SEJARAH AWAL PERDAGANGAN INTERNASIONAL KURSI ROTAN

‘The Early Development of English Rattan Seated Chairs’
(karya Dr. Andrew J. Cookson & Prof. Ishimura Shinnichi)
disarikan oleh Deny Willy

Junaidy, D. W. (2011). Sejarah Singkat Awal Perdagangan Kursi Rotan Internasional, (A research of Andrew J. Cookson & Ishimura Shinnichi). Rattan Icon Magazine, Vol. 2.

Menjadi mahasiswa riset (kenkyuusei) di Lab. Sejarah dan Budaya Desain di Kyushu University, Jepang dibawah bimbingan professor Ishimura Shinnichi, pakar sejarah desain furnitur dan kerajinan menjadi pengalaman sangat berharga. Saya diminta memberikan masukan bagi penelitian seorang mahasiswa doktoral yang juga historian furnitur. Penelitian disertasi  Andrew J. Cookson tentang ‘The Early Development of English Rattan Seated Chairs’ yang dilakukan dengan observasi ke beberapa museum di Cina, Jepang, Indonesia, Inggris dan Belanda. Saya ikut menyaksikan bagaimana Ia berjuang keras dengan berbagai literatur kuno berkarakter kanji Cina dan Jepang dalam menghimpun data, dan pada akhirnya, sisi lain dari penelitian tersebut mencatat kronologi awal industrialisasi rotan di Hindia Timur termasuk di Indonesia.

Periode awal aplikasi anyaman rotan

Pada satu catatan tentang ekskavasi di Provinsi Henan, Cina dituliskan temuan berupa ba jiao kong yan wen (八角孔眼纹) atau pola anyaman 6 arah (6-way pattern/diamond) menggunakan material menyerupai bambu yang tercetak dengan baik pada artefak gerabah dari era dinasti Shang (1766-1050 SM), disebutkan bahwa teknik menganyam yang tercetak pada artefak tersebut membuktikan bagaimana teknik ini telah dikuasai dengan baik oleh bangsa Cina. Walau belum tersedia bukti piktorial terhadap aplikasi pola anyaman 6 arah sebagai alas duduk pada era tersebut, namun temuan tersebut menjadi indikasi bahwa anyaman pola 6 arah dari Cina menjadi satu-satunya jenis anyaman yang diadopsi Eropa pada periode awal perdagangan internasional kursi dengan anyaman rotan (Gambar1.)

Image

Melalui sebuah literatur, anyaman rotan dalam konteks alas dudukan juga telah ada sejak Dinasti Liao (916-1125) dalam puisi Sushi (蘇軾) dimana pada salah satu baitnya tertulis bahwa si penulis terbaring diatas tempat tidur dengan anyaman rotan. Bukti-bukti lainnya tentang awal mula anyaman rotan dituliskan pada buku instruksi manual ahli kayu Cina yang terkenal Lu Ban Jing (魯班經) tentang teknik anyaman rotan yang dililitkan pada struktur rangka atap tempat tidur.

Cukup menarik, Jepang, dimana bahan baku rotan bukan merupakan potensi sumberdaya alamnya justeru menjaga dengan baik contoh-contoh awal artefak kursi dengan dudukan anyaman rotan dengan palang sandar bergaya torii-gate jepang, artefak kursi berusia sangat tua tersimpan dengan baik dalam koleksi di beberapa museum, salah satunya koleksi Shōsōin periode Nara abad 710-794 (Gambar 3) hingga catatan administrasi pelabuhan di Hirado Jepang tentangn arus masuk komoditi perdagangan termasuk rotan (Tabel 1). Dari koleksi preservasi Chinese Craft di Japanese National Heritage Collection memperlihatkan bahwa rotan kupas untuk anyaman dan lilitan telah populer digunakan kemungkinan sebelum abad ke-8.

Image

Image

Image

Periode awal komersialisasi rotan sebagai komoditi perdagangan

Pada awalnya material rotan belum dianggap sebagai komoditas bernilai dalam sejarah okupasi dan perdagangan bangsa Eropa di belahan Hindia Timur, walaupun material rotan juga dibungkus dan dipak seperti barang lain yang diperdagangkan namun bahan rotan tidak dianggap produk komersil sehingga selama berada pada pelayaran maka kumpulan rotan tersebut dimanfaatkan sebagai balas (penyeimbang) yang ditempatkan pada lambung kapal.

