Featured

MENGUKUR KESAN DESAIN

oleh Deny Willy

Kesan Desain

Menurut Krippendorff (2006) desain yang unggul adalah desain yang memiliki kepantasan sebagai sebuah artefak yang didasari metodologi desain dan berorientasi pada pengalaman serta impresi pengguna. Sebuah desain mengandung banyak makna interpretatif, baik makna guna-pakai dan makna terkesan (true impression) yang terakumulasi melalui kesan awal (surface impression) hingga kesan mendalam (in-depth impression). Lakoff (1987) mempelajari rasa terkesan sebagai sebuah skema makna dan kesan. Skema tersebut ditampilkan dalam struktur makna dasar seperti atas-bawah, jauh-dekat atau dalam-luar. Himpunan makna asosiatif/metaforis yang luar biasa jumlahnya menggambarkan kerumitan kesan bagi manusia. Mengetahui struktur kesan berarti memahami pengetahuan mendalam (profound understanding) manusia terhadap obyek (Spranger, 1921).

Karakteristik desain kreatif menaruh perhatian terhadap kedalaman sebuah kesan terhadap obyek (Rosenmann, Gero, 1993) (Cross, 2006). Diperkuat oleh Fukazawa (2007), desainer yang unggul sangat memperhatikan makna mendalam dari obyek desain. Desainer kreatif merupakan seorang yang cakap dalam menerawang kesan mendalam (in-depth impression) arketip obyek (mother figure) sehingga karyanya berhasil memberikan kesan bagi pengguna. Dalam sebuah diskusi tentang “deep impression” di Jepang, tahun 2008, Naoto Fukusawa, desainer produk ternama di Jepang mengungkapkan: “Saya selalu mempertimbangkan apa yang pengguna inginkan walau para pengguna tidak mampu mengekspresikan apa yang mereka inginkan. Saya mencoba mencari arketip (mother figure) yang menampilkan relasi fundamental antara manusia dan produk.” Arketip (archetype) adalah kecenderungan tak terpelajari dalam mengalamai hal-hal tertentu dan tidak memiliki memiliki bentuk namun berlaku sebagai “organizing principle” terhadap hal yang kita lihat atau lakukan (Boree). (Contoh ketakterdugaan lihat: skytype Lisa Rienermann)

Studi-studi tentang kesan mendalam untuk mendeteksi proses kreatif telah dilakukan oleh Nagai, Georgiv, Taura (2010) yang meyakini bahwa kesan mendalam (in-depth impression) berhubungan erat dengan pengetahuan mendalam (profound understanding). Mempelajari pengetahuan mendalam terhadap obyek sama dengan mempelajari kreativitas dan metodologinya.

Metode Pengukuran dengan Semantik Diferensial

Bersamaan pada saat seseorang kontak dengan obyek, maka ia menyerap dan mengkonstruksi informasi. Pagi hari, ketika terbangun dari tidur, berbagai indera segera mengkalibrasi perannya masing-masing. Obyek yang ada di sekitar dengan segera diserap menjadi informasi melalui penglihatan, perabaan, penciuman, pendengaran, pengecapan yang menjadi afeksi, kesan, hasrat, emosi (deLancey, 2002) (Picard, 1997). Salah satu respon manusia terhadap obyek atau artefak adalah respon semantik. Baumgarten (1750) dalam bukunya Aesthetica memperkenalkan tentang sains kesadaran sensual atau ‘Wissenschaft der sinnlichen Erkenntis (cognitio sensitiva)’ yang menjadi awal mula studi saintifik tentang kesan terhadap obyek. Hingga kini terdapat beberapa metodologi memahami kesan manusia terhadap obyek, seperti metode Semantic Differential/SD (Osgood et al., 1957), Semantic Description of Environment (Küller, 1975), Kansei Evaluation (kepekaan, emosi dan perasaan) (Nagamachi, 1989).

Semantic Differential method (SD) berupaya mengukur kesan pengguna terhadap produk dengan fokus pada nilai frekuensi melalui skala 1-5 atau 7. SD memang mampu menjelaskan perbedaan kesan terhadap sebuah obyek, namun bersifat ad-hoc (pada saat itu) karena obyek yang akan dievaluasi harus ada di hadapan pengguna. Studi Wikström (2002) membuktikan hasil evaluasi kesan Semantik Diferensial (SD) melihat dan menggunakan kompor berbeda secara signifikan. SD tidak dapat menggali sensitivitas laten atau kesan mendalam (in-depth impression) apalagi menangkap struktur dari kesan. Oleh karenanya Yamamoto, et al., (2009) meyakini bahwa SD hanya mampu menggali kesan awal (surface impression). Beberapa teori lain seperti teori samar (fuzzy theory) Rough Set juga mencoba menggali lebih khusus tentang kesan namun masih belum dapat menggali kesan mendalam (in-depth impression).

