Sang arsitek legendaris, Le Corbusier berkolaborasi dengan beberapa desainer Perancis, juga turut mencuri perhatian dengan karyanya Gran Confort. Popularitas kursi yang satu ini akrab kita temui dalam film-film produksi Hollywood.

IMG_0695.JPG
Gran Confort no. LC3 1928 Karya Le Corbusier

KURSI-KURSI NEGERI SKANDINAVIA
Lalu kemana para desainer asal negeri Skandinavia yang di era kini dikenal dengan kesempurnaan detail dan finishingnya? Diwakili oleh Alvar Aalto, Bruno Mathsson, Eliel Saarinen, mereka terspesialisasi dalam ciri kayu alami dan bentuk organiknya. Mereka kuat dengan kemampuan mengolah kelenturan kayu, seperti pada Paimio chair. Eliel Saarinen kemudian beremigrasi ke Amerika dan berkesempatan untuk memimpin Cranbrook Academy of Arts, sebuah pendidikan desain unggulan pertama di Amerika kala itu.

IMG_0648.JPG
Paimio Chair no. 41 1931/1932 karya Alvar Aalto

Perang Dunia ke-II memberikan dampak besar bagi industri furnitur, khususnya di Amerika. Peningkatan mutu riset di bidang industri pesawat terbang meningkat secara dramatis dan kemudian terkait dengan industri. Desain dan para manufaktur mendapat kesempatan untuk ikut menerapkan berbagai macam teknologi hasil riset PD ke –II kala itu.

Ilmu interdisipliner benama Ergonomi karya Kaare Klint (1917) yang diperuntukkan bagi militer Amerika dahulu masih prematur, kini berkembang menjadi Human Factor Engineering. Oleh Eames bersaudara konsep-konsep ergonomi tersebut mulai dipraktekkan dan diadopsi, bahkan untuk beberapa produk tertentu dengan teknik pelekukkan 3 dimensional dikonsumsi untuk Angkatan Laut Amerika.

Ketika PD ke-II usai, laju pertumbuhan ekonomi Amerika semakin meningkat sehingga berakibat pada meningkatnya permintaan pasar terhadap furnitur domestik. Ini memberikan kesempatan bagi sebagian arsitek dan desainer untuk memperkaya kemampuannya dengan bereksperimen dalam karya-karya selanjutnya. Seperti Herman Miller and Knoll International, yang sukses hingga mampu memproduksi furnitur modern berkualitas berbiaya murah yang revolusioner.

ERA TEKNOLOGI PLASTIK DAN ERGONOMIC-CONCERN
Ditahun 1950 ditunjang serta dipengaruhi pengaruh Skandinavia terhadap modernisme dan ergonomi serta perkembangan teknologi khususnya industri plastik, Kursi menjadi kompak dalam desain. Dan tidak seperti gelombang modernisme sebelumnya yang mengusung pendekatan terhadap geometrik formalisme maka era 1950 desainer bersukacita dengan kemungkinan mengeksplorasi kontur organik antropometri manusia sebagai pengguna. Seiring dengan pengaruh modernisme Skandinavia, pertumbuhan ergonomi, dan kemajuan teknologi maka bentuk furnitur mulai memasuki era baru yang signifikan yaitu ditandai dengan penelitian intensif Eero Sarinen dan Charles Eames yang berhasil mengembangkan kursi berbahan fibreglass-reinforced plastic. Material yang menunjang bentuk organic sesulit apapun seperti pada Dining Armchair Rod (DAR).

IMG_0649.JPG
Dining Armchair Rod (DAR) karya Charles and Ray Eames

Kemudian dilanjutkan dengan penelitian potensi bahan foam rubber untuk lapisan furnitur oleh desainer Italy, Marco Zanuso yang dianggap sebagai kepercayaan diri baru terhadap ekspresi kursi kala itu. Gubahan masa kursi juga menyerupai karya seni patung adaptif terhadap lekuk tubuh manusia mencirikan titik tanda interior modern.

IMG_0650.JPG
Antropus Chair Karya Marco Zanuso

Riset akseleratif ini memunculkan nama-nama diantaranya adalah Cassina dan Zanotta. Perburuan terhadap kebaharuan definisi duduk memberikan hasil yakni teknik injeksi plastik (injection-moulded plastics) seperti Polypropylene dan ABS, yang langsung diterapkan pertamakali pada produksi furnitur yang merupakan contoh sinergi riset teknologi dan seni di era modern. Ditandai oleh produk kursi karya Marco Zanuso dan Joe Colombo yang berkonsentrasi terhadap material baru plastik sebagai wujud desain kursi modern. Contoh yang amat menarik dapat dilihat juga melalui karya Verner Panton berjudul Stacking Chair dengan sistem kantilever.

IMG_0653.JPG
Stacking Chair karya Verner Panton

ERA POP DAN DURABLE PRODUCTS
Tuntutan-tuntutan selanjutnya pasca Perang Dunia ke-II adalah pemenuhan skala besar produk murah yang dapat di daur ulang (low-cost durable products) untuk kebutuhan sebesar-besarnya. Strategi pemasaran diarahkan menuju pada mutu, efisiensi biaya, universalitas desain. Akibatnya makna ruang dalam arsitektur interior menjadi mengecil karena tujuan multi fungsi atau universalitas desain, dimana fungsi kursi untuk ruang makan, kursi kerja dan ruang santai diperankan oleh tipe kursi yang serupa.