Ketika Perusahaan English East India Company merapat pertamakali di pelabuhan Hirado, Jepang, di sebelah barat laut Pulau Kyushu pada 1613-1623 sempat dicatat oleh John Osterwick, staff dari pos dagang tersebut tentang rotan yang diperdagangkan pada September 1615 tertulis ‘rotane…bundells’ yang kemungkinan dikapalkan dari Batavia (Jakarta) dengan kapal berjuluk Hoziander dimana selanjutnya dikirim kepada pedagang Cina sebagai bahan dasar pintalan kawat tali. Penggunaan rotan oleh penjelajah Cina sebagai tali kawat pengikat kapal yang berlabuh dengan reputasi daya tahannya terhadap beban, sifat kedap air, daya apung, demikian selanjutnya rotan semakin populer turut digunakan untuk tali berlabuh bagi kapal-kapal Eropa.

Disebutkan dalam sebuah catatan oleh Georg Meister, seorang berkebangsaan Belanda di Jepang pada 1682-1685 yang memiliki catatan administrasi tentang perdagangan di Dejima. Ia mencatat penjualan 30 buah stik tongkat rotan dilengkapi dengan sebuah lambang perusahaan yang dicetak timbul (jockadeki/rottangth met silver beslach), dalam catatan tersebut juga tertera bahwa tongkat rotan tersebut diimpor dari Batavia. Demikian pula catatan perdagangan Belanda di kepulauan Formosa (Taiwan) menuliskan impor produk sejenis tongkat rotan ‘Javanese Rottangth’ juga dengan lambang pada pada bagian pegangan yang digunakan  sebagai simbol seremonial bagi otoritas belanda di wilayah tersebut.

Image

Awal apresiasi rotan untuk produk gaya hidup

Sejarah perdagangan rotan sebagai bahan baku dan produk memiliki keterkaitan yang sangat kuat terhadap ekspansi dagang dan industri bangsa Eropa khususnya Inggris (English East India Company), Belanda (Dutch East India Company/VOC) serta diaspora Cina pada berbagai pos dagang Eropa di Hindia Timur seperti Indonesia, Srilanka, India, Taiwan, dls. Berbagai literatur tentang ekspansi dagang Eropa di Hindia Timur, istilah cane chair bermakna sebagai payung istilah dari berbagai produk dari keluarga tumbuhan rerumputan seperti bambu, rotan, ilalang hingga tanaman rambat yang berupa kursi, keranjang, dls.

 a. Pengaruh Cina terhadap inovasi material rotan  

Seiring dengan ekspansi perdagangan Eropa di belahan Hindia Timur, diaspora Cina melalui misi dagang dan keberadaan tenaga terampil bangsa Cina di pos-pos dagang Eropa sepanjang pantai Coromandel hingga Indonesia merupakan transfer pengetahuan masif dari bangsa Cina kepada penduduk lokal. Gaya kursi dinasti Ming dengan dudukan dan sandaran anyaman rotan menyebar dan terbawa meluas ke Eropa.

Fakta tentang bangsa Cina telah mulai menggunakan kursi duduk, menjadi penting diinformasikan untuk memberikan gambaran bahwa selain keterampilan teknik juga gaya kursi Cina pada masa dinasti Ming juga turut mempengaruhi perkembangan gaya kursi bagi bangsa Eropa. Kursi gaya Ming dengan sandaran punggung kurva S (Gambar 5) merupakan representasi kemodernan Cina yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kursi di Inggris. Queen Anne, kursi dengan sandaran berbentuk vas yang popular di inggris dan daerah-daerah koloni Amerika utara adalah contoh dari inspirasi kursi pada dinasti Ming (Gambar 5a & 5b) baik styling maupun adopsi anyaman rotan. Seorang tokoh Taiwan, Fang Hai menerapkan anyaman pada sandaran punggung kurva S pada kursi Ming yang menjadi arus baru inovasi adopsi rotan. Sebelumnya sandaran punggung pada kursi Inggris hanya diisi dengan kulit atau bordir turki (turkey works). Penggunaan anyaman rotan pada sandaran punggung menjadi inovasi sekaligus genre baru pada industrialisasi kursi.

 Image

Image

b. Pengaruh era okupasi English East-india Company

Selain gaya kursi Cina era akhir dinasti Ming atau awl dinasti Qing yang memberikan pengaruh adopsi rotan pada produksi kursi Eropa, beberapa historian furnitur juga memiliki kesimpulan lain terhadap momen penting masuknya rotan pada kursi-kursi Eropa. Seperti coba David Dewing, direktur Geffrye Museum, Inggris menduga ‘borhas’, sebuah alat duduk sederhana untuk menopang ketika jongkok berbentuk drum (Stool) berbalut anyaman rotan dari bagian selatan India menjadi satu inspirasi adopsi rotan bagi kursi Inggris pada masa okupasi Inggris di Hindia Timur.