Georgiv, et al. (2008) mengembangkan teori untuk menggali kesan melalui ekspresi eksplisit pengguna (kata-kata) yang diproses dengan metode network analysis dengan memanfaatkan basis data kamus makna asosiatif. Teknik ini dinamakan Analisa Jaringan Konsep Asosiatif (Associative Concept Network Analysis) yang menjadi protokol baru dalam mengkaji kesan mendalam (in-depth impression) pengguna terhadap obyek. Sensitivitas laten berupa kesan mendalam (in-depth impression) yang tidak dapat terungkapkan secara eksplisit oleh pengguna muncul dalam struktur koneksi kesan mendalam.

Metode pengukuran dengan Jaringan Konsep Asosiatif

Georgiev & Nagai (2011) menegaskan bahwa evaluasi terhadap obyek berupa kritik dan apresiasi hanya mengandung unsur kesan awal (surface impression). Ekspresi eksplisit (kata-kata) dari pengguna merupakan kumpulan makna asosiatif (konotatif, kolokatif, stilistik/sosial, afektif, reflektif) bukan makna leksikal. Analisa Jaringan Konsep Asosiatif mengungkap struktur kerumitan koneksi mental atau kesan manusia (profound understanding) terhadap arketip obyek (mother figure).

Berikut merupakan perbandingan metode SD dan Analisa Jaringan Konsep Konsep Asosiatif (Associative Concept Network Analysis) dalam mengevaluasai kesan seseorang terhadap obyek.

1. Contoh Sederhana Semantik Diferensial (Semantic Differential):

Seperti pada umumnya metode SD, pemilihan pasangan kata sifat (comfortable – uncomfortable, dls) sifatnya interpretatif dari kata yang mengandung dimensi EPA; Evaluasi (perbandingan baik/buruk), Potensi (perbandingan kuat/lemah), Aktifitas (perbandingan stimulus aktif/pasif). Pemilihan  kata sifat yang umum dilakukan pada metode Semantik Diferensial (SD) cenderung hanya kesan awal (surface impression) yang subyektif. Semestinya kata sifat (adjective pairs) yang digunakan sebagai atribut scoring/rating menggunakan kata yang bersumber dari kesan mendalam (in-depth impression) terhadap obyek yang diperoleh satu tahap sebelum melaksanakan teknik SD (lihat dibawah: Concept Network Analysis).

Contoh sederhana kasus pengukuran kesan 3 kelompok warna bahan tekstil (Pink, Saxe Blue, White) dengan metode SD.


2. Contoh Sederhana Analisa Jaringan Konsep Asosiatif (Associative Concept Network Analysis):

Berikutnya, dengan mengetahui kesan mendalam (in-depth impression) maka kata-kata kesan yang terinvestigasi tersebut layak digunakan sebagai variabel pasangan kata sifat (bipolar) untuk melaksanakan evaluasi SD. Contohnya, ketika hendak mengukur cinta kita kepada seorang ibu menjadi tidak reliabel jika pemilihan kata ajektif bipolar dipilih secara interpretatif, contohnya mengukur atribut cinta kepada ibu: lembut-kasar, hemat-boros, cantik-buruk, dls.

Concept Network membantu kita mendapatkan atribut kata jauh lebih reliable. Misalnya, setelah pengukuran melalui Concept Network kesan mendalam (in-depth impression) anak terhadap terhadap seorang ibu adalah: rawat, tampung, taung yang selanjutnya baru pantas digunakan menjadi kata adjektif bipolar untuk rating pada Semantik Diferensial cinta anak kepada ibu: (rawat-abai), (tampung-gelontor), (menaungi-menelantarkan). Atribut pasangan kata sifat (bipolar) untuk melaksanakan evaluasi SD tersebut menjadi representasi sejati dari kesan terdalam yang akan diukur dari sebuah artefak/obyek.

Ilustrasi sederhana dibawah merupakan struktur kesan (in-depth impression) mendalam subyek terhadap sebuah cangkir (cup). Sebelum mengukur kesan manusia terhadap cangkir dengan metoda SD, terlebih dahulu perlu dilakukan analisa kesan mendalam  terhadap cangkir tersebut (contoh kesan mendalam terhadap cangkir (cup): alas, wadah, pegangan, tunggu, berat,  dls). Kata-kata tersebutlah yang sejatinya digunakan pada pasangan kata adjektif dalam pengukuran Semantik diferensial.

Associative Concept Network Analysis