Di era 60-an ketika budaya pop menjadi trend, praktis berefek pula bagi ideologi dan faham baru dalam dunia industri furnitur. Status sebuah kursi diwadahi oleh para avant-garde, dipersepsi serupa menjadi produk sekali pakai/berumur pendek sebagai tekanan gejala konsumerisme yang berfaham bahwa konsumsi tinggi dapat meningkatkan produktivitas dan juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Oleh sebagian tokoh modernisme hal tersebut merupakan short-lived gimmick, bahwa furnitur diasosiasikan sebagai benda pakai permanen dan mahal hingga menjadi perdebatan mereka.

Seterusnya, furnitur tidak lagi dipandang searah sebagai kebutuhan dasar, melainkan juga sebagai pesan dan life-style yang senantiasa cenderung berubah dengan cepat. Sehingga seperti diwakili oleh Peter Murdoch dan Peter Raacke menyikapi kenyataan tersebut dengan melahirkan generasi baru furnitur berbahan cardboard/kardus.

Dan pola kepraktisan lainnya menjadi buah dari semangat konsumerisme ini, contoh lainnya sistem flat-pack dan knock-down yang hingga saat ini punya nilai yang amat strategis terhadap potensi pasarnya dengan merujuk produk-produk asal fabrikan IKEA, Swedia.

Dipicu oleh maraknya suplemen-suplemen majalah berwarna era 60-an, ketegangan booming media yang menyimpangsiurkan segala hal merupakan bentuk kebebasan media yang menjadi-jadi. media promosi seperti iklan yang meluas di Eropa dan Amerika telah menggiring konsumen mengkonsumsi apa yang mereka sukai bukan sesuatu yang mereka butuhkan. Sehingga budaya mengkonsumsi produk-produk furnitur populer yang murah berumur pendek menjadi dominan. Hal ini dianggap sebagai budaya manipulatif media. Kecemasan kolektif dirasakan oleh para industrialis, mereka bereaksi terhadap hal ini guna menentang kemapanan konsumsi budaya pop tesebut. Mereka sadar, diperlukan riset dan pengembangan (R&D) yang beritikad merombak tatanan ini, hingga mulailah bermunculan pabrik-pabrik ide (concept factories) yang dibiayai oleh para industrialis untuk meneliti dan mengembangkan identitas ‘pola duduk baru’ bagi konsumen.

IMG_0651-0.JPG
Child’s Chair karya Peter Murdoch

IMG_0652.JPG
Papp Chair karya Peter Raacke

ERA RASIONALISASI DAN ESTETIKA-MESIN
Krisis minyak dipertengahan tahun 70-an memukul balik popularitas budaya pop konsumerisme. Resesi global tahun 1970 kembali memberi kesempatan kepada para desainer beserta industri untuk memproduksi karya yang sesuai dengan realita ekonomi. Pasar produk kursi berbelok lagi menjadi produk-produk rasional yang memandang kursi sebagai perlengkapan duduk bukan lagi sekedar gaya ataupun trend. Gambaran dari rasionalisme gerakan modern ini ditampilkan melalui kursi karya Rodney Kinsman, Omkstakchair yang disebut-sebut sebagai ekspresi Machine Aesthetic.

IMG_0654.JPG
Omkstak Chair karya Rodney Kinsman

ERA POST-MODERNISME
Namun, tampaknya aspirasi baru mulai terpicu dengan tumbuhnya beberapa grup-grup desain asal Italy yang mengusung ide aspirasi Utopia. Satu sinyalemen lahirnya posmodernisme, grup tersebut merujuk kepada kreativitas spontanitas dan pluralisme filosofis, dimana karya dipandang dengan tanpa basa-basi. Mereka memobilisasi grup anti desain. Studio Alchimia dipimpin Alessandro Mendini me-redesain beberapa karya desainer furnitur sebelumnya dengan mengimbuhkan dekorasi atau ornamen untuk mencirikan matinya era desain modern produk tersebut memang out of context dalam hakikat komersial sehingga lebih merupakan ikon yang memperolok berakhirnya masa modern, pada tahun 1981, studio desain Memphis mempromosikan paradigma anti desain menjadi lebih hangat. Gaya yang sering disebut Memphis ini adalah kursi Mickey Meets Sheraton Chairs.

IMG_0655.JPG
Proust’s Armchair karya Alesandro Mendini

ERA GREEN DESIGN
Di pertengahan 1980, pluralisme desain diperkaya dengan karya-karya desainer muda yang menyertakan kesan-kesan atau kiasan dalam produk mereka seperti karya-karya Ron Arad, Tom Gibson serta Danny lane. Desainer-desainer muda tersebut berkreasi secara independen tanpa melibatkan industri sehingga lebih persis sebagai karya seni fungsional. Masih diera 80-an produk-produk furnitur tumbuh marak mengikuti irama fashion, dan bukan pada pencarian terhadap kebutuhan. Baru kemudian pada 1990 kesempurnaan desain yang rasional baru benar-benar terjadi didukung oleh meningkatnya pemahaman konsumen tentang estetika, stabilitas ekonomi dunia, dan budaya riset yang sinergis dengan seni maka lahirlah karya-karya desainer muda yang unggul sebagai sebuah karya estetik maupun produk yang unggul dipasaran contohnya adalah Philippe Starck dengan Louis 20 chairnya dan juga Alfred Houman dengan Ensamble Chair-nya.

Louis 20 Chair karya Philippe Starck di era 90-an merupakan State of the Art sebuah kursi yang seirama dengan isu penting dijamannya, yakni bagaimana manusia harus bersahabat dengan lingkungan, kursi-kursi karya desainer muda tadi memiliki perhatian terhadap lingkungan dengan cara memanfaatkan material-material yang diproses dengan tidak merugikan atau merusak lingkungan. Era ini desainer berupaya beretika dalam karya-karyanya (The Green Ethic of Design).

IMG_0656.JPG
Louis 20 Chair karya Philippe Starck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s