MADE IN CHINA or SERVICED IN CHINA?

A Short report on Seminar on Small and Medium Enterprises Development for Developing Countries. Ministry of Commerce of the People’s Republic of China

Oleh Deny Willy

Perkembangan Ekonomi China

Dibalik kemajuan ekonomi China, ternyata mereka sendiri sedang bingung karena import China ternyata lebih tinggi dari ekspornya, kenyataan ini sebetulnya bukan fakta baru, karena mereka memposisikan diri sebagai negara dengan production-based, maka resiko ini sudah dapat diduga. Oleh karenanya China pun sedang mempersiapkan take off dari Made in China menjadi Serviced in China. Rencana besar masa depan China yang ingin bergeser dari kelas pekerja menjadi sejajar dengan negara maju, kedepan China akan sejajar dengan dunia barat dengan yang kental dengan knowledge-based-nya dimana pada saatnya China akan dikenal dengan “Invented in China”

Selain menyadari pentingnya project financing dan guarantee system pemerintah China juga menaruh perhatian luar biasa terhadap Innovation Service Platform & System atau R&D Center yang juga menjadi bagian kunci utama strategi menggenjot pembangunan ekonomi melalui SMEs. Banyak sudah upaya yang dilakukan oleh pemerintah China dalam hal tersebut, saya sebutkan saja secara acak:

  1. Memperkuat lembaga riset atau government think-tank tentang SMEs yaitu Academic of Social Sciences, yg membantu pemerintah meriset pasar, product development, dls.Think tank yang menyiapkan strategi dan rencana pengembangan kota-kota andalan dalam Specialized Economic Town (SET), pengembangan sistem klustering hingga ASEAN+3 Countries. Saya jadi teringat ketika belajar One Village One Product (OVOP) di Jepang tahun lalu, boleh dibilang SET adalah Advanced-OVOP ver 2.00, sebuah kota yang mengidentifikasi diri menghasilkan produk-produk khusus. (termasuk obeng-obeng murah, Rolex dan Mount Blanc di emperan pasar kaget Gasibu Bandung). Berbeda dengan SET, kalau OVOP di-driven sama para champions daerah (tokoh yg benenar-benar ulet) lewat ‘movement‘, gerakan idealisme yang betul-betul natural alias kesadaran untuk membangun dan memajukan daerah. Sedangkan kalau di Ningbo, SET dibangun, di-encourage dan diintervensi pemerintah lokal.  40% total suplai dasi di dunia dari kota berkategori SET ini (Ningbo). SET di-endorse dan intervensi pemerintah lokal, jadi para retired dan professor yang sudah kelar masa tugasnya didorong bikin usaha, kalau satu usaha sudah jalan mantap, lanjut bikin yang baru.
  2. Pemerintah China sangat concerned dengan Project Financing, intinya kuantitas dan kuantitas, jadi bank dan lembaga pembiayaan, guarantee body termasuk para kontraktor/pelaksana mendapatkan insentif pajak, dan kemudahan dls dari pemerintah secara khusus, apalagi project dengan labour intensive dan capital intensive. Pemerintah provinsi dan daerah mendapatkan berbagai reward dari pemerintah bila menghasilkan banyak project.
  3. Pemerintah bikin beberapa R&D center di pemerintahan daerah, untuk boosting up their project quantity.
  4. Sosialisasi jargon baru Serviced in China dengan slogan ‘10+100+1000’ yakni outsourcing intermediary service, misal perbankan, investment agency, R&D center dls, yang kira-kira saya tangkap menyiapkan 10 outsourced major overseas company dibangun di China, terus terbangun 100 Supporting Company, dan tercipta 1000 projects (keyword: China dapat ilmu service dan dapat proyek).
  5. Para profesor dan profesional yang sudah retired juga diencourage oleh pemerintah untuk menjalankan State-Own Enterprise (SOE) walau voluntarily tapi China tidak mau tenaga-tenaga bagus tersebut berhenti berkarya, beberapa perusahaan yang telah maju kemudian dilepas dan Profesor atau profesional tersebut pindah lagi untuk merintis dan memajukan perusahaan yang lainnya.
  6. Stimulus pemerintah China untuk membantu SMEs adalah:
    1. Start-up SMEs (registered) tidak perlu bayar pajak 1 sd 2 tahun pertama.
    2. Income Tax perusahaan dibedakan (roughly):

mikro:         3%
menengah: 17%
besar:         20% dan 25%
juga dilihat dari apakah perusahaan tersebut basisnya high technology atau bukan

c.   pemerintah China juga siapkan:
– Promotion & management yang berorientasi pada listing/IPO di Bursa
– Training SDM gratis
– Technology Inovation training
– Overseas bidding

– dan masih banyak lagi
d.  Ada juga special Fund untuk start-up fund, development fund, dll.
e.  Pajak sangat customized, tidak pukul rata.