Dari banyaknya peristiwa sehubungan dengan adopsi rotan pada kursi-kursi Eropa, peristiwa menarik dibalik peningkatan ekspor impor rotan dalam Industri furnitur di Inggris adalah bersamaan dengan upaya membangkitkan optimisme industri di London atas tragedi kebakaran besar di London pada 1666 yang membumihanguskan banyak pabrik di Inggris. Optimisme industri tersebut disebutkan menjadi awl keterbukaan munculnya bentuk kursi yang lebih sederhana termasuk menerima ide-ide dari timur seperti pilinan spiral (spiral baluster) sekaligus penggunaan anyaman rotan. Peristiwa lain yang paling menarik adalah protes asosiasi industri fabrikasi bahan pelapis (upholstery) yang ketika itu terpuruk karena popularitas anyaman rotan sebagai substitusi pelapis dudukan wol. Petisi asosiasi industri wol  (London’s Joiners Company) pada 1689/90 memprotes popularitas penggunaan anyaman rotan yang dianggap menghancurkan industri wol yang kala itu menjadi pilihan utama bahan pelapis kursi. Sebagian petisi tersebut berbunyi ”…dudukan kursi dengan bahan rotan Hindia (Indian canes) semakin banyak digunakan; konsumsi wol Inggris, sutra dan kulit dari Russia demikian pesat menurun; dan lebih dari 50.000 pekerja dibidang ini kehilangan pekerjaan…”. Maraknya produksi kursi rotan (cane chair) dengan puluhan ribu kursi termasuk stool dan sofa diproduksi di Inggris setiap tahun dan lebih dari 2000 lusin setiap tahun dikirim ke berbagai daerah di dunia, fleksibilitas rotan pada daerah berkelembaban tinggi jelas mengungguli wol.

Kepopuleran kursi anyaman rotan dengan penampilan stylish dan ringan ini merupakan terobosan dari gaya furnitur inggris periode sebelumnya yang berat, masif. Perkembangan selanjutnya hingga akhir abad ke-17 diwarnai dengan peninggian sandaran punggung, penempatan palang mahkota dengan ornamen ukir berupa malaikat kecil memegang mahkota (boyes and crowne) dilengkapi anyaman rotan pada dudukan dan sandaran yang sangat fashioned ketika itu.Image

c. Pengaruh era okupasi Dutch East-india Company (VOC)

Persaingan ekspansi perdagangan internasional Eropa di Hindia Timur (East India) pada awl abad ke 16 membentuk jaringan distribusi geografis dari pabrik-pabrik asing di wilayah timur dan Asia Tenggara dengan berbagai bangsa bekerja pada industri ini yang menjadi dasar kompleksitas bertemunya berbagai pengaruh seperti ukiran, anyaman, lacquer, motif, dll.  Komponen furnitur oleh bangsa Eropa dikirim ke Timur kemudian diberi anyaman dan dikirim ke Negara-negara Eropa. Meskipun tercatat pula batang rotan yang diekspor dari Hindia Timur ke Eropa selanjutnya dikupas menjadi kulit siap anyam setibanya di London.

Volume perdagangan di Hindia Timur meningkat tajam, dimana kursi-kursi anyaman dibawa oleh kapal-kapal dagang melalui pos-pos dagang mulai dari Batavia, pantai koromandel, Surat, Bombay, Madras, dll. Melalui survey terstruktur berbagai kursi-kursi dengan dudukan ratan di berbagai koleksi di Inggris dan Indonesia maka gaya kursi pesisir (Coastal chair) dengan bahan kayu gelap ebony yang diekspor dari Hindia Timur (Pantai Coromandel, Srilanka dan Maluku, Indonesia) merupakan bibit kursi generasi industri pertama dari Hindia Timur. Kursi pesisir kayu ebony (Mollucan chair) dengan anyaman rotan yang di bawa melalui kapal melalui pelabuhan dan pos-pos dagang Belanda di pesisir Jawa selama 350 tahun okupasinya di Indonesia. Sentra industri ukir kayu di Jepara, yang mereproduksi Kursi Indo-Dutch & Indo-Portuguese dengan dudukan dan sandaran anyaman diekspor dengan volume yang tinggi khususnya ke Inggris dan Belanda. Melalui tulisan singkat ini, nampak bahwa rotan telah menjadi komoditi industri internasional sejak tahun awal abad 1600, dimana bangsa-bangsa Hindia Timur termasuk Indonesia, memberikan pengaruh besar bagi perkembangan perdagangan global.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s