Pada saat krisis ekonomi 2008, China juga buat strategi stimulus khususnya tax exemption (keringanan pajak), pengusaha boleh delay social securities fund, dan bagi perusahaan yang tidak sanggup bayar karyawan, melalui dana social securities fund pemerintah mensubsidi!… dan tentu stimulus pengurangan pajak.

Strategi mengatasi krisis lumayan berbeda dengan  di Indonesia waktu krisis Ekonomi 2008, kalau di Indonesia kelihatannya lebih makro policy-nya.

Perlu di ketahui pula bahwa standar/skala Usaha Kecil & Menengah di  masing-masing negara tentu akan berbeda.  Skala Small dan Medium Enterprises di China juga jauh berbeda dengan di Indonesia, kategori untuk Usaha Kecil (Small) jumlah employee max 300, capital +/- 3 milyar rupiah, dan Sales/tahun +/- 30 milyar.

Factory Visit

Kami sangat beruntung mendapatkan kesempatan mengunjungi kota-kota unggulan atau kota industri di China, Ningbo salah salah satunya. Ningbo merupakan kota yang terletak di sebelah timur RRC.  Kota ini merupakan kota industri Tiongkok, dan salah satu yang tertua. Sejarahnya dapat ditarik ke 7000 tahun yang lalu. Kota mensuplai 40% dasi di dunia, topi, jam tangan, sepatu dls. Jadi kota ini memproduksi berbagai macam produk dari produk seperti topi hingga peralatan electronic, home appliances, dls.

Salah satu factory visit kita di Ningbo adalah SMAL Industry adalah salah satu factory yang kita kunjungi, dari sini saya bisa lihat proses pembuatan barang-barang elektronik yang dikerjakan secara cepat dan (maaf) ringkih-ringkihnya kelihatan. Saya sering beli produk china yang murah-murah, bisanya di beberapa komponen sambungan (joinery system) suka dol, aus atau mudah lepas). Nah ketika lihat ini jadi sadar betul, mutu material, konstruksi rangkaian, jelas ringkih. Salah satunya saya coba pegang dan cek kekuatan komponen plat pada produk pemanggang roti wah memang rasanya teralalu tipis platnya, dan ketika dirangkaikan, mudah sekali terlepas. Tapi dari presentasi sebelumnya dapat disimpulkan bahwa, produk-produk ini memiliki pasarnya sendiri.

Yuyao, merupakan kota lain yang kita kunjungi, Yuyao adalah kota no. 10 dari top 100 cities and towns yang menyumbang GDP di China secara signifikan. Kota ini juga dikenal sebagai China Plastic City, karena perdagangan bahan baku plastik di dunia ada di kota ini, ribuan papan reklame usaha dagang bahan plastik seperti ABS, PU, dls bertebaran di seluruh kota.

City Tour

Selain lecture, dan field visit kita juga berkesempatan mengunjungi Museum, selain belajar tentang industri kecil, menengah dan clusternya (SMEs, Industrial Cluster dan Specialized-Economic Town) kita juga diajak mengunjungi Museum Sutra di Hangzhou, dari sini bisa membayangkan jalur perdagangan masa lampau yang terkenal yakni Jalur Sutra (The Great Silk Road) merupakan alur perdagangan para pedagang sejak abad ke-2 sebelum Masehi sampai dengan abad 16 Masehi. Jalur yang sangat terkenal ini menghubungkan Cina dan Kerajaan Romawi sepanjang 7.000 kilometer lebih. Dinamakan jalur sutra karena barang utama yang diperdagangkan lewat jalur ini awalnya adalah sutra Cina. Namun seiring waktu barang yang diperdagangkan berkembang perhiasan, emas, besi, dan lainnya. yang menghubungkan perdagangan trans-asia dan eropa.

Selanjutnya kita mengunjungi situs penggalian arkeologi Situs Hemudu di teluk Hangzhou, provinsi Zhejiang yang berumur 7000 tahun. Asal usul bangsa China dapat diliat disini, bagaimana teknologi mereka yang cukup maju dibidang pertanian. Sejak ribuan tahun lalu.

Selain kunjungan tersebut kami berkesempatan mengunjungi situs wisata lain beberapa diantaranya adalah Beijing Olympic Park 2008 yang dikenal dengan Bird’s Nest Park dan juga Badaling/The Great Walls dan The Forbidden City.

Ekonomi Luar Negeri

Foreign Direct Investment (FDI) dari China ke berbagai negara di dunia menjadi salah satu bagian yang paling mereka banggakan. Beribu proyek dengan nilai investasi besar mereka kerjakan untuk pembangunan infrastruktur di berbagai belahan dunia, termasuk didalamnya pembangunan Jembatan Suramadu.

Direktur FDI, dari Ministry of Commerce menyampaikan bahwa “Proyek dan mimpi besar Indonesia selanjutnya adalah pembangunan jembatan Sumatera-Jawa, dan ia berujar “semoga bisa bekerjasama lagi dengan China kedepan”… kalau bisa sih jangan berhutang lagi…😀

Demikian cerita hangat dari saya…  Nihao!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s